KNews.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, penggalangan dana di pasar modal melalui efek bersifat utang (EBUS), rights issue, dan pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga 28 Juli 2023 tembus Rp 151,5 triliun. Angka tersebut masih bakal terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perusahaan berencana menggalang dana di pasar modal yang ada dalam pipeline BEI.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, angka itu terdiri dari 64 emisi dari 46 penerbit EBUS dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 73,5 triliun. Ada pula rights issue sebanyak 19 perusahaan tercatat senilai Rp 32,5 triliun. “Ditambah lagi, sebanyak 51 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp 45,5 triliun,” ungkap Nyoman Yetna, belum lama ini. Jumat (28/7/2023).
Nyoman Yetna menambahkan, di pipeline BEI masih ada sejumlah rencana penggalangan dana, baik melalui EBUS, rights issue, dan IPO. Untuk EBUS, terdapat 15 emisi dari 10 penerbit yang sedang berada di pipeline. Dengan klasifikasi yaitu sembilan perusahaan sektor barang baku, dua perusahaan sektor energi, dua perusahaan sektor industri, satu perusahaan sektor infrastruktur, satu perusahaan sektor transportasi, dan satu lagi dari sektor lainnya.
“Ada pula lima perusahaan sektor energi, enam perusahaan sektor keuangan, satu sektor infrastruktur, dan satu perusahaan sektor transportasi & logistic,” jelas Nyoman Yetna. Sementara itu, Nyoman Yetna menyebut, saat ini terdapat 39 perusahaan dalam pipeline IPO BEI. Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan sebanyak 22 perusahaan aset skala menengah, yaitu aset antara Rp 50 – 250 miliar, tercatat dalam data pipeline IPO BEI. Disusul 11 perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar, dan GOTO Ungkap Info Baru, Ada Kaitannya sama Laporan Keuangan perusahaan aset skala kecil atau aset dibawah Rp 50 miliar.
“Sedangkan secara sektor, sektor konsumen non primer mendominasi pipeline IPO, sebanyak sembilan perusahaan,” ungkap Nyoman Yetna, belum lama ini. Nyoman Yetna menambahkan, sektor terbanyak kedua adalah konsumen primer sebanyak tujuh perusahaan. Disusul lima dari sektor energi, empat dari sektor barang baku dan property & real estate. Ditambah lagi, dua perusahaan dari empat sektor berbeda, yaitu Kesehatan, industri, teknologi dan transportasi & logistic.
“Sementara sektor infrastruktur dan keuangan tercatat masing-masing satu perusahaan yang ada di pipeline IPO BEI,” tutup Nyoman Yetna. (Zs/ID)





