spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
spot_img

Makna Kepemimpinan

Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP
Kebijakan Umum Hukum dan Poltiik

KNews.id – Jakarta 15 Desember 2025 – Menurut Ibnu Khaldun sosok pemimpin ideal: memiliki solidaritas sosial (ashabiyah) yang kuat, kharisma, keberanian, kecerdasan, keadilan, serta kemampuan menjaga rakyat dengan keteguhan hati, memberikan teladan, dan mengutamakan kemaslahatan umum, bukan kekuasaan demi kepentingan pribadi, untuk memastikan stabilitas dan kemakmuran bangsa.”

- Advertisement -

Oleh karenanya uraian yang sependapat dengan sang tokoh filsuf idealnya pemimpin, sejatinya seorang sosok yang merupakan “murid pemerhati” atau proses belajar, dan tidak sekedar pandai namun cerdas (kapabel) sehingga dapat membedakan dan siap dan yakin sanggup menjadi pembeda karena menyadari dirinya sungguh memiliki banyak inovasi dan dilatarbelakangi rasa turut serta bertanggungjawab secara moral kepada nasib bangsanya melalui dua sektor paling penting bagi kehidupan manusia dan sumber kebodohan yakni ilmu, ekonomi _dan sanggup berlaku adil.

Menurut Arietoteles idealnya sosok pemimpin: “seorang individu yang bajik (memiliki kebajikan moral yang konsisten) dan memiliki kebijaksanaan praktis (phronesis), yang memerintah demi kesejahteraan bersama”._

- Advertisement -

Sosok pemimpin adalah melihat banyak kekurangan kepemimpin yang sedang berlangsung, sementara dirinya meyakini bisa lebih cepat dan berlipat kuantitas kemajuan rakyat dibidang ekonomi, namun tetap tanpa merusak adab dan budaya (bangsa bermoral) bahkan bercita cita berkesanggupan membantu bangsa bangsa di dunia (sesama manusia).

Jika diri pemimpin uncredible, tidak kapabel, motivasi hanya ingin tercatat dalam sejarah bangsa dan nama besar, maka nama besar bisa saja didapat, dengan bantuan konglomerasi atau banyak pihak, namun dengan start yang buruk, karena pastinya bakal lebih banyak “minta petunjuk daripada menunjuk” bahkan didikte, sehingga akan keliru memilih pembantu, karena hanya berdasakan penampakan (intuisif) dan ‘titipan,’ hasilnya akan memperoleh pembantu yang unbelievably, andai pemimpin tertinggi tidak cerdas (uncredibe).

Dalam perjalanan kepemimpinan yang tidak potendial akan bersisa residu kontra produktif, bukan saja not extra ordinary, bahkan bisa lebih buruk dari sebelumnya, malah menjadi sosok perusak diberbagai sendi ekonomi, politik dan moral, lalu terus berlaku curang karena ingin menutupi apa pun kelalaian yang ada dimasa kepemimpinan, lalu berusaha melakukan pola estafet kepemimpinan kepada kroni yang buruk perangai atau keluarga terdekat tèrpercaya, sekedar demi melindungi keselamatan diri pribadi dan nama baik. Mirip sosok kekinian eks Presiden RI Ke- 7.

Prinsipnya sosok pemimpin mesti lebih kapabel, jauh lebih maju pada setiap sektor kebutuhan anak bangsa dari pemimpin sebelumnya, bukan sekedar menggantikan, jika sekedar menggantikan maka bangsa ini memiliki stock 100 juta laki laki dewasa dan ready menjadi pemimpin.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini