Penulis: Arif Sulaiman A
KNews.id – Rentetan peristiwa global yang terjadi pada awal bulan Agustus tahun 1945 menjadi sebuah pemantik yang mengubah tatanan dunia. Kala itu, Perang Dunia II sedang berlangsung dan memasuki babak akhir. Tragedi Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 mengakibatkan Jepang, yang saat itu menduduki Indonesia, di ambang kekalahan perang.
Dua tragedi tersebut menjadi momentum bagi para pendiri bangsa untuk menentukan waktu yang tepat dalam memproklamasikan kemerdekaan. Akhirnya, pada Jumat, 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.00 WIB, Presiden pertama Ir. Soekarno, yang didampingi oleh Wakil Presiden pertama Moh. Hatta, membacakan teks proklamasi. Peristiwa bersejarah ini menjadi titik awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Peristiwa tersebut telah berlalu selama 79 tahun. Indonesia kini menjadi negara berdaulat yang sedang berusaha “naik kelas” menjadi negara maju dengan visi Indonesia Emas 2045. Hal ini dianggap realistis karena negara kita sedang mengalami bonus demografi yang dapat menentukan nasib bangsa dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 mencapai 278,69 juta jiwa, dengan 192,67 juta (69,13%) di antaranya berada pada usia produktif (15-64 tahun). Menurut definisi World Health Organization (WHO), usia produktif adalah rentang usia di mana individu dianggap paling aktif dan produktif dalam konteks ekonomi. Artinya, setiap individu secara umum memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian melalui penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan.
Perekonomian Indonesia pun telah kembali pulih pasca-pandemi Covid-19. Hal ini sesuai dengan data BPS pada tahun 2022, di mana Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,31% yang didorong oleh konsumsi domestik, peningkatan investasi, dan terjadinya peningkatan ekspor akibat lonjakan harga komoditas di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global. Perekonomian Indonesia tahun 2023 tetap tumbuh sebesar 5,05%, yang kembali ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, serta adanya peningkatan pertumbuhan sektor konstruksi.
Ekonomi Indonesia kembali tumbuh pada semester I tahun 2024 sebesar 5,08% secara year-to-date. Secara umum, Indonesia berhasil menunjukkan resiliensi di tengah krisis dan ketidakpastian akibat volatilitas perdagangan dan geopolitik global. Lalu, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah pertumbuhan ekonomi berkisar 5% per tahun cukup untuk menggapai visi Indonesia Emas 2045?
Menurut simulasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2024, Indonesia tidak akan lepas dari jeratan middle-income trap apabila pertumbuhan ekonomi stagnan pada level 5%. Untuk menjadi negara maju di tahun 2045, ekonomi Indonesia harus tumbuh pada kisaran angka 6-7% setidaknya mulai dari tahun 2025.
Berdasarkan data yang dirilis World Bank bulan Juli 2024, Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita Indonesia, parameter yang digunakan untuk menilai produktivitas ekonomi warga dari suatu negara, berada pada angka US$ 4.870 di tahun 2023. Dari laporan tersebut, Indonesia masuk ke dalam kategori upper-middle income country. Suatu negara menjadi high income country, salah satu indikator utama negara maju, apabila PNB per kapita mencapai batas angka US$14.005. Artinya, Indonesia harus bisa menaikkan PNB per kapita tiga kali lipat dari realisasi saat ini.
Indonesia memerlukan strategi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, baik melalui bauran kebijakan yang dibuat oleh pemangku kepentingan maupun peran setiap individu di masyarakat.
Pertama, pemangku kepentingan di sektor pemerintahan dan bisnis harus bisa meminimalkan terjadinya korupsi dan fraud, agar berbagai program yang dilaksanakan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat.
Kedua, adanya kepastian hukum serta deregulasi peraturan yang tumpang tindih sehingga memberikan rasa aman dan kemudahan bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
Ketiga, perlunya sinkronisasi kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Akademisi dan pratkisi harus berkoordinasi secara berkala agar penyerapan tenaga kerja menjadi optimal, sehingga mampu menurunkan tingkat pengangguran, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan pemerataan pendapatan.
Hal ini diperlukan untuk menekan Gini Ratio, suatu ukuran statistik yang digunakan untuk menilai ketimpangan distribusi pendapatan (rentang 0 s.d. 1). Semakin mendekati angka 0, berarti semakin merata distribusi pendapatan penduduk di suatu negara. Berdasarkan data BPS bulan Juli 2024, Gini Ratio Indonesia pada semester I 2024 adalah senilai 0,379. Hal ini menunjukkan distribusi pendapatan di negara kita sudah relatif merata.
Sementara itu, setiap individu juga harus mengambil peran demi mencapai tujuan bangsa. Hal pertama yang dapat dilakukan yaitu senantiasa berupaya untuk tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan zaman. Selanjutnya, belajar untuk mempertajam dan memperkaya keahlian, baik sesuai dengan bidang yang ditekuni maupun secara interdisipliner. Hal ini diperlukan untuk menambah kedalaman penguasaan maupun memperkaya perspektif atas suatu ilmu pengetahuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang akan datang.
Mengutip tulisan dari Tan Malaka, salah seorang tokoh Pahlawan Nasional Indonesia, dalam bukunya yang berjudul Madilog, “Pendidikan bertujuan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.”. Terakhir, setiap individu selayaknya peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Dengan memiliki sifat tersebut individu mengimplementasikan sila ke-3 dari Pancasila, Persatuan Indonesia, melalui rasa empati yang dimiliki untuk membantu sesama dan bergotong-royong dalam memberikan solusi terbaik.
Kita patut mensyukuri dan merayakan perjalanan bangsa Indonesia hingga sampai pada titik ini. Sudah saatnya seluruh pihak belajar dari tantangan di masa lalu untuk bangkit dan melihat masa depan secara optimis. Pemangku kepentingan di negeri ini perlu menjalankan perannya secara efektif dan efisien demi mencapai target yang sudah ditetapkan.
Di sisi lain, apabila setiap individu memiliki mindset seperti tersebut di atas, saya percaya masyarakat secara umum akan membentuk suatu kekuatan kolektif yang kokoh hingga pada akhirnya menumbuhkan sumber daya manusia unggul menuju masa depan Indonesia Emas 2045.
(Zs/BMRI)






