spot_img
Selasa, Desember 16, 2025
spot_img
spot_img

Makna Dalam Ayat Ketujuh Al-Fatehah, Dapat di Amalkan Bagi Orang-orang Tersesat

KNews.id – Jakarta, Allah menjelaskan adanya orang-orang yang tersesat. Dalam ayat ketujuh Al Fatihah misalkan, ada kata maghdhub (مغضوب) yang berarti tersesat. Siapakah mereka yang disebut Allah berada di jalan yang sesat? Berikut ini adalah penjelasan ahli tafsir Alquran.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud mereka yang tersesat adalah kelompok orang-orang yang sudah mengetahui kebenaran, tapi enggan melaksanakannya. Misalkan, mereka sudah mengetahui kenabian Muhammad SAW, tapi malah mengingkari kenabian tersebut. Kemudian mereka sudah mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah, tapi mereka malah menyembah berhala dan dewa dewi yang mereka ciptakan.

- Advertisement -

Lebih lanjut, Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan sebagai berikut:

Adapun jalan yang lurus (اهدنا لصراط المستقيم) adalah  “jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” dari para nabi orang-orang yang benar dalam keimanan para syuhada dan orang-orang sholeh.

- Advertisement -

“Bukan” jalan orang “yang dimurkai” yaitu orang yang mengetahui kebenaran namun meninggalkan kebenaran tersebut seperti Yahudi dan semisal mereka dan “bukan” pula jalan “orang-orang yang sesat” yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan seperti orang-orang Nasrani dan semisal mereka.

Surat ini dengan ke ringkasannya telah meliputi hal-hal yang tidak diliputi oleh surat-surat lainnya dalam al-quran. surat ini mengandung macam-macam tauhid yang tiga yaitu tauhid rububiyyah yang disarikan dari firman Allah robbil ‘alami (robb sekalian alam), tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan.

Allah dalam beribadah, yang disarikan dari firmannya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan), dan tauhid asma wa shifat, yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah yang telah ditetapkan oleh diri-Nya dan ditetapkan oleh rasul-Nya tanpa mengingkari, memisalkan dan menyerupakan di mana sesungguhnya hal itu ditunjukkan oleh kalimat alhamdu (segala pujian) sebagaimana yang telah lalu.

Demikian juga surat ini mengandung penetapan akan kenabian dalam firmannya ihdinashirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena hal itu tidak akan mungkin tanpa adanya Risalah.

Juga penetapan akan balasan bagi segala perbuatan, yaitu dalam firmannya maliki yaumiddin (yang menguasai Hari pembalasan) dan bahwasanya balasan itu terjadi dengan keadilan karena pembalasan adalah ganjaran dengan adil.

Dan penetapan akan takdir bahwasanya seorang hamba itu benar-benar sebagai pelaku berbeda dengan pemikiran Qodariyah maupun Jabariyah.

- Advertisement -

Bahkan ia mengandung penolakan terhadap ahli-ahli bid’ah kesesatan seperti dalam firmannya ihdinaa shirotol mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena ia bermakna mengetahui yang benar lalu mengamalkannya sedangkan setiap pelaku Bid’ah dan pelaku kesesatan adalah menyimpang dari semua itu.

Juga mengandung ajaran untuk ikhlas beragama hanya untuk Allah Semata. ibadah maupun permohonan pertolongan itu dalam firmannya iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in  (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan).

(FHD/IQRA)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini