spot_img

Masuk Bulan Safar 1448 H, Benarkah Allah Menurunkan Bala?

KNews.id – Jakarta – Umat Islam hari ini memasuki bulan Safar 1448 H. Ada keyakinan bahwa Allah SWT menurunkan bala bencana pada bulan ini. Benarkah?

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Orang Arab jahiliah menganggap Safar adalah bulan sial. Dulu mereka juga meyakini adanya penyakit safar akibat sejenis ular besar berbahaya bersarang di perut manusia.

- Advertisement -

Keyakinan Turun Bala di Bulan Safar Tidak Benar

Pertanyaan yang kemudian muncul, benarkah Allah SWT menurunkan bala di bulan Safar? Jawabannya tidak benar. Tak ada satu pun nash baik dalam Al-Qur’an maupun hadits yang menyebutkan masalah ini.

Dijelaskan dalam buku 1001 Pertanyaan Soal Jawab Agama oleh Ustaz Abu Muslim, kepercayaan turunnya bala pada bulan Safar–tepatnya Rabu terakhir bulan Safar–termasuk kurafat (takhayul) warisan jahiliah.

- Advertisement -

Takhayul ini ditolak Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR Bukhari)

Rasulullah SAW juga melarang mencela bulan, hari, atau tahun. “Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah (pencipta) masa.” (Shahih Muslim)

Menurut keterangan dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Safar sama dengan bulan Muharram, Rabiul Awal dan bulan-bulan lainnya, tidak ada kaitannya dengan optimisme atau pesimisme. Umat Islam dianjurkan berpegang teguh pada sunnah dan meninggalkan bid’ah.

Nabi SAW secara tegas melarang tathayyur (thiyarah) atau menganggap suatu peristiwa sebagai pertanda kesialan.

- Advertisement -

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لا عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَالُ، قَالُوْا : وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ.

Artinya: Dari Anas RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada sial karena sesuatu, dan aku takjub dengan fa’l. Para sahabat bertanya, ‘Apakah fa’l itu? Beliau menjawab, ‘Kalimah thayyibah’ (kata-kata yang baik).” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat lain dikatakan:

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَإِنْ كَانَ الشَّوْمُ فِي شَيْءٍ فَفِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ.

Artinya: Dari Ibnu Umar RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada sial. Jika sial ada pada sesuatu, maka ada pada rumah, perempuan, dan kuda’.” (Muttafaq ‘Alaih)

Abu Dawud juga meriwayatkan hadits dengan isnad shahih yang menyebut Rasulullah SAW tidak pernah merasa sial dengan sesuatu apa pun.

وَعَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَتَطَيَّرُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ

Artinya: “Dari Buraidah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah merasa sial dengan sesuatu apa pun.”

Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Tidak ada kesialan pada bulan, waktu, atau peristiwa tertentu. Umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan mohon perlindungan-Nya. Salah satunya dengan doa yang disebutkan dalam kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillāhilladhī lā yaḍurru ma’asmihi shay’un fīl-arḍi wa lā fīs-samā’i wa huwa as-samī’ul-‘alīm

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang tiada suatu pun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan-Nya, Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Doa ini bisa diamalkan sebagai zikir pagi dan petang.

(RD/DTH)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini