KNews.id – Donald Trump berhasil memenangkan Pemilu AS dan akan terpilih lagi sebagai presiden. Namun, ada beberapa dampak yang mungkin dirasakan oleh Palestina setelah Trump memimpin Amerika lagi.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Moestopo (Beragama), Ryantori mengatakan, kemenangan Trump, walaupun belum secara resmi diumumkan, disinyalir tidak terlepas salah satunya dari kampanye di kalangan warga Arab pro Palestina di AS.
“Sehingga, kebijakan luar negeri Trump nantinya seharusnya mengakomodasi suara komunitas Arab pro-Palestina tersebut. Minimal, dalam waktu dekat, Trump akan mengurangi dukungannya terhadap Netanyahu,” ujar Ryantor. Selain itu, lanjut dia, dukungab terhadap UNRWA selaku pihak yang selama ini mengamankan para pengungsi Palestina, juga harus ditekankan Trump mengingat Netanyahu telah mencap UNRWA sebagai pelindung terorisme.
Ryantori menuturkan, pada masa kampanye, Trump dengan pendukungnya telah melakukan pendekatan kepada komunitas Arab pro Palestina di Amerika Serikat. Mantan pejabat di Kabinet Trump sebelumnya, Richard Grenell sudah berkampanye di Michigan, salah satu negara bagian yang paling penting dalam pemilihan Presiden, dan negara bagian dengan proporsi orang Amerika Arab terbesar di AS.
Menurut dia, pendukung utama kampanye lainnya terkait komunitas Arab adalah mantan direktur asosiasi lembaga kebijakan Timur Tengah di Harvard Kennedy School, Bishara Bahbah yang meluncurkan kelompok Arab Americans for Trump. Karena itu, menurut Ryantori, sepertinya Trump tidak akan abai untuk sesegera mungkin mengambil kebijakan terkait Palestina, mengingat semua dukungan di atas.
Terkait HAMAS sendiri, menurut dia, Trump sepertinya akan mengambil opsi kebijakan untuk mempertemukan pihak HAMAS dan Israel namun tidak dalam waktu dekat. “Namun, opsi ini harus diperhitungkan karena secara de facto HAMAS masih memiliki posisi di hati penduduk Gaza. Opsi ini juga berlaku terhadap Hizbullah,” jelas dia.
Dalam konteks regional, tambah dia, siapapun Menlu yang akan dipilih Trump akan mendapat tugas untuk melakukan negosiasi terhadap Iran serta pendekatan berkelanjutan terhadap Arab Saudi.
“Ini mengingat kedua negara kuat di kawasan ini sejatinya merupakan kompetitor dalam hal posisi regional leader di kawasan, namun di sisi lain sama-sama memiliki kebijakan yang pro terhadap kebebasan Palestina dan penghentian kejahatan perang di Gaza,” kata Ryantori.




