spot_img
Minggu, Januari 25, 2026
spot_img
spot_img

Jokowi Identik Aidit, Situasi Saat Ini Lebih Berbahaya Dari Jelang Sampai Terjadi Pemberontakan G 30 S PKI Tahun 1965

Oleh :  Sutoyo Abadi 

KNews.id – Jakarta 25 Januari 2026 – Berdasarkan sumber Arsip Pusat Partai Komunis Tiongkok, telah terjadi Pertemuan Tingkat Tinggi antara delegasi PKC dipimpin oleh Ketua Mao Tse Tung dan delegasi PKI, yang dipimpin oleh DN. Aidit serta isterinya Tanti, dan  Yusuf Aji Torop (Wasekjen PKI) pada 5 Agustus 1965.

- Advertisement -

Dalam pertemuan itu dari Partai Komunis  Cina antara lain hadir : Deng Hsiao Ping, Peng Chen,  Chenyi, Li Saoqi dan Chou Enlai.  Dalam pertemuan tingkat tinggi PKI dan PKC tersebut dibahas antara lain : Laporan Chou Enlai kepada Mao tentang sakitnya Bung Karno (karena serangan cerebral vasospase) pada 3 Agustus 1965)

Dibahas tentang kemungkinan – kemungkinan sayap kanan (Dewan Jenderal) merebut kekuasaan dan tindakan apa yang harus dilakukan oleh PKI dan perkiraan kondisi bila Bung Karno meninggal, dan siapa yang akan berkuasa.

- Advertisement -

Saran-saran supaya Aidit tidak sering melakukan kunjungan ke luar negeri, cukup orang kedua nya saja. Juga dibahas bila pihak sayap kanan (Dewan Jenderal) melakukan kudeta, PKI menjadi lebih mudah membalasnya apalagi tanpa Sukarno.

Diperhitungkan PKI pasti berhadapan dengan sayap kanan ( Dewan Jenderal ). Juga dibahas tentang Nasution yang tidak dapat dipercaya.

Aidit melaporkan  (a) untuk membuat bingung lawan PKI akan dibentuk sebuah komite militer, yang bagian terbesarnya dari sayap kiri (PKI) dan elemen tengah, (b) PKI pasti berhadapan dengan Nasution, (c) Ketua komite militer harus dari anggauta rahasia PKI dan berlagak sebagai orang yang netral, (d) Ketua komite militer keberadaannya tidak boleh terlalu lama, dan  (e) setelah komite militer terbentuk buruh dan tani dipersenjatai.

Menurut catatan pertemuan (5 Agustus 1965) Mao juga memberitahukan pengalamannya tatkala bernegosiasi dengan Kuomintang yang berlatar belakang perang saudara, diduga Mao juga menyampaikan nasihat rahasia agar Aidit siap berjuang dengan berunding maupun dengan senjata.

Menurut catatan itu (notulen) terdapat bukti bahwa para pimpinan tertinggi RRC di Beijing tidak berkeberatan dengan rencana Aidit tersebut.  Kembalinya Aidit membawa 2 (dua) orang dokter dari China guna membantu pengobatan Bung Karno.

Simaklah dialog antara Aidit dan Mao Tse Tung tanggal 5 Agustus 1965 di Zhoungnanhai – Peking, menjelang Kudeta G 30 S PKI  :

- Advertisement -
  • Mao : Kamu harus bertindak cepat.
  • Aidit : Saya khawatir AD akan menjadi penghalang
  • Mao : Baiklah, lakukan apa yang saya nasehatkan kepadamu, habisi semua Jenderal dan para perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu.
  • Aidit : Itu berarti membunuh beberapa ratus perwira.
  • Mao : Di Shensi utara saya membunuh 20 000 orang kader dalam sekali pukul saja.
  • (Victor m. Fic : “Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi tentang Konspirasi”, hal. 78. Yayasan Obor Indonesia, 2008)

Rekam jejak Presiden Joko Widodo pada saat membuka Belt and Road Forum (BRF) ke 3 di Great Hall of The People, Beijing, China, Rabu (18/10/2023). Di hadapan Presiden China Xi Jinping berkaitan dengan Belt and Road Initiative (BRI) atau ‘Jalur Sutra Modern China’ mengatakan :

“Menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan program Belt and Road Initiative (BRI) di Indonesia. Dalam kesempatan itu Jokowi juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah China atas kontribusi bagi Indonesia melalui proyek BRI. Disinggung tentang kesanggupannya memindahkan Ibukota dari Jakarta”

“Ada pesan untuk mengamankan TKA Cina yang telah masuk ke Indonesia dan mengembalikan nama baik PKI adalah korban dari Dewan Jendral pada peristiwa G 30 PKI” 

Kondisi saat ini lebih gawat dari situasi menjelang meletusnya G. 30 PKI karena sejak dilantiknya Xi Jinping sebagai presiden RRC pada 14 Maret 2013, terkait dengan program BRI, Indonesia adalah teritorial yang harus di bawah pengaruh dominasi China, melalui operator Jokowi sejak berkuasa, pengiriman warga negara China sebagai tenaga kerja masuk ke Indonesia tanpa kendali.

“Proposal dan agenda RRC sesuai agenda taipan China overseas, warga RRC yang telah keluar dari negaranya tidak boleh pulang kembali ke negaranya harus menetap di Indonesia. RRC akan tetap menjamin kehidupan dan keamanannya karena etnis China seumur hidupnya harus tetap berkiblat ke tanah leluhurnya RRC negara komunis

Imigran etnis Tionghoa untuk bisa menguasai di Indonesia secara penuh politik dan ekonomi apabila imigran dari RRC telah  mencapai 200 juta. Prosesnya sangat mengerikan karena dalam waktu bersamaan harus mengurangi kaum pribumi kalau perlu di musnahkan.

Merampas tanah daratan, mematok lautan bukan semata untuk perluasan hunian mereka sekaligus sebagai lintasan tentara Cina mendarat kalau ada situasi kritis dan kritis warga etnis Tionghoa terancam ..

Rekam jejak Prabowo Subianto di depan Xi Jinping

  • Saya mendukung yang lebih dekat dan lebih berkualitas antara China dan Indonesia
  • Pencapaian beliau ( Jokowi ) akan jadi pedoman program saya.
  • Saya akan melanjutkan kebijakan Presiden Joko Widodo dan juga pencapaian pemimpin China
  • Saya kagum dengan sejarah bangsa China.

Jokowi identik dengan Aidit bahan lebih berbahaya karena telah menyerahkan kedaulatan negara kepada Cina, membuka kunci gembok negara kepada Oligarki masuk ikut terlibat mengatur negara dalam urusan politik dan ekonomi, bahkan diijinkan membuat partai politik di Indonesia.

Kondisi saat menjadi jauh lebih berbahaya dari situasi menjelang sampai terjadi pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini