KNews.id – Jakarta – Penyakit jantung bawaan atau PJB adalah suatu suatu kelainan struktur jantung yang didapatkan sejak lahir.
Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan aliran darah di dalam jantung dan ke seluruh tubuh seperti disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis jantung dan pembuluh darah kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan Aditya Agita Sembiring.
Mengenai kasus PJB, sekitar 8 dari 1000 bayi yang lahir dengan kondisi tersebut bila mengacu pada Center for Disease Control and Prevention. Dari angka itu 1 dari 4 bayi tersebut membutuhkan intervensi bedah/non-bedah darurat.
“Namun, beberapa studi menyebutkan adanya peran kelainan genetik baik yang tidak diwariskan orang tua seperti Down syndrome, ataupun kelainan genetik yang diwariskan orang tua seperti Turner syndrome,” jelas dokter yang sehari-hari praktik di RS Pondok Indah – Puri Indah itu.
Faktor Eksternal
Aditya juga mengungkapkan ada beberapa faktor eksternal yang dapat memicu PJB. Beberapa diantaranya adalah penyakit infeksi seperti rubella dan sifilis.
Konsumsi obat-obat tertentu misalnya obat anti jerawat atau obat anti epilepsi yang terjadi pada fase kritis pembentukan jantung janin.
“Maka dari itu, penting bagi orang tua yang merencanakan kehamilan untuk berkonsultasi kepada dokter mengenai riwayat pengobatan sebelum hamil dan menjaga kesehatan,” tutur Aditya.
Gejala PJB: Beberapa Tak Bergejala
Aditya mengatakan beberapa anak dengan PJB tidak menimbulkan gejala pada awal kehidupan. Namun, bakal terlihat indikator seperti gagalnya pertumbuhan dan perkembangan anak, infeksi paru yang berulang, gagal jantung.
Lalu, gejala lain adalah biru pada bibir, lidah, dan ujung kuku, baik yang menetap atau yang terpicu jika anak menangis atau beraktivitas sebagai akibat kekurangan oksigen dalam tubuh, dan bahkan kematian.
Maka dari itu, Aditya mengatakan orangtua sebagai sosok yang dekat dengan anak bertindak sebagai garda depan untuk mengenali gejala dan tanda awal dari PJB.
“Anak dengan PJB cenderung cepat lelah, terlihat dari pola menyusu bayi yang sering terputus-putus atau pada anak yang lebih tua yang sering jongkok karena kelelahan,” katanya.
Lalu, perlu juga diwaspadai jika anak mengalami demam dengan sesak berulang, tidak tumbuh sesuai teman seusia walaupun tidak ada gangguan makan, dan jika adanya pembengkakan pada perut atau kedua tungkai bawah.
Cara Menegakkan Diagnosis PJB
Untuk mengetahui atau menegakkan diagnosis anak mengalami PJB atau tidak dokter akan melakukan pemeriksaan melalui wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik.
Selain itu pemeriksaan penunjang seperti sinar-X (rontgen) dada dan pemeriksaan aktivitas listrik jantung (elektrokardiografi), juga dilakukan untuk melihat gambaran umum jantung.
Selain itu, pemeriksaan minimal invasive menggunakan alat kateter ke dalam jantung juga dapat dilakukan oleh dokter untuk mengetahui kondisi aliran dan tekanan pada ruangan jantung dan pembuluh darah.
(NS/LPT)




