Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Jakarta 19 Desember 2025 – Tahun 2004, Aceh dihempas tsunami. Infrastruktur hancur lebur. Banda Aceh, Calang, Meulaboh hancur total.
Bantuan tidak bisa masuk karena jembatan putus, jalanan menjadi lautan. Pemerintah langsung menyatakan sebagai Bencana Nasional, pemerintah bekerja sama dengan beberapa negara dunia membangun operasi militer dikenal dengan EAO, Emergency Airlift Operation.
Bantuan ini dilakukan seperti operasi mengambil pengalaman dari Berlin Airlift. Peristiwa ini adalah operasi logistik terbesar yang dikenal, disebut Berlin Airlift, atas bencana kelaparan / kemanusiaan di Berlin, mengirim pasokan makananan dan perbekalan siang dan malam dikirim ke lokasi bencana melalui udara.
Bantuan untuk Aceh lewat operasi udara, Air Traffic Control ( ATC ) bandar udara Iskandar Muda rusak berat. Singapura langsung mengirimkan ATC Mobile, yang beroperasi prima menuntun lalu lintas udara di Aceh.
Negara tetangga ini juga mengirimkan enam helicopter Chinook (Boeing CH-47) yang dikenal dengan kekuatan mengangkut berat untuk mengirimkan makanan, peralatan dan melakukan evakuasi.
Malaysia mengirimkan CN235, helicopter Sikorsky S-61 Nuri, Amerika Serikat mengirim Sikorsky SH-60 Seahawk, membantu korban dan merawat di kapal induk USS Abraham Lincoln.
Pemerintah Inggris mengerahkan pesawat angkut Boeing C-17 Globemaster III. Rusia mengirim pesawat angkut berat Ilyushin Il-76 dan Antonov An-125 plus helikopter Mil Mi-8 dan Mi-17 sekaligus rumah sakit lapangan lengkap dengan ruang operasi. Helicopter Rusia juga yang mengangkut generator listrik ke Simeulu.
EAO di Aceh dan Berlin Airlift, adalah simbol keberpihakan kepada kemanusiaan dan menyelamatkan nyawa banyak orang.Tsunami Aceh bisa cepat di atasi Aceh pulih dengan cepat.
Banjir bandang di Sumatera adalah tragedi kemanusiaan yang mengerikan bukan hanya korban nyawa tetapi harta benda bahkan pemukiman harus lenyap di terjang banjir.
Tidak habis pikir alasan apa pemerintah bersikukuh tidak menetapkan dahsyatnya bencana tersebut sebagai *Bencana Nasional* bahkan menutup bantuan dari beberapa negara yang bersimpati akan mengirim bantuan kemanusiaan.
Anggaran negara, tenaga ahli yang terbatas mengatasi bencana, masih dipertontonkan sikap pejabat yang yang menjijikan justru sebagian dari mereka mementingkan upacara dan rapat untuk pencitraan
Lebih parah ada alasan Harga Diri, memangnya harga dari Harga Diri akan dihargai berapa dengan mengorbankan ribuan nyawa manusia.
Ibarat sudah miskin, bodoh dengan segala keterbatasan untuk mengatasi bencana masih bertaruh dengan Harga Diri yang akhirnya Harga Dirinya menjadi barang rongsokan tidak berharga.
Dalam situasi duka kelaparan dimana mana masih action tega menanpakan makan enak dengan pasang cerutu di mulutnya. Ini provokasi serius sebagai penghinaan.
Untuk kalian pejabat negara di Indonesia masih bisa hidup, sekalipun mempertontonkan penghinaan kemanusiaan. Tidak bisa dibayangkan kalau hidup di Korea Utara langsung ditembak mati
Menurut laporan kantor berita TV Chosun, seperti dilansir dari News18, Kim Jong Un menembak mati 20 hingga 30 pejabat akhir Juli 2024 karena dianggap gagal menangani bencana banjir didaerahnya
Kim Jong Un, dalam sebuah pernyataan, menyebut laporan mengenai jumlah korban tewas dan hilang yang mencapai 1.500 orang sebagai “provokasi serius” dan “penghinaan terhadap orang-orang yang dilanda banjir.”
(FHD/NRS)




