KNews.id – Jakarta – Perkembangan musik berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian nyata membentuk wajah baru industri musik global. Bukan hanya sebagai alat bantu produksi, musik AI kini menjelma menjadi komoditas digital yang dapat diproduksi secara lebih cepat, murah, dan masif.
Fenomena ini memunculkan peluang ekonomi baru, sekaligus memantik perdebatan soal masa depan musisi konvensional. Pengamat musik Indra Aziz menilai kehadiran musik AI bukanlah tren sesaat. Menurut dia, teknologi ini akan terus bertahan dan berkembang seiring meningkatnya adopsi di berbagai lini industri kreatif.
“Ini bukan sekadar tren. AI music is going to stay dan akan terus berkembang,” ujar Indra, Kamis (26/3/2026).
Dia mencatat, saat ini sudah muncul sejumlah kreator musik AI yang mampu mengumpulkan angka streaming tinggi di platform dan media sosial. Dengan sistem royalti berbasis jumlah stream, semakin besar trafik yang dikumpulkan, semakin besar pula potensi pendapatan. Meski beberapa menduga stream tersebut bersifat bot.
Model ini berbeda dari musisi konvensional yang membangun basis penggemar melalui konser, merchandise, hingga kolaborasi brand. Musik AI, kata Indra, cenderung bermain di wilayah algoritma.
Selain kreator, platform streaming justru disebut sebagai pihak yang meraih manfaat signifikan dari maraknya musik AI. Platform dapat memproduksi musik latar atau background music berbasis AI secara masif, lalu menyelipkannya ke dalam playlist populer.
“Platform streaming membuat ratusan musik AI, khususnya musik background, agar royalti tidak harus dibagi dengan label,” kata Indra.
Secara bisnis, ini menciptakan efisiensi biaya sekaligus membuka ruang margin yang lebih besar. Musik instrumental untuk fokus, relaksasi, atau ambience kafe menjadi ladang yang relatif aman dan minim tuntutan koneksi emosional mendalam.
Dari sisi model bisnis, Indra melihat musik AI saat ini lebih berfungsi sebagai hiburan di level permukaan. Musik AI dinilai belum mampu membangun koneksi emosional yang dalam dengan audiens, sebagaimana karya musisi manusia.
“Musik AI sejauh ini strictly untuk klik dan stream. Tidak ada ‘soul’, tidak ada human connection,” ujarnya.
Meski demikian, Indra menilai kehadiran musik AI juga membuka peluang cuan baru bagi musisi profesional. Banyak produser kini menggunakan AI untuk brainstorming ide, membuat demo cepat, hingga membantu proses mixing dan mastering.
“Ini saatnya musisi konvensional memperkuat value sebagai seniman yang punya idealisme, punya suara, punya kegelisahan. Hal-hal yang membuat musik memiliki makna lebih dalam,” ujarnya.
Meski potensi cuannya besar, Indra mengingatkan bahwa musik AI masih memiliki keterbatasan, mulai dari konsistensi teknis hingga kurangnya “jiwa” dalam karya. Berbeda dengan Musisi dan produsen yang sangat spesifik dengan sound dan style nya sehingga hasil dari prompt dinilai terlalu ‘general’ untuk kreativitas.
Dari sisi reputasi, perusahaan yang terlalu agresif menggunakan musik AI juga berisiko menghadapi sentimen negatif, terutama terkait isu pencurian data dan etika penggunaan teknologi.
Karena itu, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Indra memprediksi musik AI akan berkembang pesat di ranah musik latar, meme, dan produksi cepat. Namun, untuk proyek-proyek besar di industri musik, film, dan gim, peran musisi manusia dinilai tetap krusial.
Di saat yang sama, musisi profesional justru akan semakin intens memanfaatkan AI sebagai alat bantu, mulai dari proses brainstorming, produksi, hingga mixing dan mastering.
“Sejujurnya saya tidak yakin musik AI akan menggantikan Musisi konvensional. AI akan jadi bagian dari workflow, bukan pengganti manusia,” kata Indra.




