spot_img

Jangan Sepelekan Batuk dan Demam, Ini Tanda Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

KNews.id – Jakarta – Batuk, demam, dan tubuh terasa lemas sering kali dianggap sebagai keluhan ringan yang akan membaik dengan sendirinya. Apalagi jika gejalanya muncul seperti flu biasa, seseorang mungkin memilih tetap beraktivitas sambil menunggu kondisi tubuh pulih.

Namun, ketika keluhan justru semakin berat, terutama jika mulai muncul sesak napas, kondisi tersebut sebaiknya tidak terus diabaikan. Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru yang dapat menimbulkan gejala serupa flu, tetapi juga bisa menyebabkan kesulitan bernapas.

- Advertisement -

Dokter spesialis penyakit menular sekaligus profesor kedokteran pencegahan di Vanderbilt University Medical Center, William Schaffner, mengatakan kebiasaan menunggu gejala membaik sendiri dapat menjadi masalah jika penyakit yang dialami ternyata lebih serius.

“Waktu yang tepat untuk menghubungi dokter adalah sejak awal. Lebih awal, kita dapat mencegah kondisi menjadi semakin buruk. Jika terlambat, kita justru harus berusaha mengatasinya setelah kondisi sudah memburuk,” kata Schaffner, dilansir dari Men’s Health.

- Advertisement -

Saat Gejala yang Awalnya Ringan Mulai Berubah

Tidak setiap batuk dan demam berarti pneumonia. Michael S. Niederman, dokter spesialis paru dan profesor kedokteran klinis di Weill Cornell Medical College mengatakan, seseorang masih dapat memantau kondisi apabila mengalami demam ringan, menggigil ringan, serta batuk dengan lendir bening tanpa disertai sesak napas.

Namun, situasinya berbeda ketika gejala mulai berkembang. Demam yang terus berlangsung, menggigil hebat, nyeri dada, sesak napas yang semakin berat, napas cepat, atau batuk disertai lendir kental merupakan kondisi yang perlu diperiksakan.

Kenapa Pneumonia Bisa Disangka Flu?

Salah satu alasan pneumonia kerap terlambat dikenali adalah gejalanya tidak selalu khas. Batuk, demam, dan rasa lelah juga dapat muncul ketika seseorang mengalami flu, Covid-19, atau bronkitis.

“Gejalanya saja tidak dapat digunakan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami pneumonia pneumokokus atau bahkan pneumonia sama sekali,” jelas Niederman.

Karena itu, diagnosis pneumonia tidak cukup dilakukan berdasarkan keluhan yang dirasakan. Dokter dapat mempertimbangkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, kemudian melakukan pemeriksaan seperti rontgen dada dan mengukur kadar oksigen dalam darah jika diperlukan.

Sesak Napas Jadi Sinyal yang Perlu Diperhatikan

Pneumonia terjadi ketika infeksi menyebabkan peradangan pada kantung udara di paru-paru. Kantung udara tersebut dapat terisi cairan atau nanah sehingga proses pertukaran oksigen menjadi terganggu dan penderitanya lebih sulit bernapas.

- Advertisement -

Kondisinya pun dapat berkembang setelah seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan lain. Influenza dan infeksi virus lainnya dapat membuat saluran pernapasan mengalami peradangan sehingga lebih rentan terhadap infeksi bakteri sekunder.

Itulah sebabnya kondisi yang sempat membaik tetapi kemudian kembali memburuk juga perlu diperhatikan. Schaffner menyarankan seseorang mencari pertolongan medis apabila gejala terus berlangsung atau memburuk, napas menjadi semakin sulit, atau kondisi yang sempat membaik tiba-tiba kembali parah.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Tidak semua gejala pernapasan membutuhkan penanganan darurat. Namun, kesulitan bernapas yang berat, bibir atau kulit yang berubah menjadi kebiruan atau keabu-abuan, nyeri dada hebat, kebingungan, pingsan, sulit tetap terjaga, hingga batuk berdarah merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Risiko pneumonia berat juga dapat lebih tinggi pada orang berusia lanjut dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Kementerian Kesehatan menyebut usia, kondisi kesehatan, dan perilaku tertentu sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko pneumonia.

Kendati demikian, batuk atau demam yang menyerupai flu memang tidak selalu berarti kondisi serius. Namun, ketika keluhan mulai disertai sesak napas atau justru semakin memburuk setelah sempat membaik, sebaiknya jangan hanya menunggu tubuh pulih sendiri. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

(RD/KPS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini