Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Jakarta 6 Maret 2026 – Pertikaian antara Sunni dan Syiah sering digambarkan sebagai konflik teologis yang tak berujung, seolah-olah perbedaan tentang siapa penerus sah Nabi Muhammad adalah sumber abadi dari permusuhan Islam terhadap Islam.
Semestinya umat Islam jangan jodoh dan tolol bahwa perpecahan tidak sekadar persoalan fikih dan akidah. Tersembunyinl ini bukan pertarungan teologis tetapi perebutan pengaruh, kekuasaan masuk ke jantung politik Islam. Sadar atau tidak di sponsori kaum Yahudi khususnya AS dan Israel yang menyebar dimana-mana.
Akar historisnya memang berawal dari perpecahan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7. Kelompok pertama, yang kemudian dikenal sebagai Sunni, “meyakini kepemimpinan umat harus dipilih berdasarkan musyawarah, bukan garis keturunan”.
Sementara kelompok lain, Syiah, percaya bahwa “kepemimpinan seharusnya tetap berada di tangan keluarga Nabi, dimulai dari Ali bin Abi Thalib”. Dari perbedaan pandangan itulah lahir dua tradisi besar Islam yang berkembang seolah olah menjadi ajang pertarungan teologis dan geopolitik antar negara.
Sangat tenang benderang contoh orang Zionis yang tertangkap akan dan telah mengebom pangkalan militer AS di Arab Saudi – adalah rekayasa politik Israel menyeret agar Arab Saudi terlibat langsung perang dengan Iran atas nama Sunni melawan Syiah.
Sebab lain gesekkan Syiah dan Sunni berawal pada tahun 1979, ketika Revolusi Iran menggulingkan monarki Shah Pahlavi dan menegakkan sistem Wilayatul Faqih—konsep yang menempatkan ulama sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, agama dan negara menyatu dalam satu otoritas politik yang sah. Iran menjelma menjadi republik Islam Syiah revolusioner, semangatnya anti-imperialisme dan anti-monarki ke panggung dunia.
Sejak itu, Iran tampil sebagai poros perlawanan terhadap hegemoni Barat, terutama Amerika Serikat, dan menentang tatanan monarki yang dianggap menindas umat Islam.
Ideologi ini secara langsung menyentuh sistem politik Arab Saudi—kerajaan monarki absolut yang justru bersekutu dengan Barat, mengandalkan perlindungan ekonomi dan militer Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas internalnya.
Lagi lagi hegemoni Barat, Amerika dan Israel menemukan momentumnya dengan mudah mengadu domba Arab Saudi dan Iran dikemas sebagai Sekte Agama yang seolah olah bertentangan antara *Islam revolusioner Iran melawan Islam konservatif Saudi.”
Syaikh Mahmud Shaltut, Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo, pada tahun 1959 mengeluarkan fatwa bersejarah yang mengakui mazhab Ja’fari (Syiah) sebagai salah satu mazhab Islam yang sah. Secara teologis, langkah ini semestinya menutup ruang sektarianisme. Namun, dalam praktik politik, fatwa itu tidak berarti.
Arab Saudi, sebagai penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah, menolak menjadikannya dasar rekonsiliasi politik. Bagi Riyadh, pengakuan terhadap Syiah tidak hanya soal teologi, tapi juga pengakuan terhadap legitimasi politik Iran sebagai pemimpin umat Islam.
Tetap saja ada kekuatan khusus AS ambil posisi agar Arab Saudi menolak berbagi kiblat kekuasaan dengan Iran yang lebih cerdas dan berani melawan kekuatan Imperialis Barat.
Jadi harus berulang – ulang diingatkan kalian jangan bodoh dan tolol, adalah benar bahwa konflik Sunni–Syiah lebih kuat karena kepentingan Imperialisme yang selamanya akan ditentang Iran, bukan soal perbedaan Iman.
Amerika Serikat, Israel, dan kekuatan Barat lainnya benar benar memiliki peran besar dalam permainan ini. Mereka memanfaatkan rivalitas Riyadh–Teheran sebagai strategi pecah-belah, menjaga agar dunia Islam jangan sampai bersatu menghadapi dominasi global.
Dalam kerangka geopolitik inilah, konflik Sunni–Syiah menjadi komoditas politik internasional—dipelihara, didramatisasi, dan dimanfaatkan.
Jadi siapa yang diuntungkan dari konflik yang tak kunjung padam ini. Jelas bukan umat Islam. Yang diuntungkan adalah kekuatan-kekuatan yang hidup dari perpecahan AS, Isreal dan bangsa Imperialis Barat. Perusahaan senjata yang memasok perang antar negara Islam.
Yang seharusnya diperangi bukanlah mazhab yang berbeda, melainkan kerakusan dan manipulasi yang menjadikan perbedaan sebagai alat kekuasaan. Karena pada akhirnya, musuh sejati umat Islam bukanlah sesama Muslim—melainkan mereka yang bertepuk tangan di kejauhan, menyaksikan api perpecahan terus menyala di atas nama Tuhan yang sama.
(FHD/NRS)




