spot_img
Senin, Maret 16, 2026
spot_img
spot_img

Peristiwa Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Operasi Intelijen Berdarah Dingin

Oleh : Sutoyo Abadi 

KNews.id – Jakarta 16 Maret 2026 – Peristiwa penyiraman air keras Andrie Yunus terjadi tanggal 12 Maret 2026. Operasi intelijen berdarah dingin yang dirancang rapi sama elit negara buat mehabisi nyawa dan mental orang yang berani memberikan lawan mereka.

- Advertisement -

Siapa Andrie Yunus  sebenarnya. Dia itu bukan sekadar aktivis yang cuma modal toa teriak-teriak di depan istana. Andrie Latar belakangnya alumni Sekolah Tinggi Hukum  ( STH  ) Indonesia Jakarta, mantan pengacara publik LBH Jakarta.

Portofolio dia itu spesifik mengkritisi anatomi pertahanan, intelijen, sama reformasi sektor keamanan. Buat para penghianat negara dan politisi busuk  orang model Andrie ini bukan cuma kerikil dan duri bagi mereka dianggap bom waktu yang nempel dan bisa menggoyang bahkan menghancurkan kursi empuk mereka.

- Advertisement -

Kejadian bulan Maret 2025, “Aksi Geruduk Fairmont”, Andrie inilah tokohnya. Waktu itu, anggota DPR sama perwira-perwira tinggi militer lagi asyik rapat tertutup di Hotel Fairmont. Hotel mewah, AC dingin, kopi mahal, tiba-tiba Andrie dan kawan-kawan masuk, nginterupsi secara fisik, mengacak-ngacak rapat elit tersebut.

Tindakan Andrie itu bukan sekadar protes demokrasi, juga mengkoreksi atas penghinaan langsung ke jiwa korsa dan marwah institusi mereka sendiri.

​Andrie juga menghajar Revisi UU Polri. Dia telanjangi pasal-pasal siluman yang ngasih polisi wewenang intelijen serabutan yang bakal tumpang tindih sama BIN. Kasus ini oleh Andrie dibawa ke ranah Judicial Review di Mahkamah Konstitusi.

*Dia ngancurkan deal-dealan kartel politisi di Senayan. Dan dia bikin aparat intelijen teritorial ngerasa terus-terusan ditelanjangi sama KontraS. ​Dari sinilah, mesin teror itu mulai dinyalkan*

Andrie langsung masuk radar sebagai High-Value Target atau target bernilai tinggi buat dihabisi. Pertengahan Maret 2025, Andrie mulai diteror telepon tengah malam, termasuk rentetan panggilan WhatsApp.

Nomor-nomor yang masuk ternyata terafiliasi sama nama “Deninteldam Jaya” dan “Cakra 45”. Lo nama intelijen militer dipakai buat neror orang.  Entah mereka emang ceroboh atau memang sengaja unjuk gigi ngasih pesan “teror untuk Andrie”

- Advertisement -

Terornya naik level pada tanggal anggal 16 Maret 2025 dini hari, ada tiga cowok berbadan tegap, potongannya cepak khas aparat, datang ke gerbang KontraS. Modusnya klasik, ngaku-ngaku wartawan, padahal dari gerak-geriknya kelihatan sedang melakukan pemetaan gedung dan memberi pesan “chilling effect” (rasa takut).

Mereka me geolokasi ponsel Andrie secara real-time lewat jaringan menara seluler (BTS). Mereka lagi memastikan perangkatnya aktif dan mancing kordinat akurat pergerakan Andrie. Fasilitas sadap secanggih ini sudah pasti bukan preman terminal yang main, tapi entitas yang punya akses ke alat negara atau sponsor intelijen korporat yang modalnya triliunan.

Pada fase persiapan akhir mereka di tanggal 9 sampai 12 Maret 2026. Tiba-tiba handphone Andrie dihajar sama rentetan panggilan spam dari nomor nggak dikenal. Modusnya macam-macam.

Peristiwa  penyiraman air keras tanggal 12 Maret 2026 ini bukan kejadian spontan. Semua udah dipersiapkan berbulan-bulan, ( dalam intelijen kita ketahui ada yang namanya Intelligence Cycle )

​Tibalah di hari eksekusi. Kamis, 12 Maret 2026. Timeline pergerakan Andrie hari itu bener-bener udah dikunci rapat sama tim surveillance mereka. Jam setengah empat sore, Andrie cabut dari KontraS ke kantor Celios di Menteng. Jam delapan kurang, dia pindah lagi ke kantor YLBHI di Diponegoro.

​Tim eksekutor pasti udah standby di luar radius YLBHI, mungkin nongkrong di kantong parkir sekitaran Megaria atau RSCM. Pas jam 11 malam Andrie keluar naik motor Yamaha Aerox kuning. Spotter atau pengawas lapangan langsung ngasih kode ke tim eksekutor bermotor.

Andrie sempat mampir ke SPBU Cikini buat ngisi bensin. Ini jadi jeda waktu emas buat komando lapangan ngatur titik penyergapan. Arahnya udah kebaca ke Salemba. ​

Jam 23:37 WIB, di Jalan Salemba I arah Jembatan Talang yang remang dan sepi, operasi pencegatan itu dieksekusi dengan sempurna. Ada dua orang boncengan naik motor matik, kemungkinan besar Beat atau Vario hitam. Kenapa milih motor pasaran gitu. Biar blending sama jutaan motor lain di Jakarta, biar nggak gampang dilacak dari rekaman CCTV ETLE atau jalanan.

​Nah, di titik ini pelaku melakukan manuver bukannya nyalip dari belakang, mereka malah putar balik (U-Turn) dan sengaja melawan arus (contraflow) mendatangi Andrie dari arah depan. Ini perhitungan taktis yang sakit jiwa. Kalau dari depan, target akan kaget dan nggak punya ruang buat bermanuver menghindar.

Dan yang paling penting, dengan contraflow, motor pelaku udah ngarah lurus ke rute pelarian utama di Jalan Salemba Raya. Habis nyiram, tinggal narik gas lurus, nggak perlu buang waktu dan risiko jatuh buat muter balik lagi. ​Pas motor mereka berpapasan di jarak ekstrem, penumpang yang di belakang—yang wajahnya ditutup buff item—nyiram cairan kimia berbahaya ke Andrie.

Mereka nggak pakai botol air mineral atau plastik klip. Mereka bawa air keras itu pakai gelas stainless steel. Karena cairan ini konsentrasinya tinggi banget, entah asam sulfat atau nitrat pekat. Kalau ditaruh di plastik biasa, bakal langsung meleleh hancur di tangan pelakunya sendiri.

​Andrie jatuh nahan sakit yang luar biasa. Kulitnya melepuh instan karena reaksi eksotermik. Luka bakarnya sangat parah, 24 persen di wajah, dada, mata kanan, dan kedua lengan. Sekarang aja dia masih nunggu operasi cangkok membran amnion di matanya biar nggak buta permanen.

​Di tengah kekacauan dan Andrie yang lagi njerit kesakitan di aspal itu, ada satu momen yang jadi kunci pembuka semua misteri kejahatan ini. Dari dekat lokasi kejadian, tiba-tiba ada suara pria berkepala agak plontos nanya lantang ke Andrie.

Pertanyaannya bukan “Mas kenapa?”, bukan _”Awas ada begal!”. Pertanyaannya adalah: “Ini dari KontraS ys, Ini dari LBH yah”_

Dalam operasi contracted violence atau pembunuh bayaran, itu namanya proses Validasi Sasaran atau Battle Damage Assessment (BDA). Si pria plontos ini adalah agen pihak ketiga, handler yang tugasnya murni cuma mastiin ke bos pemodal kalau eksekutor bayaran di jalanan tadi nggak salah nyiram orang!

Analisis dari unit semacam BAU di FBI aja ngelihat ini murni kerjaan Organized Offender yang pakai sistem komando terkompartementalisasi. Artinya, ada tembok pemisah (firewall) antara otak kejahatan yang punya duit dan kuasa, sama preman jalanan yang narik pelatuk—atau dalam hal ini, melempar air kerasnya.

​Terus kenapa harus air keras. Dengan air kerana itu barang gampang dicari, banyak di industri sablon atau pembersih noda. Pelacakannya setengah mati susahnya.

​Dan yang lebih sadis, air keras itu bukan buat membunuh cepat. Senjata ini didesain secara sosiologis buat membentuk “Monumen Berjalan”. Pelakunya mau ngubah Andrie jadi pesan hidup. Pesan teror fisik yang bakal dilihat sama semua aktivis, jurnalis, dan mahasiswa yang berani ngelawan pemilik modal dan kekuasaan.

Dari kasus penculikan 98, pembunuhan Munir, penyiraman Novel Baswedan, sampai sekarang Andrie Yunus. Polanya itu copy-paste.

Negara pakai instrumen kekerasan klandestin buat nyingkirin orang-orang yang terlalu vokal ngawasin kelakuan kotor mereka. Aparat kepolisian sekarang masih muter-muter nyari “pembuktian ilmiah”, padahal puzzle intelijennya udah terang benderang ngarah ke institusi yang pasti.

Kasus Andrie Yunus ini membuktikan kalau orang yang ngerti hukum dan berjuang lewat jalur konstitusional aja bisa dihabisi di jalanan pakai cara mafia. Apalagi kita yang cuma warga biasa yang ngomel-ngomel di medsos.

​Sistem ini udah sakit parah, dikuasai oligarki yang melindungin kepentingannya pakai darah dan air keras. Selama dalang intelektualnya, si bos-bos berjas dan berseragam itu nggak diseret ke pengadilan, jalanan kita nggak bakal pernah aman buat siapapun yang berani ngomong kebenaran.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini