KNews.id – Jakarta – Punya utang memang sering bikin pikiran tegang dan perasaan gak tenang. Wajar kalau kamu kepikiran untuk melunasinya secepat mungkin dengan cara apa pun. Salah satu opsi yang sering muncul adalah mencairkan reksa dana karena dana sudah ada dan tinggal ditarik.
Sekilas, langkah ini terlihat praktis dan cepat. Akan tetapi, keputusan keuangan jarang sesederhana itu. Tanpa pertimbangan matang, niat baik melunasi utang justru bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan.
1. Pajak dan biaya bisa mengurangi dana yang diterima
Saat kamu mencairkan reksa dana, jumlah uang yang masuk ke rekening belum tentu sama dengan nilai investasi yang terlihat. Ada potongan tertentu yang bisa muncul, terutama jika reksa dana sudah menghasilkan keuntungan. Biaya transaksi juga berpotensi mengurangi dana cair yang kamu terima. Akibatnya, uang yang bisa dipakai untuk bayar utang jadi lebih kecil dari rencana awal.
Kondisi ini sering terlewat karena fokus hanya tertuju pada besarnya utang. Padahal, setiap pencairan investasi punya konsekuensi finansial. Keuntungan yang seharusnya dinikmati di masa depan ikut berkurang. Jika tidak dihitung sejak awal, kamu bisa merasa sudah berkorban banyak, tapi hasilnya kurang maksimal.
2. Kehilangan peluang pertumbuhan dana ke depan
Reksa dana dirancang untuk berkembang seiring waktu, bukan untuk dicairkan secara terburu-buru. Semakin lama dana dibiarkan berputar, semakin besar potensi pertumbuhannya. Ketika kamu mencairkannya demi bayar utang, proses pertumbuhan itu otomatis berhenti. Dana yang tadinya bekerja untuk masa depan kini langsung habis untuk kebutuhan saat ini.
Masalahnya, mengumpulkan kembali dana investasi gak selalu mudah. Butuh komitmen, waktu, dan kondisi keuangan yang stabil. Jika setelah pencairan kondisi keuangan belum membaik, rencana investasi bisa tertunda cukup lama. Dampaknya baru terasa beberapa tahun kemudian saat kamu menyadari aset keuangan gak berkembang seperti seharusnya.
3. Risiko mencairkan saat nilai sedang turun
Kerugian seperti ini terasa makin berat karena terjadi di saat terdesak. Di satu sisi, kamu memang berhasil mengurangi utang. Di sisi lain, nilai investasi terjual di harga yang kurang ideal. Keputusan yang diambil karena tekanan sering kali membuat hasil akhirnya gak optimal.
4. Investasi habis, utang belum tentu tuntas
Melunasi utang dengan reksa dana memang memberi rasa lega di awal. Akan tetapi, masalah bisa muncul jika utang yang dibayar berasal dari pola pengeluaran yang belum berubah. Tanpa perbaikan kebiasaan finansial, risiko utang baru tetap ada. Saat itu terjadi, investasi sudah terlanjur habis dan gak bisa jadi penopang lagi.
Kondisi ini justru membuat posisi keuangan semakin rapuh. Kamu kehilangan dana cadangan sekaligus aset yang bisa berkembang. Ketika ada kebutuhan mendadak, pilihan yang tersisa biasanya kembali berutang. Siklus seperti ini bisa terus berulang jika akar masalahnya gak dibereskan.
5. Ada pilihan lain yang lebih ramah keuangan
Selain itu, fokus meningkatkan arus kas juga patut dipertimbangkan. Mengurangi pengeluaran gak penting atau mencari tambahan pemasukan bisa memberi ruang bernapas. Utang tetap dibayar secara bertahap, sementara investasi tetap berjalan. Pendekatan ini memang butuh kesabaran, tapi risikonya jauh lebih terkendali.
Keinginan melunasi utang secepat mungkin adalah hal yang wajar dan patut diapresiasi. Meski begitu, mencairkan reksa dana sebaiknya gak dilakukan secara impulsif. Ada potongan, risiko kehilangan pertumbuhan, hingga dampak jangka panjang yang perlu dipikirkan.
Dengan mempertimbangkan alternatif lain, kamu bisa tetap mengurangi utang tanpa mengorbankan masa depan finansial. Keputusan yang tenang dan terukur biasanya memberi hasil yang jauh lebih aman.




