spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
spot_img

Negosiasi Gaza: Hamas Minta “Presiden Masa Depan Palestina” Marwan Barghouti di Bebaskan Israel

KNews.id – Gaza, Hamas dilaporkan menuntut pembebasan sejumlah tokoh pejuang Palestina yang saat ini menjalani penahanan di Israel sebagai bagian dari kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata di Gaza. Diketahui, perundingan antara Hamas dan Israel akan dimulai Senin (6/10/2025) bertempat di Kairo Mesir.

Dilaporkan Times of Israel, Senin, sumber Channel 12 menyebutkan bahwa, di antara yang diminta Hamas untuk dibebaskan adalah Marwan Barghouti yang saat ini menjalani hukuman penjara seumur hidup atas keterlibatannya dalam aksi Intifada Kedua pada September 2000.

- Advertisement -

Barghouti hingga kini diyakini menjadi salah satu tokoh paling populer di kalangan rakyat Palestina. Dalam enam kali jajak pendapat yang digelar oleh Pusat Penelitian dan Survei Palestina antara September 2023 dan Mei 2025, Barghouti muncul sebagai kandidat saat responden ditanya siapa yang akan mereka pilih menjadi presiden jika Palestina merdeka.

Tokoh lainnya yang diminta Hamas untuk dibebaskan adalah pemimpin Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP) Ahmad Sa’adat, yang dihukum 30 tahun penjara sejak 2008 atas keterlibatannya dalam pembunuhan mantan Menteri Turisme Israel Rehavam Ze’evi pada 2001.

- Advertisement -

Hamas juga menuntut pembebasan Ibrahim Hamed, yang sedang menjalani 45 kali masa seumur hidup lantaran mengorkestrasi pembunuhan sejumlah warga Israel, komandan Hamas di Tepi Barat, Abbas al-Sayed, yang mengotaki pengeboman Hotel Park di Netanya pada 2002, dan petinggi Hamas, Hassan Salemeh yang menjalani 48 kali masa seumur hidup atas tuduhan plot beberapa aksi bom bunuh diri.

Mengutip sumber Hamas, Channel 12 melaporkan bahwa, Hamas tidak akan menyerah dalam upaya membebaskan para tokoh tersebut meski harga yang harus dibayar adalah kegagalan dari proses perundingan di Kairo. Di Israel sendiri kini terdapat 303 tahanan yang menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Menteri Agrikultur Israel Avi Dichter kepada Channel 12 mengindikasikan Israel kemungkinan akan memenuhi tuntutan Hamas kecuali permintaan untuk membebaskan mereka yang terlibat pada aksi 7 Oktober 2023. Dichter mengatakan, pada masa lalu, Israel membebaskan beberapa tokoh termasuk pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, yang dua kali dibebaskan dari tahanan.

Pada 1985, Israel menukar Sheikh Ahmed Yassin dan 1.150 tahanan lain dengan tiga prajurit IDF yang disandera Hamas. Sempat ditahan kembali, Sheikh Ahmed Yassin kemudian dilepas pada 1997 sebagai bagian dari pertukaran dua anggota Mossad yang ditangkap di Yordania saat mencoba membunuh petinggi Hamas, Khaled Meshaal.

“Saya dua kali menyeretnya ke penjara dan sekali membawanya ke akhir hidupnya,” kata Dichter yang pernah menjadi kepala Shin Bet saat Yassin dibunuh lewat serangan helikopter pada 2004.

Masih menurut sumber Hamas kepada Channel 12, Hamas juga meminta jaminan bahwa IDF akan ditarik secara penuh dari Gaza dalam kerangka waktu yang jelas. Untuk proses penarikan awal, Hamas menuntut IDF menarik diri lebih jauh daripada yang tertera dalam peta yang ditunjukkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Ahad, atau sama dengan garis penarikan IDF saat gencatan senjata berlaku pada Januari 2025.

- Advertisement -

Sumber-sumber Palestina yang dekat dengan negosiator dikutip oleh lembaga penyiaran KAN, mengatakan, prioritas utama Hamas adalah kedalaman dan kerangka waktu dari penarikan pasukan IDF. Adapun, isu-isu jangka panjang seperti demiliterisasi Jalur Gaza tidak terlalu penting bagi pejuang Palestina.

Tim negosiasi Hamas dipimpin oleh Khalil al-Hayya dilaporkan secara simultan akan berkonsultasi dengan sebuah tim Otoritas Palestina, sebagai bagian dari awal mekanisme penentuan masa depan Gaza yang memasukkan Otoritas Palestina dalam pemerintahan. Pada Sabtu, pemimpin Otoritas Palestina menjanjikan reformasi lembaganya, termasuk formulasi dari sebuah konstitusi sementara dalam tiga bulan dan pemilu dalam satu tahun.

Menurut Channel 12, Abbas akan mengizinkan Hamas untuk ikut dalam pemilu hanya dengan syarat mereka mau mengakui eksistensi Israel. Sementara, dalam rencana Trump, Otoritas Palestina, yang dituduh Israel mengajarkan terorisme di sekolah dan membiayai kegiatan teroris, akan mengontrol Gaza hanya setelah “merampungkan program reformasinya.”

Hingga waktunya tiba Otoritas Palestina berhak memerintah, Gaza akan dibawah pemerintahan transisi internasional bernama “Dewan Perdamaian” yang dipimpin langsung oleh Donald Trump. Rencana Trump itu diumumkannya pada Senin pekan lalu lewat konferensi pers bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pejuang Palestina, Hamas akan menghadapi “kehancuran total!” jika tetap berusaha untuk berkuasa di Gaza. Hal itu diungkapkan Trump kepada CNN lewat pesan teks, dilansir Times of Israel, Ahad (5/10/2025).

Ditanya bagaimana jika Hamas tetap menolak untuk melucuti senjatanya dan menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses pembebasan sandera dan pertukaran tahanan, Trump menulis, “Kita akan mengetahuinya. Hanya waktu yang bisa menjawab!!!”

Hamas berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan untuk tetap memimpin Gaza. Tetapi, tidak menyetujui pelucutan total senjata mereka dan menuntut peran yang sama dalam negara Palestina masa depan.

Trump juga merespons “iya” saat ditanya apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam trek untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk merealisasikan perdamaian.

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini