spot_img

Islam Tegaskan Malu Bagian dari Iman, Ini Keutamaannya

KNews.id – Jakarta – Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu. Sifat malu dalam diri seseorang akan membuatnya semakin berakhlak. Karena hakikat dari malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan mencegah dari bersikap melalaikan hak orang lain.

Dari Imran bin Hushain, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Malu itu tidak mendatangkan sesuatu selain kebaikan’.” (Muttafaq ‘alaih)

- Advertisement -

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Iman itu (terdiri atas) lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabang iman tertinggi adalah mengucapkan ‘La ilaaha illa Allah’, dan cabang iman terendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Rasa malu pun merupakan cabang dari iman” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam konteks ini, malu bukan berarti rendah diri atau kelemahan, melainkan akhlak mulia yang mengarahkan seseorang untuk menjauhi dosa, menahan diri dari keburukan, dan berlaku adil terhadap hak orang lain.

- Advertisement -

Sifat malu mampu menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan buruk dan perilaku yang tercela, sekaligus mendorongnya untuk berperilaku mulia. Sebagaimana perkataan sebagian salaf dalam kita terjemahan Riyadush Shalihin,

“Aku melihat kemaksiatan merupakan kehinaan sehingga aku meninggalkannya demi menjada kehormatan diri, dan mustahil kemaksiatan menjadi agamaku”

Apabila seseorang hilang malunya, secara bertahap perilakunya akan buruk, kemudian menurun kepada yang lebih buruk, dan terus meluncur ke bawah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya, Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia mencabut rasa malu dari orang itu. Apabila rasa malunya sudah dicabut, kamu tidak menjumpainya kecuali dibenci.

Apabila tidak menjumpainya kecuali dibenci, dicabutlah darinya sifat amanah. Apabila sifat amanah sudah dicabut darinya, maka tidak akan didapati dari dirinya kecuali sebagai pengkhianat dan dikhianati. Kalau sudah menjadi pengkhianat dan dikhianati, dicabutlah darinya rahmat. Kalau rahmat sudah dicabut darinya, tidak akan kamu dapati darinya kecuali terkutuk (atau) yang mengutuk.

Apabila terkutuk yang mengutuk sudah dicabut darinya, maka akhirnya dicabutlah ikatan keislamannya” (HR Ibnu Majah). Nabi SAW pernah melewati seorang laki-laki yang sedang mencela saudaranya karena malu. Kata laki-laki itu, “Sesungguhnya kamu selalu malu hingga hal itu membahayakan bagimu.”

Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan” (HR Bukhari dalam Fathul Bari nomor 6118).

- Advertisement -

Ada tiga macam malu yang perlu melekat pada seseorang. Pertama, malu kepada diri sendiri ketika sedikit melakukan amal saleh kepada Allah dan kebaikan untuk umat dibandingkan orang lain. Malu ini mendorongnya meningkatkan kuantitas amal saleh dan pengabdian kepada Allah dan umat.

Kedua, malu kepada manusia. Ini penting karena dapat mengendalikan diri agar tidak melanggar ajaran agama, meskipun yang bersangkutan tidak memperoleh pahala sempurna lantaran malunya bukan karena Allah. Namun, malu seperti ini dapat memberikan kebaikan baginya dari Allah karena ia terpelihara dari perbuatan dosa.

Ketiga, malu kepada Allah. Ini malu yang terbaik dan dapat membawa kebahagiaan hidup. Orang yang malu kepada Allah, tidak akan berani melakukan kesalahan dan meninggalkan kewajiban selama meyakini Allah selalu mengawasinya.

(RD/RPK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini