KNews.id – Jakarta – Kehadiran Joko Widodo a.k.a Jokowi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum cukup untuk membuat partai-partai di parlemen langsung merasa terancam. Itu pandangan peneliti dari Citra Institute Efriza. Dia menyebut bahwa Demokrat, PAN, dan PKS masih dalam taraf mencermati perkembangan PSI. Ketiga partai tersebut memiliki karakteristik pemilih yang berbeda.
“Untuk PKS, ceruk pemilihnya relatif berbeda dengan basis yang hendak dibangun Jokowi dan PSI. Karena itu, tingkat kekhawatirannya tidak sama,” kata Efriza, Kamis (1/10). Dia menilai PAN menghadapi dinamika tersendiri karena persaingan politik tidak hanya datang dari PSI.
Sementara itu, Demokrat dinilai masih memiliki basis elektoral yang perlu dipertahankan menjelang Pemilu 2029. Efriza merujuk hasil Pemilu 2024 sebagai gambaran posisi awal masing-masing partai. Pada Pemilu 2024, PKS meraih 8,42 persen suara, Demokrat 7,43 persen, dan PAN 7,24 persen. Adapun PSI memperoleh 2,81 persen suara.
“Jarak antara perolehan suara PSI dengan partai-partai tersebut masih cukup besar. Jadi, kehadiran Jokowi belum serta-merta mengubah peta persaingan,” ujarnya.
Menurut Efriza, tantangan PSI justru terletak pada kemampuan mengembangkan mesin partai. Jokowi harus membuktikan bahwa popularitasnya bisa diterjemahkan menjadi dukungan bagi PSI. “Yang akan dilihat bukan hanya seberapa populer Jokowi, tetapi apakah popularitas itu benar-benar masuk ke suara PSI,” tuturnya.
Dia menambahkan partai-partai parlemen juga akan mencermati perkembangan struktur PSI di daerah. “Kalau struktur partai tidak kuat sampai tingkat bawah, dukungan figur saja akan sulit menghasilkan suara yang konsisten,” kata Efriza.
Menurut Efriza, Pemilu 2029 akan menjadi arena pembuktian bagi PSI sekaligus bagi Jokowi dalam membangun kekuatan politik baru.






