KNews.id – Jakarta, Pasukan Israel telah membunuh sedikitnya tiga orang di Gaza dalam 24 jam terakhir, menurut para pejabat Palestina. Hal ini menambah panjang daftar pelanggaran oleh Israel yang belum berhenti sejak gencatan senjata diumumkan awal Oktober lalu.
Ketika Kementerian Kesehatan Gaza mengkonfirmasi pada hari Selasa mengenai pembunuhan yang terjadi dalam 24 jam terakhir, badan Pertahanan Sipil di daerah kantong tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan di Telegram bahwa mereka telah memindahkan jenazah 35 warga Palestina yang tidak dikenal ke Rumah Sakit al-Shifa, di mana upaya akan dilakukan untuk mengkonfirmasi identitas mereka.
Satu bulan setelah deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza, Israel telah melanggar perjanjian dengan serangan yang terjadi hampir setiap hari, menewaskan ratusan warga. Bantuan yang dijanjikan masuk ke Gaza juga belum lancar.
Israel melanggar perjanjian gencatan senjata setidaknya 282 kali dari 10 Oktober hingga 10 November, melalui serangan udara, artileri, dan penembakan langsung yang berkelanjutan, lapor Kantor Media Pemerintah di Gaza.
Kantor tersebut mengatakan Israel menembaki warga sipil sebanyak 88 kali, menyerbu daerah pemukiman di luar “garis kuning” sebanyak 12 kali, mengebom Gaza sebanyak 124 kali, dan menghancurkan properti warga sebanyak 52 kali. Ia menambahkan bahwa Israel juga menahan 23 warga Palestina dari Gaza selama sebulan terakhir.
Menurut analisis Aljazirah, Israel telah menyerang Gaza selama 25 dari 31 hari terakhir gencatan senjata, yang berarti hanya ada enam hari di mana tidak ada serangan kekerasan, kematian atau cedera yang dilaporkan. Meskipun serangan terus berlanjut, AS bersikeras bahwa “gencatan senjata” masih berlaku.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada siang hari tanggal 10 Oktober, Israel telah membunuh sedikitnya 242 warga Palestina dan melukai 622 orang, menurut angka terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina. Pada 19 dan 29 Oktober – dua hari paling mematikan sejak gencatan senjata terbaru – Israel menewaskan total 154 orang.
Pada 19 Oktober, denga dalih Hamas melanggar gencatan senjata setelah dua tentara Israel terbunuh di Rafah, pasukan Israel membunuh 45 orang dalam gelombang serangan udara besar-besaran di Jalur Gaza.
Sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, menyatakan bahwa Israel menguasai wilayah Rafah dan tidak melakukan kontak dengan pejuang Palestina di sana. Pada 29 Oktober, Israel membunuh 109 orang, termasuk 52 anak-anak, setelah baku tembak di Rafah yang menewaskan satu tentara Israel.
Israel juga mengatakan jenazah yang dipindahkan dari Gaza oleh Hamas melalui Palang Merah bukan milik salah satu tawanan yang akan dibebaskan berdasarkan gencatan senjata. “Israel membalas, dan mereka harus membalas,” kata Trump kepada wartawan, seraya menyebut serangan Israel sebagai “balasan” atas kematian tentara tersebut.
Israel masih menghambat bantuan
Gencatan senjata menetapkan bahwa “bantuan penuh akan segera dikirim ke Jalur Gaza”. Namun kenyataannya di lapangan masih jauh berbeda. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), hanya setengah dari bantuan pangan yang dibutuhkan saat ini mencapai Gaza, sementara koalisi lembaga bantuan Palestina mengatakan total pengiriman bantuan hanya seperempat dari jumlah yang disepakati dalam gencatan senjata.
Dari 10 Oktober hingga 9 November, hanya 3.451 truk yang telah mencapai tujuan mereka di Gaza, menurut Dasbor Pemantauan dan Pelacakan UN2720, yang memantau bantuan kemanusiaan di Gaza. Menurut pengemudi truk, pengiriman bantuan mengalami penundaan yang signifikan, dan inspeksi Israel memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.
Menurut Kantor Media Pemerintah, pada tanggal 6 November, hanya 4.453 truk yang memasuki Gaza sejak gencatan senjata dimulai, dari perkiraan 15.600 truk. Jumlah ini rata-rata mencapai 171 truk setiap hari, jauh dari jumlah 600 truk per hari yang seharusnya masuk.
Namun Gedung Putih mengatakan hampir 15.000 truk yang membawa barang-barang komersial dan bantuan kemanusiaan telah memasuki Gaza sejak 10 Oktober, angka yang sangat dibantah oleh warga Palestina dan kelompok bantuan.
Selain itu, Israel telah memblokir lebih dari 350 jenis makanan penting dan bergizi, termasuk daging, susu, dan sayuran yang penting untuk pola makan seimbang. Sebaliknya, bahan makanan tidak bergizi yang diperbolehkan, seperti makanan ringan, coklat, keripik, dan minuman ringan.
Pembebasan tawanan
Pada 13 Oktober, sesuai kesepakatan gencatan senjata, Hamas membebaskan 20 tawanan Israel yang masih hidup dengan imbalan 250 warga Palestina menjalani hukuman penjara yang lama dan 1.700 warga Palestina dihilangkan oleh Israel sejak 7 Oktober 2023.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Hamas juga diperkirakan akan mengembalikan jenazah 28 tawanan Israel dengan imbalan 360 jenazah Palestina yang ditahan oleh Israel. Pada 10 November, Hamas telah mengembalikan 24 jenazah tawanan Israel, dengan empat jenazah tersisa di Gaza.
Kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka memerlukan peralatan penggalian yang berat untuk menemukan sisa jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan akibat pemboman Israel. Israel sejauh ini telah mengembalikan 300 jenazah warga Palestina, banyak di antaranya dimutilasi dan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Banyak yang masih belum teridentifikasi.




