KNews.id – Jakarta – Nabi Muhammad SAW memiliki tugas utama sebagai utusan Allah SWT. Beliau menjadi rahmat bagi alam semesta dan sebagai penyempurna akhlak. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiya: 107).
Menurut Imam ath-Thabari dalam tafsirnya, ayat di atas mengisyaratkan bahwa rahmat yang dibawa Rasulullah SAW meliputi seluruh kalangan. Bukan hanya umat Islam, kaum non-Muslim pun merasakan dampak positif dari rahmat itu.
Seperti dikatakan Ibnu Abbas, Allah Ta’ala mengutus Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, yakni termasuk orang yang beriman maupun yang tidak beriman. Rahmat bagi kaum Mukminin adalah berupa petunjuk dari Allah. Kelak, Allah pun akan memasukkan orang-orang yang beriman dan diridha-Nya ke dalam surga.
Adapun teruntuk orang-orang yang tidak beriman, maka rahmat baginya adalah bahwa Allah akan menghindarkan mereka dari dipercepatnya bala bagi mereka. Ingatlah keadaan kaum-kaum kafir pada masa sebelum Nabi SAW. Mereka langsung menerima azab karena mendustai rasul Allah.
Secara maknawi, rahmat adalah kasih sayang. Ini pun menjadi sebuah akhlak yang baik menurut ajaran Islam.
Syariat memotivasi dan memerintahkan kita, umat Islam, untuk memiliki karakteristik demikian. Bahkan Islam memberikan berbagai gambaran tentang rahmat atau kasih sayang itu dalam berbagai bentuk.
Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Nu’man bin Basyir. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Engkau lihat orang-orang Mukmin di dalam saling kasih sayang, hubungan yang hangat, dan merasakan, di antara mereka, seperti tubuh. Jika salah satu anggota tubuh mengeluh, maka seluruh tubuh itu akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
Wajarlah sesama Muslim saling hormat dan saling merendah, bukan saling merendahkan dan menghinakan. Lebih dari itu, mereka saling menyayangi dan bergaul dengan penuh kehangatan dan kekompakan.
Ini sesuai dengan firman Allah. Artinya, “Berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS Al-Hijr: 88).
Pahami makna tawaduk
Istilah tawaduk (tawadhu) sudah tidak asing di kalangan umat Muslim Indonesia, terutama di kalangan santri. Para ulama telah mengajarkan dan menganjurkan agar memiliki sikap tawadhu dalan kehidupan sehari-hari.
Ahmad Muhammad al-Hufy dalam bukunya Akhlak Nabi Muhammad SAW menerangkan tawadhu adalah sikap merendah diri tanpa menghinakan diri atau menurunkan harga diri sehingga orang lain berani meremehkan. Sikap tawaduk tak akan menjadikan orang rendah diri.
Bahkan sebaliknya, tawaduk dapat membawa seseorang mendapatkan penghormatan dari orang lain. Toleransi dan saling menghormati akan tumbuh dengan sikap tawaduk.
Pun sebaliknya, takabur sebagai lawan dari tawaduk akan menimbulkan kedengkian dan selalu merasa benar yang dapat memicu ketidakharmonisan antarsesama. Rasulullah SAW adalah sosok manusia paling sempurna untuk dijadikan teladan tentang sikap tawaduk. Dan sikap tawaduknya Nabi SAW itu tak mengurangi kewibawaan beliau di mata umatnya.
Sebagaimana yang pernah Nabi SAW lakukan, yakni memberikan makan dan minum untanya dengan tangannya sendiri, tanpa berat hati. Hal itu diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri. Selain itu, Rasulullah SAW juga tidak segan menyapu halaman rumahnya sendiri dan makan bersama dengan pembantunya.
Bagi laki-laki yang sudah berkeluarga, patut menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh. Beliau tidak malu pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah tangga dan membawanya barang tersebut sendiri.
Rasul SAW juga tidak segan berjabat tangan dan menyapa terlebih dahulu orang lain baik kaya, fakir maupun miskin. Sikap tawaduk itu menunjukkan hati yang sangat mulia.
Maka, menjauhi takabur dan bersikap tawaduk sangat dianjurkan oleh agama. Sebab takabur sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Allah berfirman. Artinya, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku (QS al-A’raf: 146).
Allah juga mengutuk orang-orang yang takabur. “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS Ghafir: 35).




