KNews.id – Jakarta – Tanggal 10 Muharram atau hari Asyura merupakan salah satu hari yang istimewa dalam kalender Islam. Pada hari tersebut, umat Islam melaksanakan puasa sunnah dan memperbanyak amal saleh.
Di Indonesia, terdapat tradisi tersendiri, yaitu menyantuni anak yatim pada 10 Muharram. Maka dari itu, sebagian masyarakat menyebutnya sebagai Lebaran Anak Yatim atau Idul Yatama.
Lalu, apa yang melatarbelakangi munculnya sebutan tersebut?
Asal-usul 10 Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim
Dalam buku MIMBAR DAKWAH: Pesan Islam untuk Kehidupan Modern karya Ahmad Arif Hidayat dkk, dijelaskan bahwa Islam sangat menganjurkan kepedulian terhadap anak yatim dan kaum dhuafa.
Anjuran ini kemudian melahirkan kebiasaan di tengah masyarakat untuk berbagi rezeki kepada anak yatim pada 10 Muharram. Dari sinilah muncul istilah Hari Raya Anak Yatim atau Lebaran Anak Yatim. Sebutan tersebut berkembang sebagai tradisi masyarakat untuk mengingatkan pentingnya membantu anak-anak yatim.
Meski demikian, dalam syariat Islam tidak terdapat ketentuan yang menetapkan 10 Muharram sebagai hari raya resmi. Sebutan “Lebaran Anak Yatim” lebih merupakan tradisi yang bertujuan mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak yatim.
Memberi perhatian terhadap anak yatim memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 36:
۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Arab latin: Wa’budullāha wa lā tusyrikū bihī syai’aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīl(i), wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu man kāna mukhtālan fakhūrā(n).
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Keutamaan Menyantuni Anak Yatim pada Hari Asyura
Dalam buku yang sama dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kasih sayang yang besar kepada anak-anak yatim. Pada hari Asyura, beliau menjamu dan bersedekah kepada anak yatim serta keluarganya.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.”
Riwayat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa terdapat banyak kegiatan santunan anak yatim yang diselenggarakan pada 10 Muharram. Hari Asyura kemudian identik dengan kegiatan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Balasan bagi Orang yang Menanggung Anak Yatim
Islam menjanjikan keutamaan yang besar bagi orang yang merawat dan membantu anak yatim. Rasulullah SAW bersabda:
“Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.” Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR Bukhari)
Meski begitu, kepedulian kepada anak yatim tidak cukup dengan santunan sesaat. Mereka juga memerlukan dukungan yang berkelanjutan, seperti makanan yang layak, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan hingga dewasa.
Karena itu, perhatian kepada anak yatim tidak seharusnya terbatas pada bulan Muharram. Islam menganjurkan umatnya untuk terus membantu, menyayangi, dan menjaga kesejahteraan mereka sepanjang waktu.





