KNews.id – Jakarta – Tekanan pekerjaan yang berlangsung secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah burnout, yaitu fenomena akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik.
Burnout dapat dialami oleh pekerja dari berbagai bidang, terutama mereka yang menghadapi beban kerja tinggi, tuntutan produktivitas, dan waktu istirahat yang terbatas. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi performa pekerjaan, tetapi juga dapat berdampak pada kehidupan pribadi dan hubungan sosial.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan dalam International Classification of Diseases (ICD-11), bukan sebagai kondisi medis tersendiri.
Mengenali Tiga Gejala Utama Burnout
Burnout memiliki sejumlah karakteristik yang dapat dikenali melalui perubahan kondisi emosional maupun perilaku seseorang. WHO menjelaskan bahwa burnout berkaitan dengan tiga dimensi utama, yaitu perasaan kehabisan energi atau kelelahan, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan atau munculnya sikap negatif dan sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.
Seseorang yang mengalami burnout mungkin merasa lelah meskipun sudah beristirahat. Pekerjaan yang sebelumnya terasa menyenangkan juga dapat berubah menjadi beban yang sulit dihadapi. Selain itu, konsentrasi dapat menurun, motivasi berkurang, dan seseorang menjadi lebih mudah tersinggung ketika menghadapi tuntutan pekerjaan.
Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan burnout. Kondisi kesehatan lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa sehingga pemeriksaan profesional diperlukan apabila keluhan berlangsung berkepanjangan.
Faktor yang Dapat Memicu Burnout
Burnout umumnya berkaitan dengan tekanan pekerjaan yang berlangsung dalam jangka panjang. Beban kerja berlebihan, tenggat waktu yang ketat, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, serta lingkungan kerja yang tidak mendukung dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
Selain itu, ketidakjelasan tanggung jawab dan kurangnya apresiasi terhadap hasil kerja juga dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis pekerja.
Penggunaan teknologi komunikasi yang membuat seseorang terus terhubung dengan pekerjaan di luar jam kantor turut menjadi tantangan tersendiri. Kondisi tersebut dapat mengurangi waktu istirahat dan mengganggu keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi.
Cara Mengatasi Burnout Akibat Pekerjaan
Mengatasi burnout membutuhkan perubahan kebiasaan sekaligus perhatian terhadap faktor-faktor yang menyebabkan tekanan pekerjaan. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Mengatur waktu kerja dan istirahat
Usahakan memiliki batas waktu kerja yang jelas. Hindari kebiasaan terus memeriksa pesan pekerjaan ketika sedang beristirahat, kecuali memang terdapat kebutuhan mendesak.
2. Menentukan prioritas pekerjaan
Susun daftar tugas berdasarkan tingkat kepentingan dan tenggat waktu. Membagi pekerjaan besar menjadi beberapa bagian kecil dapat membantu mengurangi perasaan kewalahan.
3. Menjaga kualitas tidur
Tidur yang cukup membantu tubuh dan pikiran menjalani proses pemulihan. Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.
4. Melakukan aktivitas fisik
Berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan olahraga ringan dapat membantu menjaga kebugaran dan mendukung kesehatan psikologis.
5. Berkomunikasi dengan lingkungan kerja
Jika beban pekerjaan terasa berlebihan, cobalah menyampaikan kondisi tersebut kepada atasan atau rekan kerja yang dipercaya. Komunikasi dapat membantu menemukan solusi terkait pembagian tugas dan pengaturan target.
6. Meluangkan waktu untuk diri sendiri
Melakukan hobi, berkumpul bersama keluarga, atau menjalankan kegiatan yang disukai dapat membantu seseorang memperoleh waktu istirahat dari rutinitas pekerjaan.
Peran Perusahaan dalam Menjaga Kesehatan Mental Pekerja
Pencegahan burnout tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari lingkungan kerja. Perusahaan perlu menciptakan suasana kerja yang sehat melalui pembagian tugas yang wajar, komunikasi terbuka, penghargaan terhadap kinerja, serta kebijakan istirahat yang memadai.
Selain itu, akses terhadap layanan konseling atau program dukungan kesehatan mental dapat membantu pekerja menghadapi tekanan secara lebih baik.
Lingkungan kerja yang positif tidak hanya mendukung kesejahteraan karyawan, tetapi juga dapat membantu menjaga produktivitas dan kualitas hasil pekerjaan.
Jangan Mengabaikan Kesehatan Mental
Burnout merupakan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian, terutama ketika tekanan pekerjaan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Mengabaikan kelelahan berkepanjangan dapat membuat seseorang semakin sulit menjalankan aktivitas secara optimal.
Jika perasaan lelah, kehilangan motivasi, atau tekanan emosional terus berlangsung, seseorang dianjurkan mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional yang kompeten.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tanggung jawab pekerjaan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian penting untuk membangun kehidupan yang seimbang dan produktif.
Dengan mengenali gejala sejak dini, mengatur beban pekerjaan, serta mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, risiko dampak burnout dapat dikelola dengan lebih baik.
(RD)






