KNews.id – Gaza, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan militer Zionis menduduki Jalur Gaza secara total. Langkahnya ini akan meningkatkan konflik di wilayah Palestina tersebut.
Pada hari Senin waktu Israel, Netanyahu memberi tahu para menterinya bahwa dia berencana untuk meminta persetujuan kabinet atas langkah tersebut, meskipun ada peningkatan penolakan dari internal Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan mantan pemimpin militer Zionis.
Demikian laporan The Times of Israel dan media Zionis lain berbahasa Ibrani, Selasa (5/8/2025).
Seorang pejabat senior yang dekat dengan Netanyahu mengatakan kepada Ynet: “Keputusan sudah di tangan— kami akan menduduki Jalur Gaza sepenuhnya.”
Menurut laporan Jerusalem Post, saat ini pasukan Israel menguasai sekitar 75 persen wilayah Gaza, tetapi perintah baru Netanyahu ini akan mengarah pada pengambilalihan wilayah yang tersisa seiring dengan meningkatnya operasi penyelamatan sandera yang diyakini masih ditawan di lokasi-lokasi tersebut.
Keputusan Netanyahu tersebut diambil tanpa berkonsultasi dengan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir. Menurut memo internal, jenderal tertinggi Israel itu diperintahkan untuk mematuhi perintah tersebut atau mengundurkan diri.
Eskalasi militer Zionis ini menyusul rekaman video yang dirilis oleh Hamas dan sekutunya, Jihad Islam Palestina, yang memperlihatkan dua sandera Israel dalam kondisi kurus kering. Video itu telah mengejutkan Israel.
Dari 251 orang yang diculik selama serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, 49 orang masih ditawan di Gaza, termasuk 27 orang yang diduga tewas. Rekaman yang menunjukkan sandera Israel, Evyatar David, menandai hari-hari di kalender di dalam terowongan Gaza mengonfirmasi bahwa dia masih ditawan.
David, yang berusia 24 tahun saat ditawan, diculik dalam serangan awal Hamas pada 7 Oktober 2023. Para pejabat senior Israel yang membahas rencana pendudukan bersama Netanyahu yakin Hamas hanya akan membebaskan para sandera yang tersisa jika mereka dipaksa untuk menyerah.
Channel 12 mengutip para pejabat Israel yang mengatakan, “Jika kita tidak bertindak sekarang, para sandera akan mati kelaparan dan Gaza akan tetap berada di bawah kendali Hamas.”
Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu dilaporkan berkoordinasi untuk memberikan ultimatum kepada Hamas: bebaskan para sandera dan pelucutan senjata, atau hadapi kampanye militer Israel yang berkelanjutan.
Perkembangan ini terjadi setelah 19 pensiunan pemimpin Israel, termasuk mantan perdana menteri yang juga mantan kepala staf IDF Ehud Barak, mengeluarkan seruan video pada akhir pekan yang mendesak Netanyahu untuk mengakhiri perang.
Mereka mengkritik kampanye militer yang sedang berlangsung, menyalahkan Netanyahu karena memperpanjang konflik untuk mempertahankan koalisi sayap kanannya yang rapuh.
“Kita berada di ambang kekalahan,” kata mantan direktur Mossad Tamir Pardo, merefleksikan meningkatnya kecaman internasional atas krisis kemanusiaan di Gaza.
“Apa yang dunia lihat hari ini adalah ciptaan kita sendiri,” imbuh dia, merujuk pada gambaran kelaparan dan penderitaan di antara anak-anak Gaza. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menekankan bahwa fokus harus tetap pada para sandera pada sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mendatang.
“Dunia harus mengakhiri fenomena penculikan warga sipil. Penculikan harus menjadi pusat perhatian dunia,” kata Saar dalam sebuah konferensi pers. “Saya akan menuju New York malam ini untuk berpartisipasi dalam sidang khusus Dewan Keamanan PBB yang saya prakarsai, yang akan berlangsung besok (Selasa hari ini) untuk membahas situasi para sandera,” imbuh dia.
Situasi masih sangat fluktuatif karena tekanan internasional dan domestik meningkat terhadap pemerintah Netanyahu sementara pasukan Israel bergerak untuk melengkapi kendali mereka atas Gaza.




