KNews.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) belum lama ini menyampaikan laporan bulanan registrasi pemegang saham perseroan per 31 Agustus 2023. PT Mineral Industri Indonesia (Persero) sebagai pengendali PTBA tetap menguasai 65,93% saham, masyarakat dengan warkat 1,26%, dan masyarakat nonwarkat 32,52%.
Secara keseluruhan jumlah pemegang saham per akhir Agustus sebanyak 111.643 pemegang saham. Jumlahnya menurun 1.232 dari 112.875 pemegang saham per 31 Juli 2023. Saham PTBA pada perdagangan 8 September ditutup di Rp 2.930, naik 0,34%. Dalam satu bulan terakhir, saham ini melompat 5,78%. Namun, dalam periode year to date (ytd) saham PTBA anjlok 20,60%.
Sementara itu, Indo Premier mempertahankan rekomendasi hold atas saham PTBA dengan (unchanged DCF-based) target harga Rp 3.400. Target harga tersebut sekitar 16% dari harga penutupan 8 September.
Dalam riset Indo Premier yang disusun Erindra Krisnawan dan Reggie Parengkuan belum lama ini disebutkan bahwa laba PTBA kuartal II-2023 merupakan kejutan dan sepanjang semester I-2023 masih in-line. Di mana PTBA mencatatkan laba bersih yang solid Rp 1,6 triliun di kuartal II-2023, meskipun ASP menurun (-9% qoq) dan volume penjualan (-2% qoq).
Bintang kinerja ini disebabkan oleh kombinasi biaya tunai yang lebih rendah (-12% qoq), dan pendapatan bunga yang lebih tinggi (+20% qoq), pendapatan dari entitas asosiasi (+334% qoq), dan pendapatan lainnya (+886% qoq).
Secara keseluruhan, laba bersih 1H23 sebesar Rp 2,8 triliun (-55% yoy) sejalan dengan taksiran kami meskipun sedikit di bawah perkiraan konsensus yaitu 43/39% dari perkiraan FY23. Sementara itu, EBITDA sebesar Rp 3,4 triliun (-55% yoy) berada di bawah estimasi kami/konsensus yaitu 38/35% yang menurut kami disebabkan oleh lambatnya volume penjualan pada 2Q23.
“Kami mempertahankan hold pada PTBA pada TP berbasis DCF yang tidak berubah sebesar Rp 3.400,” ungkap riset Indo Premier.
Laba Kuartal II
Sebelumnya diberitakan, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,8 triliun pada semester I-2023, terkikis hingga 55% dibandingkan semester I-2022 yang sebesar Rp 6,1 triliun.
Penurunan laba bersih PTBA sepanjang semester I-2023 akibat membengkaknya biaya produksi, terutama dari biaya jasa penambangan yang naik menjadi Rp 4,4 triliun dari Rp 3,5 triliun. Demikian pula dengan biaya jasa angkutan kereta api yang naik menjadi Rp 4 triliun dari Rp 2,8 triliun.
Di tengah penurunan laba bersih, pendapatan anggota Holding BUMN Pertambangan ini juga cenderung stagnan. Pada semester I-2023, pendapatan PTBA naik tipis 2% menjadi Rp 18,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 18,4 triliun.
“Pasalnya, torehan laba bersih pada kuartal II-2023 mencapai Rp 1,6 triliun, menguat 33% dibandingkan kuartal I-2023 sebesar Rp 1,2 triliun,” jelas Niko. (Zs/ID)




