7 mins read

Larangan di Bulan Muharram yang Tidak Boleh Dilakukan Umat Islam

KNews.id  – Muharram 1446 Hijriah telah tiba! Selama bulan suci yang mulia ini, umat Islam dilarang melakukan berbagai hal. Apa saja? Di bawah ini penjelasan lengkap mengenai tiga larangan di bulan Muharram!

Muharram merupakan satu dari empat bulan haram bersama dengan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Dikutip dari buku Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah oleh Abu Ubaidah Yusuf dan Abu Abdillah Syahrul Fatwa, Nabi Muhammad bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمُ : ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتُ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Satu tahun itu dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Satu lagi adalah bulan Rajab yang terletak antara bulan Jumada Tsaniyah dan Syaban.” (HR Bukhari 2958)

Dikutip dari buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah oleh Ida Fitri Shohibah, nama Muharram berasal dari kata Arab harrama-yuharrimu-tahriiman. Kata tersebut berarti “diharamkan”. Maknanya, Muharram adalah sesuatu yang terhormat dan diharamkan dari hal-hal buruk.

Sesuai dengan kategorinya sebagai bulan haram dan arti namanya, terdapat larangan-larangan selama Muharram. Apa saja larangannya? Berikut ini detikJogja sajikan pembahasan lengkapnya.

Larangan-larangan di Bulan Muharram

1. Larangan Berperang
Dalam Al-Quran, tepatnya surat al-Baqarah ayat 217, Allah SWT berfirman,

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِۚ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِۗ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْاۗ وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Namun, menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidil Haram, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Fitnah (pemusyrikan dan penindasan) lebih kejam daripada pembunuhan.” Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu jika mereka sanggup. Siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, sia-sialah amal mereka di dunia dan akhirat. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Lebih lanjut, dirangkum dari laman resmi Pengadilan Agama Sanggau, para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang larangan perang ini. Pendapat pertama dari kalangan mufassirin dan fuqaha adalah bahwasanya larangan berperang ini telah dimansukh atau dihapuskan.

Dalil yang dipakai untuk mendasarinya adalah At-Taubah ayat 36. Selain itu, adanya fakta sejarah bahwasanya Perang Hunain dan Thaif yang dilakukan Rasulullah terjadi pada bulan haram.

Sementara itu, pendapat kedua menyatakan bahwa larangan di bulan ini masih berlaku dan tidak dibatalkan. Di antara dalil yang dipakai adalah surat at-Taubah ayat 5 dan al-Baqarah ayat 194. Redaksi al-Baqarah 194 adalah sebagai berikut:

اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Bulan haram dengan bulan haram dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) kisas. Oleh sebab itu, siapa yang menyerang kamu, seranglah setimpal dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Namun, dikutip dari NU Online, Syaikh Nawawi al-Bantani justru menyebut ayat di atas menjadi dalil bolehnya orang Islam berperang pada bulan haram. Dengan catatan, tujuan perangnya adalah membela diri, bukan melakukan ekspansi atau membuka perang baru. Wallahu a’lam.

2. Larangan Berbuat Aniaya untuk Diri Sendiri
Umat Islam juga dilarang melakukan perbuatan aniaya atau menzalimi diri sendiri selama bulan haram, termasuk Muharram. Hal ini difirmankan Allah SWT dalam surat at-Taubah ayat 36 yang berbunyi:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfudz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Kembali disadur dari NU Online, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi memberi penjelasan lebih lanjut,

العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ

Artinya: “Amal saleh lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya.” (Imam al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an juz IV halaman 44)

Juga ucapan Qatadah dalam buku 33 Faidah Seputar Asyuro & Muharram tulisan Syaikh Muhammad Salih al-Munajjid,

إن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئة ووزراً من الظلم فيما سواها. وإن كان الظلم على كل حال عظيماً، ولكن الله يعظم من أمره ما يشاء

Artinya: “Sesungguhnya berbuat zhalim (aniaya) di bulan-bulan haram ini adalah lebih besar dosa dan balasannya dibandingkan bulan-bulan lainnya. Apabila kezhaliman di setiap keadaan itu adalah besar (dosanya), namun Allah jadikan kezhaliman di beberapa kondisi lebih besar lagi (dosanya) sesuai dengan kehendak-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari XIV/238 dan Tafsir Ibnu Katsir IV/148)

3. Larangan Berbuat Bid’ah
Diringkas dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia, berbuat bid’ah adalah perilaku terlarang. Apa itu bid’ah? Dalam buku Pengertian Bid’ah dan Bahayanya serta Celaan Bagi Pelakunya oleh Syaikh Khalid bin Ahmad az-Zahrani, para ulama berbeda pendapat untuk menafsirkan kata ini.

Ibnu Rajab berkata,
“Yang dimaksud bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak ada dasarnya di dalam syariat yang menunjukkan atasnya. Adapun yang ada dasarnya di dalam syara’ yang menunjukkan atasnya maka ia tidak termasuk bid’ah, sekalipun bid’ah secara bahaya.”

Syaikh Hafizh Hakami berkata,
“Dan pengertian bid’ah: syariat yang tidak diizinkan oleh Allah SWT dan tidak ada perintah Nabi SAW dan tidak pula perintah para sahabat atasnya.”

Di antara perilaku bid’ah yang ada pada Muharram adalah melukai diri untuk mengenang peristiwa Karbala dan peringatan kegembiraan atas kematian Husain. Sebab, Rasulullah SAW pernah bersabda,

فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدى هدى محمد، وشر الأمور محدثاتها، و”كل” بدعة ضلالة

Artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah (hal baru) adalah sesat.” (HR Muslim)

Amalan-amalan Muharram
1. Puasa Mutlak
Puasa mutlak adalah puasa yang dikerjakan tanpa ikatan waktu dan hajat. Dalil anjuran pengerjaan puasa ini adalah hadits Muslim berikut:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram.” (HR Muslim 1982)

Dalam buku Catatan Fikih Puasa Sunnah oleh Hari Ahadi, Imam an-Nawawi pernah berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَمِنْ الصَّوْمِ الْمُسْتَحَبِ صَوْمُ الأَشْهُرِ الحُرُمِ وهي ذُو القَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُّ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Ulama madzhab kami berpendapat, termasuk puasa yang dianjurkan ialah berpuasa pada bulan-bulan haram, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, al-Muharram, dan Rajab. Yang paling utamanya berpuasa pada bulan al-Muharram.” (Al-Majmu’, VI/386)

Ringkasnya, umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah selama Muharram. Adapun tata caranya sama dengan puasa pada umumnya. Namun, puasa ini tidak boleh dikerjakan selama sebulan penuh, sebab, Rasulullah (sebagai panutan) hanya berpuasa sebulan penuh pada Ramadhan.

2. Puasa Tasua dan Asyura
Berturut-turut pada 9 dan 10 Muharram, disunnahkan mengerjakan puasa Tasua dan Asyura. Pensyariatan puasa Tasua tercermin dalam hadits yang diriwayatkan Muslim di bawah ini,

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ يَوْمُ تُعَظِمُهُ الْيَهُودُ، وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” : ” فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ” . قَالَ : فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوفَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Saat Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, saat itu para sahabat menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada tahun depan insya allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (al-Muharram).’ Belum tiba tahun berikutnya melainkan Rasulullah SAW telah wafat.” (HR Muslim 1134)

Adapun puasa Asyura, hadits terkenal tentangnya menjelaskan keutamaan puasa ini. Rasulullah SAW bersabda,

صِيَامُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa Asyura, aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim 1162)

3. Memperbanyak Amal Shalih
Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal-amal shalih adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Tidak hanya di bulan-bulan haram saja, melainkan juga di bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, untuk bulan haram, hal ini lebih dipertegas lagi.

Alasannya, amal kebaikan yang dikerjakan pada bulan haram akan diganjar pahala besar. Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi berkata,

العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ

Artinya: “Amal shalih lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya.” (Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an juz IV, halaman 44)

Di antara amalan shalih yang bisa dikerjakan adalah:

  • Sholat sunnah (rawatib, qiyamul lail, tahiyyatul masjid, dan lain sebagainya).
  • Membaca Al-Quran secara rutin
  • Berdzikir kepada Allah SWT.
  • Bersedekah.

(Zs/dtk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *