spot_img
Rabu, Juni 26, 2024
spot_img

Mengapa Dulu Saya Bela Jokowi, Lalu Mengkritisi?

Oleh : Henri Subiakto.

KNews.id – Ini cerita kenapa saya dulu bela Jokowi. Lalu sempat netral awal 2023, berubah mengkritisinya pasca keputusan MK no 90/2023. Sebelum 2014 saya sudah hormat ke pak Jokowi, pria sederhana dari rakyat kecil, yg sebelumnya pengusaha mebel, bisa sukses menjadi walikota.

- Advertisement -

Menurut saya Jokowi itu humble, tidak arogan, mau turun ke bawah nunjukkan kerja keras, hingga jadi simbol keberhasilan demokrasi dan reformasi. Jokowi mendobrak kultur pemimpin Indonesia yg tak harus dari anak orang besar, terkenal atau jenderal.

Tak harus doktor, Profesor, atau ulama. Rakyat kecil pun bisa jadi Presiden. Dimulai 2011 saat saya & eselon 1 lain pergi ke Solo hadiri acara Nasional. Jokowi sebagai walikota menyambut & menemani nonton wayang di Puro Mangkunegaran hingga tengah malam.

- Advertisement -

Saya kagum pribadinya yg tak segan mengantar & menemani tamu. Bahkan saat makan siang di Loji Gandrung bisa ngobrol akrab, Pak Jokowi guyon cerita tentang kondisi rumah peninggalan Belanda itu. Katanya malam-malam dia pernah kaget melihat sosok wanita berbaju putih dengan rambut terurai.

Sempat mau lari, tapi tak jadi karena wanita itu memanggilnya. Ternyata sosok bu Iriana. Itu joke pak Jokowi yg bikin akrab & kagum. Terlebih di banyak media ia diberitakan berhasil sebagai Walikota maupun Gubernur Jakarta. 2013 saya bertemu ustad dari Solo yg dekat dengan Pak Jokowi.

- Advertisement -

Kami sepakat menilainya sebagai pemimpin harapan masyarakat untuk masa depan. Saking percayanya kami mengajak Ulama besar, KH Hasyim Muzadi untuk mendukung pak Jokowi. Bekalnya Husnudzon lihat front stage-nya. Terlebih di awal2 Pemerintahannya jadi simbol toleransi & anti radikalisasi.

Jokowi juga simbol perubahan ekonomi & revolusi mental yang dia canangkan. Pembangunan infrastruktur terlihat massif & bagus. Rakyat bisa merasakan. Tapi ternyata dengan berjalannya waktu, hal-hal yang dulu tersembunyipun terbuka. Mulai dari mobil Esemka, hingga keluarga yang katanya tak tertarik politik ternyata ikut pilkada. Katanya hanya berbisnis martabak & pisang, ternyata berpolitik & punya saham di mana-mana.

Jokowi berubah jadi vigur yang sangat berkuasa, dan mengajukan sanak keluarganya. Back stage Jokowi terbuka. Detail ekonomi disorot ahli tak seindah di berita. Termasuk proyek-proyek besar infrastruktur menyimpan banyak hutang dan kekerugian BUMN Karya. Juga ketergantungan yang parah pada manca negara.

Transformasi digital yg menopang ekonomi rakyat terjadi tanpa penguatan kedaulatan. Deindustrialisasi yg bawa gelombang pengangguran sempat tertolong platform digital, tapi celakanya kita makin tergantung asing khususnya AS & China. Fakta paling mengecewakan itu ketidakjujuran Jokowi dalam berdemokrasi.

Dia menata perangkat politik & hukum untuk melanggengkan kekuasaan. Menyiapkan dinasti utk mengganti. Menundukkan elit2 politik dg kasus2 hukum. Lewat KPK, jaksa & terutama oknum polisi. Law as a tool of political engineering. Jokowi terlihat flip flop, tak jujur, hipokrit, hingga khianati partai & orang-orang yg membantunya.

Puncaknya Keputusan MK yg merusak tatanan negara terjadi demi anak yang belum cukup usia. Perilaku nir-etika itu seakan menjadi hal biasa & contoh dalam berpolitik bagi anak bangsa. Politik dramanya membuat Indonesia dinilai para pengamat sabagai negara authoritarian democracy atau fake democracy yg banyak mengandalkan kekuatan kapital atau oligarki.

Ini yang membuat ada kewajiban moral bagi kami akademisi utk mengingatkan sekaligus mengungkap kebenaran. Bagi kami mengritik & mengoreksi itu tak semata untuk dia, melainkan demi kebaikan bangsa & negara supaya sadar tidak terlalu percaya pada permainan drama.

Jadi kekritisan saya itu bagian dr rasa sayang utk jaga kewarasan berbangsa & bernegara. Ini beda dengan para pembencinya. Bagi saya ini bukan kekecewaan pribadi. Bukan pula kebencian sejak awal, melainkan kewajiban etis & intelektual utk ikut menciptakan kesadaran & kecerdasan dlm berpolitik di negeri tercinta. Jangan sampai perusakan demokrasi sekarang ini berdampak buruk hingga ke anak cucu kita.

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini