KNews.id – Jakarta 3 Februari 2026 –
إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ . صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.
Pada kesempatan yang mulia ini, izinkanlah khatib mengajak hadirin sekalian untuk sejenak merenungkan sebuah malam yang agung yang akan segera kita masuki, yaitu malam Nisfu Syaban. Malam pertengahan di bulan Syaban, bulan yang sering dilalaikan, padahal ia adalah bulan pengantar menuju Ramadhan.
Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Hasyr [59] ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ .
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini merupakan fondasi dari muhasabah (introspeksi diri). Ia memerintahkan kita untuk melihat ke belakang, mengevaluasi bekal amal yang telah kita kumpulkan untuk menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat.
Nisfu Syaban adalah waktu yang sangat tepat untuk melaksanakan perintah muhasabah. Mengapa? Karena Rasulullah saw memberikan perhatian khusus pada bulan Syaban. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan lain sebanyak puasamu di bulan Syaban.” Nabi saw menjawab:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
“Itu (Syaban) adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku suka jika amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (H.R. Ahmad)
Di malam Nisfu Syaban, menurut banyak riwayat dan penjelasan ulama, Allah Swt. memberikan ampunan-Nya secara luas. Imam al-Ghazali, dalam magnum opus-nya Ihya Ulumuddin, mengutip riwayat bahwa pada malam itu, Allah memperlihatkan ampunan-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, kecuali kepada orang yang musyrik dan yang memiliki dendam kesumat (permusuhan) dengan sesama Muslim. Ini menunjukkan pintu tobat dan ampunan terbuka lebar. Namun, untuk menerimanya, kita harus membersihkan hati. Inilah esensi memperbaiki diri.
Sang Hujjatul Islam tersebut juga menekankan pentingnya muraqabah (merasa selalu diawasi Allah) dan muhasabah an-nafs (mengoreksi diri sendiri) sebagai jalan untuk menyucikan hati. Sebelum kita menuntut hak dari orang lain, sebelum kita menyalahkan dunia, tanyalah pada diri sendiri: “Apa yang telah ku perbuat untuk Tuhanku? Bagaimana keadaan hatiku? Sudah benarkah niat dan tujuanku?”
Ibnu Rusyd, sang filsuf dan ahli hukum Islam dari Andalusia, dalam karyanya Bidayatul Mujtahid, meskipun lebih fokus pada hukum fikih, mengajarkan pentingnya memahami maksud dan tujuan syariat (maqashid asy-syariah). Muhasabah di Nisfu Syaban seharusnya mengarahkan kita untuk mengevaluasi: Sudahkah ibadah kita mencapai tujuannya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk akhlak mulia? Ataukah ia hanya rutinitas tanpa ruh?
Pemikir Islam kontemporer seperti M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah-nya, ketika menjelaskan ayat-ayat muhasabah, sering mengingatkan bahwa introspeksi diri bukan untuk berlarut dalam penyesalan, tetapi untuk bangkit memperbaiki diri. Nisfu Syaban adalah momentum untuk reset, untuk mengoreksi arah kiblat hati kita, memastikan ia masih tertuju kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, marilah kita menyambut Nisfu Syaban dengan langkah konkret, dengan cara:
1. Memperbanyak istighfar dan tobat. Mohon ampun atas segala dosa, baik yang disengaja maupun tidak, yang kecil maupun yang besar.
2. Memperbaiki hubungan dengan sesama (silaturahim). Bersihkan hati dari dengki, benci, dan dendam. Bayarkan hak-hak orang lain jika ada. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memiliki kezaliman kepada saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya, karena di sana (akhirat) tidak ada dinar maupun dirham.” (H.R. Bukhari).
3. Memperbanyak doa dan ibadah sunah. Malam Nisfu Syaban adalah malam yang mustajab untuk berdoa. Panjatkan doa untuk kebaikan dunia akhirat kita, keluarga, dan umat Islam.
4. Menyusun agenda perbaikan menuju Ramadhan. Evaluasi kekurangan ibadah tahun lalu, dan buatlah target yang lebih baik untuk Ramadhan tahun ini.
Pesan takwa dan muhasabah tadi tidak berhenti di mimbar ini. Mari kita bawa pulang, kita renungkan, dan kita amalkan. Pertama, kita hidup di zaman yang penuh gangguan dan kesibukan dunia. Pemikir kontemporer seperti Ali Jum’ah (mantan Mufti Agung Mesir) mengingatkan penyakit zaman sekarang adalah ‘ghaflah’ (kelalaian).
Nisfu Syaban adalah alarm Ilahi untuk bangkit dari kelalaian itu. Ia adalah kesempatan emas yang diberikan Allah sebelum Ramadhan, agar kita tidak masuk Ramadhan dalam keadaan lalai.
Kedua, momentum ini adalah anugerah. Jangan sia-siakan. Isilah dengan amal saleh, dengan doa, dengan saling memaafkan. Bersihkan hati agar kita layak menyambut bulan suci Ramadhan dengan jiwa yang bersih dan siap untuk transformasi spiritual yang lebih besar. Ketiga, muhasabah yang sejati akan melahirkan komitmen untuk berubah. Bukan hanya menyesali masa lalu, tetapi membangun masa depan yang lebih baik dengan tuntunan Allah Swt.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ. البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
(FHD/Kemenag)




