spot_img
Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
spot_img

Iran Dengan Kepala Tegak Siap  Konfrontasi Langsung Dengan Amerika dan Israel

Oleh :  Sutoyo Abadi 

KNews.id – Jakarta 6 Maret 2026 – Bertahun-tahun, perencana militer di Pentagon telah menyusun skenario terburuk bagaimana jika Iran terdesak, berhasil menarik Rusia, China, dan Korea Utara ke dalam poros pertahanan kolektif.

- Advertisement -

Skenario itu kini menjadi kenyataan. Pada 3 Maret 2026, sejumlah media internasional mengungkapkan pergerakan militer dari Rusia, China dan Korea Utara besar-besaran menuju Iran. Bukan sekadar dukungan diplomatik atau retorika solidaritas, kali ini tiga kekuatan tersebut bergerak dalam dimensi yang jauh lebih konkrit.

Poros perlawanan berevolusi menjadi poros raksasa yang mencakup empat negara dengan kemampuan nuklir: Rusia, China, Korea Utara, dan Iran sendiri.

- Advertisement -

Kesalahan paling fatal yang dilakukan AS-Israel dalam serangan 28 Februari adalah keberhasilan menembus pertahanan udara Iran dan menewaskan pemimpin tertinggi. Moskow membaca ini dengan sangat serius.

Pada 2 Maret 2026, Rusia bergerak cepat mengirim pesawat kargo raksasa mulai mendarat di pangkalan udara Hamadan dan Shiraz. Muatannya bukan sekadar amunisi biasa, melainkan sistem perisai udara paling canggih yang dimiliki Rusia.

Dikonfirmasi oleh beberapa sumber intelijen, Rusia mengirimkan sistem S-500 Prometheus, generasi terbaru sistem Hanud  pertahanan udara yang mampu mencegat rudal balistik antar benua dan target hipersonik pada ketinggian hingga 200 kilometer. Sistem ini bahkan disebut mampu menghancurkan satelit di orbit rendah.

Selain itu juga dikirim sistem S-400 Triumf dalam jumlah tambahan untuk memperkuat pertahanan berlapis di sekitar Tehran, Isfahan, Natanz, dan Fordow.

Lebih signifikan, personel teknis Rusia tidak hanya mengoperasikan sistem ini dari belakang, tetapi juga melatih operator Iran secara langsung.  Sebuah sumber di Kementerian Pertahanan Iran menyatakan:  “Kami tidak akan membiarkan sejarah 28 Februari terulang. Kali ini, langit Iran dijaga oleh yang terbaik dari Rusia.”

Laporan intelijen yang diperoleh Reuters mengonfirmasi bahwa China telah mengirimkan rudal CM-302 dalam jumlah signifikan dan Rudal supersonik dengan jangkauan 290 kilometer ini dirancang untuk menghindari sistem pertahanan kapal dengan terbang rendah dan sangat cepat. “Rudal-rudal ini sangat sulit diintersep.”

- Advertisement -

Lebih mencengangkan, China dilaporkan membawa rudal balistik antar benua (ICBM) ke Iran. Sistem ini disinyalir mampu membawa hulu ledak nuklir, ditempatkan di lokasi-lokasi strategis dengan jangkauan yang mencakup seluruh pangkalan AS di Timur Tengah, bahkan hingga Eropa Timur.

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh, dalam pidatonya di hadapan parlemen pada 3 Maret, menegaskan bahwa negaranya kini berada di bawah “payung keamanan” yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.

“Kami tidak sendirian,” katanya. “Siapa pun yang berpikir untuk mengulangi serangan 28 Februari harus menghitung ulang risikonya.”

Kim Jong Un tidak hanya mengirim rudal balistik, tetapi juga para ahli nuklir terbaik mereka untuk membentengi program nuklir Iran. Analis CSIS memperkirakan bahwa Korea Utara telah mengirimkan ratusan rudal balistik jenis KN-23 dan KN-24, yang dikenal memiliki kemampuan manuver tinggi dan sulit dicegat.

“Iran diserang karena tidak memiliki senjata nuklir. Kim pasti berpikir, ini adalah konfirmasi bahwa hanya senjata nuklir yang bisa menjamin keselamatan.”

“Pada 2 Maret, media sosial dihebohkan oleh video yang mengklaim adanya “pakta Rusia-China-Iran” dengan klausul “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua”.

Personel Rusia menjaga instalasi nuklir Iran, rudal China dengan potensi hulu ledak nuklir ditempatkan di Iran, ahli nuklir Korea Utara bekerja bersama ilmuwan Iran, dan koordinasi di DK PBB antara Rusia dan China memastikan AS tidak akan mendapatkan legitimasi internasional.

“Inilah ironi sejarah: AS menyerang Iran untuk mencegahnya menjadi ancaman, tetapi serangan itu justru menciptakan apa yang paling ditakuti Pentagon: konvergensi de facto antara Iran dan tiga kekuatan anti-AS”

Ellie Geranmayeh, peneliti senior di European Council on Foreign Relations, sebelumnya menilai bahwa China dan Rusia tidak ingin berhadapan langsung dengan AS terkait Iran. Namun situasi telah berubah. Ketika “garis merah” dilanggar dan pemimpin tertinggi tewas, kalkulasi berubah.

Dunia kini menyaksikan lahirnya poros baru yang oleh para analis CSIS disebut sebagai poros CRINK (China, Russia, Iran, North Korea). Bukan aliansi formal, tetapi kesadaran bersama bahwa tatanan dunia yang didasari “hukum rimba” harus dilawan.

Kekuatan aliansi besar ini sampai pada kesimpulan bahwa ancaman terhadap eksistensi Iran adalah ancaman terhadap dunia atau setidaknya, ancaman terhadap tatanan multipolar yang sedang mereka bangun.

Dukungan Rusia, China, dan Korea Utara bukan karena cinta pada Iran, tetapi karena prinsip “jika agresi tanpa konsekuensi dibiarkan, tidak ada negara yang aman”.

Hitung-hitungannya berubah drastis. Jika sebelumnya Iran harus berhadapan sendirian dengan koalisi AS-Israel, kini ia berdiri bersama tiga kekuatan nuklir dunia.

Dulu pertahanan udaranya hanya mengandalkan sistem konvensional buatan dalam negeri, sekarang langitnya dijaga oleh sistem S-500 dan S-400 paling canggih buatan Rusia.

Rudal-rudal balistik jarak menengah Iran yang dulu masih bisa diintersep, kini diperkuat oleh rudal CM-302 supersonik buatan China yang sulit dihadang, bahkan rudal balistik antar benua dengan potensi hulu ledak nuklir telah ditempatkan di wilayahnya.

Program nuklir yang tadinya berjalan mandiri dengan segala keterbatasannya, kini dipercepat oleh kehadiran para ahli nuklir terbaik dari Rusia, China dan Korea Utara.

Seorang pejabat Pentagon yang tidak mau disebut namanya mengatakan kepada Reuters : “Kami tidak pernah memperhitungkan skenario di mana China menempatkan ICBM di Iran. Ini mengubah segalanya.”

Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi sejak kabar pergerakan militer Rusia-China-Korea Utara terkonfirmasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan menggelar pertemuan darurat dengan kabinet keamanan, berada dalam tekanan berat, di satu sisi ia ingin menyelesaikan “musuh bebuyutan”, di sisi lain ia sadar bahwa Israel tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi perang multi-front yang melibatkan kekuatan nuklir.

Dunia kini menyadari bahwa senjata nuklir adalah satu-satunya jaminan keselamatan. Iran dengan kepala tegak siap konfrontasi langsung dengan Amerika dan Israel.

Pertanyaannya sekarang: “masihkah Amerika-Israel akan melanjutkan serangan total terhadap Iran dan berhadapan secara langsung dengan separo kekuatan dunia”

Kita belum tahu apa yang akan terjadi ke depan. Apakah AS-Israel akan mundur dan menerima realitas baru, atau akan nekat melanjutkan serangan dan memicu perang terbesar abad ini.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini