spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
spot_img

Pemerintah Resign Setelah Didemo Massa di Bulgaria, Karena Gagal Berantas Korupsi

KNews.id – Sofia, Pemerintah Bulgaria resmi mengundurkan diri pada Kamis (11/12/2025) setelah kurang dari satu tahun memimpin, menyusul gelombang protes yang menuntut perbaikan ekonomi serta kegagalan upaya pemberantasan korupsi.

Dilansir Reuters, Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov menyampaikan keputusan tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi beberapa menit sebelum parlemen menjadwalkan pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap pemerintahannya. Langkah ini diambil hanya hitungan pekan sebelum Bulgaria dijadwalkan bergabung dengan zona euro pada 1 Januari.

- Advertisement -

“Kami telah bermusyawarah, menelaah kondisi negara, tantangan di depan mata, dan keputusan yang harus kami ambil dengan penuh tanggung jawab,” ujar Zhelyazkov.

Ia menegaskan bahwa koalisinya sepakat untuk mengundurkan diri.

- Advertisement -

Gelombang Protes Anti-Korupsi

Sehari sebelumnya, ribuan warga turun ke jalan di Sofia serta puluhan kota lain. Aksi ini menyoroti kemarahan publik terhadap praktik korupsi yang mengakar dan kegagalan pemerintahan dalam menanganinya.

Zhelyazkov menyatakan bahwa protes tersebut bukan semata-mata persoalan ekonomi. “Ini adalah protes yang menolak arogansi dan kesombongan. Protes ini bukan sekadar soal kebijakan, tetapi tentang nilai-nilai,” ujarnya.

Para demonstran didominasi kalangan muda dan profesional perkotaan yang mendukung percepatan integrasi Bulgaria dengan Eropa. Negara itu masih menjadi anggota termiskin dan disebut-sebut paling korup di Uni Eropa sejak bergabung pada 2007.

Pekan lalu, pemerintah menarik kembali rancangan anggaran 2026, yang untuk pertama kalinya disusun berbasis mata uang euro. Penarikan ini dilakukan setelah muncul penolakan terhadap rencana kenaikan iuran jaminan sosial serta pajak dividen guna menutup peningkatan belanja negara. Namun pembatalan itu tidak meredakan kemarahan publik.

Dalam empat tahun terakhir, Bulgaria telah menggelar tujuh pemilu nasional, mencerminkan instabilitas politik yang berkepanjangan.

- Advertisement -

Seruan Pemilu yang Bersih

Pemimpin oposisi Continue the Change, Democratic Bulgaria (CC-DB), Asen Vassilev, menyebut pengunduran diri pemerintah sebagai awal menuju perbaikan. “Ini langkah pertama agar Bulgaria menjadi negara Eropa yang normal. Langkah berikutnya adalah menyelenggarakan pemilu yang bebas dan adil,” ujarnya.

Presiden Rumen Radev dijadwalkan meminta partai-partai parlemen untuk merumuskan pemerintahan baru. Jika gagal, ia akan menunjuk kabinet sementara hingga pemilu dapat digelar.

Ketua Partai GERB, Boyko Borissov, yang memimpin koalisi pemerintah sebelumnya, membela capaian pemerintahannya. Ia menyoroti keberhasilan membawa Bulgaria masuk ke zona Schengen tanpa perbatasan serta mempersiapkan seluruh syarat menuju keanggotaan zona euro.

“Kami tidak punya alasan untuk malu atas 11 bulan terakhir. Mulai hari ini, kami akan menjadi oposisi yang kuat dan bersiap memenangkan pemilu mendatang,” kata Borissov.

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini