spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
spot_img

Minat Investor Melemah, Incoming Bids Lelang SUN Terus Turun Bayangi Target Utang APBN 2026 Rp832 Triliun

KNews.id – Jakarta – Indikasi penurunan minat investor dalam lelang Surat Utang Negara alias SUN membayangi target pembiayaan utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara alias APBN 2026 senilai Rp832,2 triliun.

Namun di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan anggaran, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) justru mencatat bahwa jumlah penawaran yang masuk (incoming bids) dalam 4 kali lelang surat utang terus mengalami penurunan.

- Advertisement -

Pada periode lelang 6 Januari 2026 lalu, misalnya, pemerintah mencatat total penawaran yang masuk masih menembus angka Rp90,96 triliun. Angka ini turun menjadi Rp82,9 triliun pada lelang 20 Januari 2026, turun lagi ke Rp76,58 triliun pada 3 Februari 2026, dan yang terakhir pada 18 Februari 2026 kemarin menyusut ke angka Rp63,06 triliun.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realisasi lelang SUN pada awal 2025 yang menorehkan penawaran masuk yang bertumbuh hingga tiga lelang selanjutnya. Pada lelang SUN perdana 2025, pemerintah menghimpun dana Rp31,65 triliun dan cenderung tumbuh hingga Selasa (18/2/2025) menghimpun dana senilai Rp84 triliun.

- Advertisement -

Pemerintah Klaim Permintaan Solid

Meski demikian, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Suminto mengemukakan bahwa jumlah penawaran atau incoming bids pada lelang 18 Februari 2026 masih mencerminkan kondisi permintaan yang cukup solid di tengah kondisi pasar global yang masih merayakan Imlek di beberapa negara seperti  Singapura, dan Hong Kong.

Suminto juga menjelaskan bahwa partisipasi investor domestik tetap kuat, terutama sektor perbankan yang mendominasi porsi pemenang lelang. Di sisi lain walaupun beberapa pasar keuangan libur, minat investor asing juga tetap tinggi. Jumlah penawaran yang dimenangkan awarded bids dari investor asing sekitar 15,50% dari total dimenangkan. “Hal ini mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan kredibilitas pengelolaan fiskal.”

Selain itu, meskipun incoming bids menurun dibandingkan dengan lelang SUN sebelumnya, lanjut Suminto, yield atau imbal hasil yang diminta investor masih cukup kompetitif. Menurutnya, penurunan incoming bids terutama berasal dari SPN tenor pendek terjadi seiring strategi perbankan dalam mengantisipasi kebutuhan likuiditas menjelang Lebaran.

“Dari sisi biaya, yield hasil lelang relatif terjaga dengan kenaikan weighted average yield yang tetap terbatas dibandingkan lelang SUN sebelumnya, meskipun berlangsung setelah revisi outlook oleh Moody’s. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor yang tetap solid terhadap fundamental pasar keuangan domestik,” tegasnya.

Hasil Lelang 18 Februari 2026

Adapun Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat adanya penurunan penawaran atau incoming bids Surat Utang Negara alias SUN dalam lelang yang berlangsung pada Rabu (18/2/2026) kemarin.

Kemenkeu mencatat jumlah penawaran yang masuk dalam lelang kemarin mencapai Rp63,06 triliun atau turun sekitar 17,6% dari periode lelang 3 Februari 2026 yang mencapai Rp76,58 triliun. Angka itu juga menyusut jauh dibandingkan penawaran pada lelang 20 Januari 2026 senilai Rp82,9 triliun.

- Advertisement -

Melansir laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), jumlah surat utang dilelang pada Rabu kemarin mencakup 9 seri yakni SPN01260322 (new issuance), SPN03260521 (new issuance), SPN12270204 (reopening), FR0109 (reopening), FR0108 (reopening), FR0106 (reopening), FR0107 (reopening), FR0102 (reopening) dan FR0105 (reopening).

Adapun jika dirinci, total penawaran yang masuk untuk seri SPN01260322 mencapai Rp700 miliar, SPN03260521 Rp300 miliar, SPN12270204 Rp4,77 triliun, FR0109 Rp24,16 triliun, FR0108 Rp21,07 triliun, FR0106 Rp4,33 triliun, FR0107 Rp3,29 triliun, FR0102 Rp2,23 triliun, dan FR0105 Rp2,18 triliun.

Akibat lesunya penawaran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun akhirnya menaikkan jumlah penetapan lelang surat utang yang dimenangkan yang awalnya ditarget senilai Rp33 triliun menjadi Rp40 triliun. Penetapan hasil lelang itu juga lebih tinggi dibandingkan periode lelang 3 Februari 2026 lalu, yang hanya sebesar Rp36 triliun.

Penurunan penawaran itu terjadi di mayoritas surat utang kecuali seri Fix Rate atau FR0108 yang jumlah penawarannya mencapai Rp21,07 triliun.

Sementara itu, seri Surat Perbendaharaan Negara atau SPN12270204 dengan yield rata-rata tertimbang 4,48%, misalnya, yang pada lelang 3 Februari 2026 mampu membukukan penawaran sebesar Rp6,92 triliun pada lelang 18 Februari 2026 turun menjadi Rp4,77 triliun.

Kondisi serupa juga terjadi pada seri Fix Rate atau FR dengan yield di kisaran 5,67%-6,77%, penawaran seri FR0109 turun dari Rp25,39 triliun menjadi Rp24,16 triliun, FR0106 turun dari Rp8,93 triliun menjadi Rp4,33 triliun, FR0107 dari Rp4,13 triliun ke Rp3,29 triliun, FR0102 yang semula Rp3,78 triliun menjadi  Rp2,23 triliun, serta seri FR0105 turun dari Rp34,74 triliun menjadi Rp2,18 triliun.

Pemicu Lesunya Permintaan

Ketegangan geopolitik yang memuncak antara AS dan Iran dinilai menjadi salah satu penyebab kian lesunya permintaan pasar dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sepanjang 2026.

Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai ketegangan geopolitik yang kian memuncak telah menyurutkan minat investor asing untuk berinvestasi di Tanah Air melalui instrumen SUN.

”Kalau asing keluar, secara psikologis ini menandakan akan turun karena mereka agresif. Domestik biasanya akan mengikuti juga. Untuk penurunan kemarin, asing sempat keluar. Itu akan membuat yang domestik ikut juga,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Tak pelak, ketidakstabilan geopolitik turut membuat DJPPR menerbitkan lebih banyak SUN bertenor pendek. Dibandingkan dengan 2025, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) biasanya diterbitkan sebanyak 2 kali dan bertambah menjadi 3 kali pada tahun ini.

Serapan pasar tidak kalah besar terhadap SPN. Pada penerbitan SUN teranyar misalnya, tiga tenor SPN mendapatkan serapan pasar senilai Rp11,98 triliun, lebih besar ketimbang realisasi penyerapan senilai Rp8,56 triliun pada lelang terakhir 2025. ”Tenor pendek ini karena uncertain tadi. Jadi risikonya semakin panjang, biasanya volatilitas lebih tinggi. Potensi koreksi harga, perubahan yield juga lebih besar. Memang kebutuhan pasarnya lebih tinggi di jangka pendek karena memang kondisi sekarang tidak stabil,” tambahnya.

Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai kian lesunya serapan pasar terhadap lelang SUN belakangan lebih disebabkan oleh kondisi makroekonomi dalam negeri. Fikri menyoroti ihwal defisit APBN 2025 hingga penerimaan pajak negara yang cenderung rendah.

Kondisi dalam negeri seperti ini, membuat investor meminta risk premi yang lebih terhadap surat utang terbitan negara. ”Artinya ada kekhawatiran, jangan-jangan datanya tidak sejalan. Kemampuan dari Indonesia makin lama kok makin turun. Ini yang membuat marketnya, saya pikir tidak hanya Moody’s yang minta yield yang lebih besar, tapi semua investor. Makanya permintaan terhadap SBN lebih rendah,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Sementara itu, realisasi penawaran lelang sukuk yang konsisten berada pada level sekitar Rp50 triliun—Rp40 triliun, dinilai lebih disebabkan oleh market niche produk syariah itu. Dengan begitu, produk ini akan secara tetap mendapatkan penawaran yang stabil dari investor.

(NS/BSN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini