KNews.id – Jakarta – Tinggi badan yang berkurang seiring bertambahnya usia kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, kondisi ini juga bisa menjadi salah satu tanda osteoporosis yang perlu diwaspadai. Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah.
Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala hingga terjadi patah tulang. Dokter Spesialis Ortopedi dr. Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp.OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, menjelaskan, penyusutan tinggi badan akibat osteoporosis dapat terjadi ketika ruas tulang belakang mengalami patah atau kolaps.
“Jadi kalau misalnya kita pegang punggung kita, tulangnya itu ada banyak banget. Ada tulang di bagian dada, di punggung bawah, punggung atas, dan di leher. Itu ada sekitar 33 ruas tulang,” ujar dr. Rizky dalam sesi bincang-bincang kesehatan bersama Rumah Sakit Pondok Indah Group, Senin (19/10/2026).
Menurut dr. Rizky, ruas tulang belakang yang mengalami patah dapat menjadi lebih pendek sehingga memengaruhi tinggi badan seseorang.
“Kalau misalnya mereka patah, jadi mereka kan makin memendek. Jadi badan kita yang harusnya lurus tinggi, kita ada segmen yang patah jadi dia ambles ke depan. Jadi kita ada pengurangan tinggi badan di situ,” jelasnya.
Kondisi tersebut dapat terjadi tanpa disadari. Pasalnya, osteoporosis dikenal sebagai penyakit yang kerap tidak menunjukkan gejala hingga terjadi patah tulang.
Dokter Rizky menjelaskan, patah tulang belakang akibat osteoporosis bisa disertai rasa nyeri, tetapi keluhan tersebut tidak selalu mudah dikenali, terutama pada orang lanjut usia.
Karena itu, perubahan tinggi badan yang terjadi seiring bertambahnya usia tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai proses penuaan biasa, terlebih jika disertai perubahan postur tubuh atau nyeri punggung.
Kapan perlu memeriksakan kepadatan tulang?
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis osteoporosis adalah DEXA (Dual-Energy X-ray Absorptiometry). Pemeriksaan ini mengukur kepadatan mineral tulang, terutama pada tulang belakang dan panggul.
“Kalau misalnya seseorang tidak punya kondisi medis lain, biasanya pemeriksaan dilakukan pada perempuan di atas usia 65 tahun dan laki-laki di atas 70 tahun,” dr. kata Rizky.
Meski demikian, pemeriksaan kepadatan tulang tidak selalu harus menunggu seseorang mencapai usia tersebut. Orang yang memiliki faktor risiko tertentu, seperti riwayat patah tulang akibat benturan ringan, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang, atau kondisi medis yang memengaruhi kepadatan tulang, dapat memerlukan pemeriksaan lebih awal sesuai penilaian dokter.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi kepadatan tulang sekaligus membantu dokter menilai risiko patah tulang dan menentukan penanganan yang sesuai.
Bisakah osteoporosis dicegah?
Dokter Rizky menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak usia muda. Salah satu upayanya adalah melakukan olahraga yang memberikan beban pada tulang, seperti latihan beban dan latihan menggunakan berat tubuh sendiri.
Selain itu, asupan nutrisi yang cukup, termasuk kalsium dan vitamin D, turut berperan dalam menjaga kesehatan tulang. Pencegahan sejak dini menjadi penting karena osteoporosis dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.
Dengan menjaga kesehatan tulang dan mengenali faktor risikonya, penurunan kepadatan tulang serta risiko patah tulang di kemudian hari dapat ditekan.






