spot_img
Sabtu, April 20, 2024
spot_img

Jogja Memanggil, Kemarin UGM Sekarang UII

 

Oleh : Dr KRMT Roy Suryo, Peserta Aksi “Jogja Memanggil” di UII siang tadi (14/03/24) dan UGM kemarin (12/03/4) – Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen. Catatan langsung Dr. KRMT Roy Suryo

- Advertisement -

KNews.id – Saya memang bukan Mahasiswa apalagi Lulusan UII (Universitas Islam Indonesia), sehingga tidak perlu harus repot2 membuat “Ijazah” atau “Foto Wisuda” menggunakan Foto Orang lain sebagaimana yg sampai sekarang masih diperbincangkan sampai di level Pengadilan itu. Namun sebagai Warga ASLI Jogja, tentu nama UII bukan merupakan Kampus yg asing. Perguruan Tinggi yg usianya bahkan 4.5th lebih dahulu dari UGM ini (UII didirikan 08/07/45 dan UGM 19/12/49) tidak bisa dilepaskan dari Dinamika & Demokrasi kota Budaya ini.

Apalagi -de facto- UII memiliki sebuah Radio Kampus yg sampai sekarang masih bersiaran menjadi Radio Swasta Nasional “Unisi” yg merupakan Akronim dari UII, dulu awalnya Studio di Kampus UII Cik Ditiro, kemudian dikawasan Pasar Kembang Malioboro dan kini di Demangan Baru. Saat di Pasar Kembang itulah sempat aktif di Organisasi off-airnya, “Dionisi Family” saat tahun 1983 s/d 1990, jadi masih bolehlah disebut “Anggota Keluarga besar UII” selain Peserta Forum Cik Ditiro.

- Advertisement -

Namun kegiatan “UII Memanggil” yg dilaksanakan di Auditorium Prof KH Abdul Kahar Muzakkir siang tadi {Kamis, 14/03/24 Jam 14.14.14 tepat) yg mengusung tema “Selamatkan Demokrasi Indonesia” memang patut diapresiasi sebagai Ajakan Simpatik Civitas Akademika Kampus Senior ini. Apalagi dipimpin langsung oleh Rektor sendiri, Prof Fathul Wahid ST MSc PhD yg tidak hanya membacakan Point2 Tuntutan Resmi Aksi siang tadi, tetapi juga beliaulah yg menyemprotkan sendiri Cat Pilox utk membuat Tulisan (Grafitty) “Demokrasi” di Keranda yg dipajan sebagai Properti Aksi.

Diawali dgn Pembacaan Orasi2 antara lain oleh Prof Adink Masduki, kemudian Dosen2 internal UII, baik yg Senior maupun Junior, Aksi yg diikuti sekitar 300-an Civitas Akademika ini memajang Keranda bertuliskan “Demokrasi” sebagai Wujud Matinya Demokrasi di Indonesia. Orasi yg disampaikan rata2 memang menyoroti Kemunduran Total Demokrasi negeri ini, sampai bisa dibilang “mati” di era Rezim saat ini. Praktis semua sarana utk menyampaikan Aspirasi dan Ruang Diskusi sudah terkunci, ibarat Hidup diantara Zombie.

- Advertisement -

Dalam Naskah resmi yg dibacakan langsung dan ditandatangani oleh Rektor UII, disebutkan bahwa sejak awal Rezim ini telah muncul tanda2 kematian Demokrasi. Penciptaan segregasi sosial semenjak 2014 hingga sekarang dgn label “kadrun & kampret” terbukti menjadi sarana ampuh utk melumpuhkan sarana demokrasi. KPK dikebiri, Pengkritik Pemerintah dibawa ke meja hijau bahkan dijebloskan di balik jeruji besi, aktor masyarakat sipil dibayar menjadi buzzer & loyalis sok sejati.

Upaya membunuh demokrasi lainnya adalah “main kasar institusional” dgn cara Amandemen UU KPK, UU Minerba, UU MK, Pengesahan UU Ciptaker yg seakan2 konstitusional, padahal sesungguhnya sangat manipulatif. Kasarnya permainan dilanjutkan dgn memunculkan Gagasan 3 Periode, Perpanjangan Jabatan tanpa Pemilu hingga Intervensi Keputusan MK yg sangat kontroversial, cacat moral dan etika. Di awal Pemilu 2024 tampak damai, namun sebenarnya terjadi Permainan Elite tertentu dgn Oligarki utk melanggengkan Kekuasaan Rezim sesuai dgn yg dia harapkan selama ini sebelumnya, karena Demokrasi telah (di) ambruk (kan) dari semua lini.

Secara rinci 7 (tujuh) point Tuntutan Aksi “UII Memanggil” siang tadi adalah: (1) Menuntut seluruh penyelenggara negara utk menjunjung tinggi etika berbangsa & bernegara, menghormati hak kebebasan warganegara & mengembalikan prinsip independensi peradilan, (2). Mengingatkan pejabat negara bahwa mereka memiliki tugas konstitusional utk mencerdaskan kehidupan bangsa & tercapainya masyarakat sejahtera, adil & makmur. (3) Mendorong Partai Politik utk menjaga independensinya sehingga berdaya utk menjunjung tinggi kedaulatan rakyat & mampu membangun etika dan budaya politik dlm kehidupan bermasyarakat & bernegara.

Selain itu, (4) Mendesak partai politik yg kalah dlm Pilpres 2024 ini utk berperan menjadi Oposisi penyeimbang yg berpegang teguh pada etika berbangsa bernegara dan menjunjung tinggi Konstitusi dan HAM dgn menggunakan Hak Angket dan mencari langkah Hukum dan Politik lainnya sbg Penghukuman thdp Presiden JkW yg terbukti mengkhianati Reformasi 1998 & telah melakukan Praktek korupsi kekuasaan secara terbuka. (5) Mengajak seluruh Elemen masyarakat utk kembali sadar dgn memboikot Partai politik yg menjelma mjd Penghambat Kekuasaan & uang serta terang2an mengkhianati tugas utamanya sebagai pelaksana kedaulatan rakyat.

Selanjutnya (6) Meminta lembaga2 negara sesuai tugasnya spt KPU, Bawaslu, DKPP dan Ombudsman RI utk mengusut semua kecurangan pemilu, termasuk yg dilakukan Presiden JkW sebelum, ketika, dan sesudah pemungutan suara. Pemilu harus menjadi sarana menghasilkan pemerintahan yg sah (legitimate), Terakhir (7) Menyerukan kepada khusus masyarakat sipil utk melakukan pembangkangan sipil & menolak menjadi bagian kekuasaan yg timbul dari berbagai muslihat tuna etika. Secara khusus kami menyerukan para tokoh nasional utk bersatu & membuat oposisi permanen melawan Rezim politik dinasti yg menjadi Predator pemangsa & pembunuh demokrasi Indonesia.

Kesimpulannya, Aksi “Selamatkan Demokrasi Indonesia” ini memang penting harus terus digelorakan di kampus2 seluruh Indonesia, agar Daya Nalar dan Kewarasan berpikir Masyarakat tidak menjadi sesat dan Tuna Etika sebagaimana yg ditunjukkan oleh Rezim Penguasa saat ini. Mungkin memang masyarakat masih ada yg belum tersadar bahwa Gerakan Moral dari kampus2 sebagai Benteng Penjaga Demokrasi begini adalah penting, apalagi bagi pihak2 yg menafikan pemikiran para Guru Besar, Profesor, Doktor, Master, Sarjana dan Mahasiswa progresif begini. Selain di UII hari ini, Aksi yg sama juga berlangsung di UI Salemba dan InsyaaAllah kampus2 lain di seluruh Indonesia.

At last but Not Least, Menyongsong Indonesia Emas 2045, Masyarakat harus tetap Semangat mendobrak semua ketidakbenaran yg dilakukan oleh Rezim begini. Vox Populi vox Dei, Suara rakyat (termasuk dari Kampus) harus dihargai sebagai penyampai kehendak Ilahi. Setiap Usaha demi kemaslahatan bangsa pasti akan Ada hasilnya, sedangkan yg bathil pasti akan juga menemui ganjarannya. Maju terus Akal Sehat dan kewarasan Indonesia, Jangan pernah lelah dan putus asa dalam berjuang karena Perjuangan memang panjang namun jangan takut, Gusti Allah SWT mBoten Sare …

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini