KNews.id – Jakarta – Dokter Spesialis Olahraga Andhika Raspati mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi tubuh saat berolahraga karena masih berisiko mengalami heatstroke atau sengatan panas walau cuaca mendung sekalipun. Heatstroke banyak terjadi pada pelari di lomba Jakarta International Marathon 2025 (Jakim 2025).
“Saat saya menjadi medical director di acara BTN Jakim 2025, cuaca saat itu mendung. Saya berpikir cuacanya cocok untuk berolahraga, tapi di luar dugaan ternyata hari itu menjadi kasus heatstroke paling banyak yang saya jumpai selama menjadi medical director di acara lomba lari,” tutur Dhika, sapaan Andika dalam Instagram reelnya pada Selasa awal Juli 2025.
Dhika mengatakan ada 2 dugaan mengapa heatstroke ini bisa terjadi walau cuaca mendung saat acara lomba lari. Pertama, ada sekitar 30 ribu pelari yang berhimpitan saat lomba berlangsung. Kedua, pelari yang mengalami heatstroke tetap memaksakan tubuhnya untuk terus berlari, walau tubuhnya sudah tidak sanggup. “Mereka pikir saat mendung ini aman dan nyaman untuk melampaui batas tubuh. Apalagi pelari juga kemungkinan tidak minum, sehingga memperparah kondisi tubuh,” katanya.
Dhika juga menambahkan heatstroke tidak selalu terjadi saat cuaca panas saja. “Perlu diingat saat olahraga, panas tubuh akan meningkat akibat proses pembakaran dari dalam tubuh. Heatstroke tidak memperhatikan cuaca, namun dari kondisi tubuh,” katanya melanjutkan.
Di caption reels instagram, Dhika juga menuliskan beberapa kesalahpahaman pengertian heatstroke. “Heatstroke adalah gangguan kesehatan berat yang mengancam nyawa, akibat peningkatan suhu yang berlebihan. Jadi tidak ada hubungannya sama stroke gara-gara hipertensi atau pendarahan, apalagi stroke belanja alpamar,” katanya.
Dhika kembali mengingatan bahwa sebagai negara yang memiliki iklim tropis. “Jadi meskipun adem, cuacanya cenderung lembab dan lebih gampang gobyos. Ujung-ujungnya panas tubuh lebih sulit dilepas,” katanya.
Dilansir dari alodokter, heatstroke dapat terjadi saat tubuh mencapai suhu panas melebihi batas toleransinya dan gagal mendinginkan diri secara efektif. Tidak hanya dari panas matahari, tetapi bisa dari lingkungan bersuhu tinggi.
Kondisi tubuh dapat dikatakan mengalami heatstroke saat mencapai suhu 40 derajat celcius atau lebih. Beberapa pertanda lain yang perlu diperhatikan yaitu tubuh mengalami sakit kepala, kulit memerah tetapi tidak berkeringat, mual hingga muntah, melemahnya otot dan kram, atau mengalami kejang.





