spot_img
Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
spot_img

Pariwisata Nasional Masih Bertumpu pada Kelas Menengah

KNews.id – Jakarta 7 Januari 2026 – Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, minat masyarakat kelas menengah untuk berwisata ternyata tetap tinggi. Bahkan, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan hasrat pelesiran mereka, melainkan mendorong perubahan pola perjalanan dengan memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.

“Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah ini merupakan tulang punggung industri pariwisata nasional. Volume pergerakan wisata domestik dan total nilai belanja mereka tetap menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok lainnya,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, di Jakarta, Rabu (07/01/2026).

- Advertisement -

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), gairah ini terlihat dari jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang menembus 1,02 miliar pada tahun 2024, atau tumbuh 21,61% dari tahun sebelumnya. Tren positif ini berlanjut pada periode Januari-September 2025 dengan total 901,9 juta perjalanan, yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada dua tahun terakhir.

Peluang berwisata juga dipengaruhi kemampuan ekonomi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode Maret 2024 menunjukkan, semakin tinggi kelompok ekonomi warga, maka semakin banyak yang pergi berlibur. Dalam setahun terakhir misalnya, sekitar 33,47% warga kelas atas pernah berwisata keluar kabupaten/kota, sementara kelompok miskin hanya 2,14% yang pernah berwisata.

- Advertisement -

“Tapi kalo kita lihat secara angka absolut, industri pariwisata ini sepenuhnya ditopang oleh kelas menengah dan menuju kelas menengah. Ada sekitar 10,4 juta warga kelompok menuju kelas menengah dan 7,6 juta warga kelas menengah yang pernah melancong dalam setahun terakhir,” ungkapnya.

Yang menarik sebetulnya angka pelesiran domestik ini masih berpotensi untuk ditingkatkan. Sebab data Susenas yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hanya 7,8% penduduk Indonesia yang pernah ke luar Kabupaten/Kota tempat tinggalnya dalam setahun terakhir.

Christiantoko menambahkan bahwa sektor pariwisata ini tidak perlu menanam modal yang besar karena disediakan oleh alam, namun memiliki multiflyer efek yang besar. “Secara nominal, kelompok kelas menengah menyumbangkan dana fantastis sebesar Rp132,1 miliar/bulan untuk perjalanan wisata, serta Rp226,5 miliar/bulan untuk hotel dan penginapan. Angka tersebut membuktikan bahwa tanpa daya beli kelompok ini, industri perhotelan dan transportasi nasional akan kehilangan mesin pertumbuhan utamanya,” pungkasnya.

Wisata Hemat dan Dominasi Pulau Jawa  

Perubahan perilaku juga terlihat dari pola belanja wisatawan. Rata-rata pengeluaran per perjalanan wisnus turun dari Rp2,7 juta pada 2023 menjadi Rp2,3 juta pada 2024. Hal ini menandakan bahwa masyarakat memilih bepergian lebih sering tapi dengan biaya yang lebih hemat.

“Kalau merujuk pada data BPS, pergerakan wisata memang masih terpusat di Pulau Jawa. Jawa Timur menjadi provinsi asal sekaligus tujuan utama dengan 218,7 juta kunjungan pada 2024. Daerah ini jadi favorit wisatawan kelas menengah karena jarak yang ditempuh dekat dan infrastrukturnya juga relatif baik,” ujarnya.

- Advertisement -

Sebaliknya, destinasi di luar Jawa, terutama wilayah Timur seperti Papua, masih mencatatkan kunjungan terendah, lantaran biaya transportasi yang mahal dan fasilitas yang terbatas.

“Karena itu, kebijakan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tapi perlu terhubung langsung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga, sehingga daya belinya tetap terjaga dan pariwisata domestik tumbuh lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan,” tutup Christiantoko.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini