spot_img
Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
spot_img

Konflik Iran Bikin Saham Big Caps Jadi Diskon

KNews.id – Jakarta – Pelemahan pasar saham sejak awal 2026 membuka peluang akumulasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang kini diperdagangkan pada valuasi lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya.

Tekanan pada pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari arus keluar dana asing, penyesuaian indeks global seperti MSCI, hingga ketidakpastian geopolitik yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran.  Kondisi tersebut membuat banyak investor bersikap risk-off sehingga memicu tekanan jual di berbagai sektor.

- Advertisement -

Di tengah kondisi itu, sejumlah saham unggulan seperti BBCA hingga ASII dinilai mulai masuk kategori saham diskon jika dilihat dari pendekatan valuasi price to earnings ratio (PE).

Berdasarkan harga penutupan perdagangan Senin (9/3/2026), PE BBCA berada di level 14,73 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PE lima tahun terakhir yang mencapai 20,68 kali.

- Advertisement -

Sementara itu, ASII masuk dalam daftar saham berkapitalisasi besar dengan PE di bawah 10 kali dan return on equity (ROE) di atas 7%. Pada harga penutupan yang sama, PE ASII tercatat di level 7,23 kali.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan koreksi harga pada sejumlah saham berfundamental kuat tersebut lebih banyak dipicu oleh arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

Secara year to date hingga penutupan Selasa (10/3/2026), tercatat net sell asing sebesar Rp8,80 triliun di seluruh pasar. Kondisi tersebut dipicu oleh sentimen makro global yang mendorong investor mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

“Bank big caps seperti BMRI, BBRI, BBCA dan konglomerasi seperti ASII dan INDF ini pure diskon,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Meski demikian, Wafi mengingatkan bahwa valuasi murah tidak selalu berarti saham tersebut menarik untuk dikoleksi. Ia mencontohkan saham UNVR, yang menurutnya berpotensi menjadi value trap karena menghadapi tekanan fundamental, mulai dari penyusutan pangsa pasar hingga margin yang tergerus.

Sementara itu, MNCN juga dinilai menghadapi tantangan struktural akibat disrupsi model bisnis industri media serta penurunan belanja iklan. Dalam kondisi seperti ini, harga saham yang rendah dinilai lebih mencerminkan pelemahan fundamental dibandingkan peluang valuasi murah.

- Advertisement -

Strategi yang disarankan Wafi adalah agar investor tidak hanya terpaku pada rasio PE rendah semata, melainkan mempertimbangkan kualitas fundamental perusahaan secara keseluruhan.

Menurutnya, investor perlu mengombinasikan PE rendah dengan ROE tinggi di atas 15%, utang terkendali dengan debt to equity ratio (DER) rendah, arus kas operasi positif, serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.

“Lakukan akumulasi atau buy on weakness secara mencicil. Untuk buy on weakness, pilihannya BMRI, BBRI, BBCA, INDF, ASII. Sedangkan untuk trading buy, saham ADRO, UNTR, LSIP, AKRA, CTRA. Sedangkan, wait and see untuk UNVR dan MNCN yang sedang menghadapi tantangan fundamental sektoral,” pungkasnya.

Peluang dari Saham Undervalued

Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai kondisi pasar saat ini memang membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas yang diperdagangkan di bawah valuasi wajarnya.

Salah satu pendekatan yang umum digunakan untuk mengidentifikasi saham undervalued adalah price to earnings ratio (PE), yang menggambarkan perbandingan harga saham terhadap laba bersih per saham atau earnings per share (EPS).

Saat ini, sejumlah emiten tercatat memiliki rasio PE yang berada di bawah rata-rata lima tahun terakhirnya sehingga masuk dalam kategori saham diskon. Namun demikian, Ekky mengingatkan bahwa pendekatan valuasi tetap perlu dikombinasikan dengan analisis fundamental dan prospek sektor.

“Saham dengan rasio PE rendah belum tentu otomatis memiliki peluang kenaikan yang besar. Valuasi murah bisa menjadi indikator awal, tetapi tetap perlu dilihat apakah didukung oleh prospek bisnis, momentum sektoral, serta kualitas fundamental perusahaan,” kata Ekky kepada Bisnis, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, dari daftar saham dengan valuasi murah saat ini, LSIP dan AKRA termasuk yang menarik untuk dicermati karena didukung momentum sektoral yang relatif positif.

LSIP masih mendapat dukungan dari prospek komoditas crude palm oil (CPO), sementara AKRA memiliki katalis dari pertumbuhan aktivitas perdagangan energi serta pengembangan kawasan industri.

Ekky menilai bahwa dalam banyak kasus saat ini, valuasi saham yang terlihat murah lebih disebabkan oleh kondisi pasar yang sedang tertekan dibandingkan pelemahan kinerja fundamental perusahaan.

Sentimen global yang bergejolak membuat investor cenderung meningkatkan porsi kas sehingga tekanan jual terjadi secara luas di pasar saham.

“Jadi dalam banyak kasus, valuasi yang terlihat murah saat ini bukan semata-mata karena kinerja perusahaan melemah, tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen pasar dan arus dana yang keluar dari aset berisiko,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu indikator valuasi saat mengambil keputusan investasi.

“Saham yang terlihat murah belum tentu memiliki potensi kenaikan jika tidak didukung oleh katalis yang jelas. Oleh sebab itu pendekatan yang lebih bijak adalah mengombinasikan analisis valuasi dengan analisis fundamental dan momentum pasar, sehingga keputusan investasi bisa lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada satu indikator saja,” tandasnya.

Daftar Saham Diskon

Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas melalui penyaringan saham dengan PE di bawah rata-rata lima tahun terakhir dari harga penutupan Senin (9/3/2026), terdapat sejumlah emiten yang masuk dalam kategori saham diskon.

Salah satunya adalah MNCN dengan PE 3,44 kali. Secara fundamental, emiten media tersebut membukukan laba bersih Rp753,68 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025, turun 17,88% secara tahunan. Pendapatan perseroan juga menyusut 0,96% yoy menjadi Rp5,90 triliun.

Selain itu terdapat UNVR dengan PE 9,39 kali. Dari sisi kinerja, perusahaan mencatat laba bersih Rp7,64 triliun sepanjang 2025, tumbuh 126,8% YoY, dengan pendapatan meningkat 4,3% YoY menjadi Rp31,94 triliun.

Selanjutnya terdapat AKRA dengan PE 10,51 kali. Emiten perdagangan energi dan kawasan industri ini mencatat kenaikan pendapatan 13,2% YoY menjadi Rp32,39 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025, sementara laba bersih meningkat 12,3% YoY menjadi Rp1,65 triliun.

Adapun jika menggunakan penyaringan saham berkapitalisasi besar dengan PE di bawah 10 kali dan ROE di atas 7%, daftar saham yang muncul antara lain AADI, INDF, ASII, UNTR, BMRI, ADRO, dan UNVR.

(NS/BSN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini