spot_img

Menlu Iran Sebut Netanyahu “Ular” yang Tipu AS agar Berperang

KNews.id – Jakarta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “ular” yang menipu pemerintah Amerika Serikat untuk perang.

“Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual telah menipu Pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel,” kata Araghchi di X pada Senin (31/8).

- Advertisement -

Araghci juga menyebut Netanyahu secara eksplisit menertawakan bagaimana dia berhasil ‘memengaruhi’ AS melalui 1.000 jam waktu siaran di jaringan televisi negara tersebut.

“Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS (President of the United States/Presiden Amerika Serikat. Serpent (ular),” imbuh dia.

- Advertisement -

Secara harfiah serpent sebetulnya berarti ular berbisa atau ular besar. Namun, dalam tradisi agama dan literatur masa lalu, kata serpent kerap digunakan untuk menggambarkan iblis, dan lambang sifat licik serta penuh godaan.

Pernyataan Araghchi muncul di tengah perang AS dan Iran yang masih berkecamuk. Pemerintahan Donald Trump dan sekutunya Israel menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari lalu.

Imbas operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas. Pejabat top pertahanan juga ikut tewas dalam gempuran tersebut.

Setelah Khamenei tewas, estafet kepemimpinan berlanjut ke anaknya Mojtaba Khamenei. Dia terpilih menjadi pemimpin tertinggi usai melalui mekanisme sesuai konstitusi Iran.

AS dan Iran sebetulnya sempat gencatan senjata pada April dan meneken nota kesepahaman (MoU) pada Juni untuk mengakhiri perang. Namun, di tengah kesepakatan-kesepakatan ini, Washington berulang kali mengancam Teheran. Beberapa ancaman cuma bualan, tapi banyak pula yang betul-betul jadi serangan.

Pasukan AS bahkan menggempur infrastruktur sipil seperti jembatan, sebuah tindakan yang masuk dalam kejahatan perang.

- Advertisement -

Saat ini, mediator konflik AS-Iran, Pakistan, berusaha menarik kedua negara itu ke meja perundingan guna menghentikan perang secara permanen. Namun, sejauh ini belum ada negosiasi baru.

(NS/CNN)

 

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini