Menkes Berbohong, Pasien yang Meninggal di Cianjur Ternyata Positif Corona

KNews.id- Menyikapi status pandemi global virus corona atau Covid-19, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memutuskan untuk melakukan percepatan penanganan dan pencegahan penyakit ini. Jabar dengan jumlah penduduk lebih kurang 50 juta jiwa harus sigap dalam mengantisipasi.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil merilis perkembangan pandemi Covid-19 atau Corona hingga Ahad (15/3) pagi. Hingga saat ini ada total tujuh pasien positif Corona, satu di antaranya meninggal di Kabupaten Cianjur.

Pasien itu sempat menjadi suspect, namun pemerintah mengklaim uji medis atas virus corona dinyatakan negatif. Yaitu seorang pegawai PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) yang dirawat di RS Dr Hafidz (RSDH) Cianjur ternyata positif Corona. Pria tersebut sempat dirawat di Bekasi, dan mencari pengobatan alternatif sejak akhir Februari hingga awal Maret 2020.

Namun, kondisinya terus menurun hingga dilarikan ke RSDH. Pasien dalam pengawasan (PDP) itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 3 Maret 2020 lalu. Ridwan menyampaikan data statistik terbaru yang dipantau Pemprov melalui Dinkes Jabar yakni masyarakat yang masuk rumah sakit karena dicurigai dari pola aktivitas sosialnya berjumlah 706, isolasi pribadi telah selesai 256, warga yang masih dipantau 448, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ada 82. Status PDP ini terdiri dari 54 negatif, 28 masih menunggu hasil, dan tujuh positif.

“Yang tujuh positif ini terdiri dari warga Depok, Pasien 1 dan 2. lalu, 1 warga Cianjur yang meninggal dunia yang dulu disampaikan bupati Cianjur (negatif), ternyata dari data terakhir yang kami terima pasien positif. Kemudian 2 di kabupaten Bekasi adalah istri dan anak dari pasien di Cianjur, itu juga positif. 1 positif di Kota Bandung, dan 1 positif di Kota Cirebon yang dirawat di RSUD Sunan Gunung Djati,” kata Ridwan Kamil.

Ridwan menyampaikan pihaknya telah banyak berkoordinasi melalui pusat komunikasi dan koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar). Dia menyebut, melalui Pikobar, semua informasi disampaikan. Salah satunya mulai Sabtu (14/3/2020), Pemprov Jabar melakukan tesproaktif.

Upaya ini sebagai salah satu upaya previntif dengan melakukan pengujian spesimen penyebaran Covid-19, yakni pada orang terduga terinfeksi penyakit ini, juga pada mereka yang berisiko tertular atau yang melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

Ia juga menyebut, Pemprov Jabar akan melakukan tes proaktif melalui Labkes Jabar berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran Unpad, dan Pusat Penelitian Nano Sains dan Nano Teknologi ITB.

“Jadi tidak menunggu dulu orang bergejala masuk rumah sakit baru dicek, hasilnya positif negatif ke pusat. Tes proaktif ini sudah dilakukan kepada mereka yang terpantau dan mereka tidak bergejala juga tapi patut diwaspadai untum ditea salah satunya adalah kelaster para perawat dan tenaga medis yang merawat pasien positif,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov Jabar juga melakukan tes proaktif kepada tenaga kerja asing dan keluarga pasien. Ridwan melanjutkan, tes proaktif ini hasilnya akan keluar sekitar lima jam dari hasil tes keluar dengan prosedur satu orang akan melewati dua tahap teknis pemeriksaan.

“Jadi tes ini hasilnya dapat diketahui dengan cepat. Data ini untuk kami jadikan panduan merespons selanjutnya. Mudah-mudahan (dari tes proaktif) tidak ada yang positif tapi kalau positif berarti terjadi peredaran bukan hanya diorang bergejala,” ujarnya.(Ade&DBS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini