spot_img
Senin, Januari 19, 2026
spot_img
spot_img

Kemenhut Menindaklanjuti Temuan Awal Terkait Longsor Besar di Hulu DAS Yang Mengalir ke Padang dan Agam, Sumbar

KNews.id – Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan akan menekankan kajian lebih mendalam terkait longsor yang terjadi di dua daerah aliran sungai (DAS) yang berdampak pada wilayah Kota Padang dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Penanganan yang dilakukan fokus pada penilaian kondisi kawasan hulu, identifikasi penyebab longsor, dan penyusunan langkah yang tepat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat di hilir.

- Advertisement -

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat Hartono menyampaikan hasil pantauan sementara terkait kondisi hulu saat ditemui di Kota Padang. Pemantauan ini diarahkan pada Suaka Margasatwa (SM) Barisan, yang alirannya bermuara ke Kota Padang, dan Cagar Alam (CA) Maninjau, yang hilirnya mengarah ke Kabupaten Agam.

“Kami hari ini baru mendapatkan citra terkait dengan tutupan lahan yang ada. Tentunya ya nanti akan kami sampaikan hasil daripada citra satelit resolusi tinggi, apakah kondisi kawasan itu baik atau memang sudah ada aktivitas ilegal, kami akan kaji lebih lanjut,” ujar Hartono, melansir Antara, Jumat (12/12/2025).

- Advertisement -

Tidak hanya itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) untuk mengkaji tipe tanah yang berada di wilayah hulu tersebut.

“Mengingat, lungsuran di wilayah hulu berdampak langsung kepada kondisi hilir,” jelas Hartono.

Pantauan Drone BKSDA Sumbar

Sebelumnya, menurut Hartono, pantauan drone yang dilakukan oleh BKSDA Sumbar memperlihatkan longsoran masif di wilayah hulu yang berada di kawasan konservasi saat terjadi banjir bandang dan longsor di sejumlah titik di Padang dan Kabupaten Agam.

“Jadi dari puncak CA Maninjau sampai ke Palembayan itu jaraknya kurang lebih 5 kilometer. Berdasarkan hasil kajian terhadap drone dan citra satelit bahwa tegakan dan tutupan lahan itu masih sangat-sangat bagus,” ucap dia.

“Tentunya ini yang perlu kita kaji apakah karena memang curah hujan yang terlalu tinggi sehingga hal ini menyebabkan tingkat kejenuhan tanah,” sambung Hartono.

- Advertisement -

Sementara di wilayah SM Barisan, pantauan drone juga memperlihatkan kondisi longsor pada ketinggian sekitar 1.075 meter. “Jarak dari titik longsor tertinggi sampai Lubuk Minturun di Kota Padang mencapai sekitar 11-12 kilometer,” tutup Hartono.

Kemenhut Dalami Temuan Longsor

Kondisi pasca-bencana di dua daerah aliran sungai (DAS) yang berada tak jauh dari Kabupaten Agam dan Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Sebelumnya, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah melakukan pemantauan dan akan mendalami fenomena terjadi longsor di hulu daerah aliran sungai (DAS) yang berpengaruh terhadap banjir dan longsor di wilayah Kota Padang dan Kabupaten Agam.

“Ternyata berdasarkan hasil citra satelit ada longsoran dalam jumlah yang sangat luar biasa, itu di hulunya di Suaka Margasatwa Barisa. Kami akan mengecek apakah satu minggu, dua minggu, tiga minggu sebelum terjadi bencana bagaimana situasi dan kondisi tegakkan dan tutupan lahannya,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) Hartono, melansir Antara.

Dia menjelaskan, dari citra satelit terlihat jarak lebih dari 11 kilometer dari titik longsor awal. “Bisa dibayangkan dengan luasan sebegitu luas longsorannya, daya dorongnya, jumlah material, bahannya seperti apa, kayu yang terbawa seperti apa,” tutur Hartono.

Ambil Sampel

Kemenhut lewat BKSDA Sumbar bersama Mabes Polri sendiri sudah mengambil sampel kayu yang terbawa sampai pantai. “Langkah itu dilakukan karena hulu sungai di kawasan konservasi tersebut berpengaruh dengan kondisi sejumlah lokasi terdampak di Kota Padang,” kata Hartono.

Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan pemantauan drone pascakejadian banjir dan longsor di Palembayan, Kabupaten Agam untuk memeriksa kondisi hulu yang dapat menjadi faktor bencana ditambah dengan curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

“Untuk di Agam itu DAS Masang Kanan, ternyata di hulunya itu jaraknya kurang lebih 5 sampai 6 kilometer, ada longsoran yang dalam jumlah luas, yang sangat luas,” ucap Hartono. Hulu DAS Masang Kanan tersebut berada di Cagar Alam Maninjau, dengan pantauan citra satelit memperlihatkan kondisi kawasan itu dua pekan sebelumnya berada dalam situasi tegakan yang sangat bagus.

“Sehingga kami mengharapkan mungkin nanti kami akan berkoordinasi dengan Tim Mabes Polri juga dengan Polda untuk melakukan proses penyelidikan terkait dengan kejadian-kejadian yang menyebabkan terjadinya banjir bandang,” tutup Hartono.

(FHD/Lpt)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini