KNews.id – Jakarta – Kesadaran akan bahaya media sosial kembali jadi sorotan tajam di 2026. Di saat ribuan keluarga dan pemerintah menuntut pertanggungjawaban raksasa teknologi, Instagram tiba-tiba muncul dengan fitur “penyelamat”.
Kamis lalu, platform ini akan mengirim peringatan otomatis kepada orang tua jika anak remaja mereka berulang kali mengetik kata kunci berkaitan dengan tindakan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri di kolom pencarian.
Peringatan akan dikirimkan melalui surel (email), pesan singkat (teks), WhatsApp, hingga notifikasi langsung ke akun Instagram orang tua. Namun, ada syarat mutlaknya: hanya berlaku bagi orang tua yang sudah proaktif mendaftarkan diri dalam program pengawasan orang tua (parental supervision program) milik Instagram.
Instagram juga mengklaim bahwa mereka sudah memblokir konten-konten berbahaya tersebut agar tidak muncul di hasil pencarian akun remaja, dan langsung mengarahkan mereka ke nomor telepon bantuan (helpline).
“Tujuan kami adalah memberdayakan orang tua untuk turun tangan jika pencarian anak remaja mereka menunjukkan bahwa mereka mungkin membutuhkan dukungan,” tulis pihak Meta (induk perusahaan Instagram) dalam blog resminya.
Mereka juga berhati-hati agar tidak terlalu sering mengirimkan notifikasi yang tidak perlu, karena dikhawatirkan akan membuat peringatan tersebut diabaikan.
Selain itu, Meta mengaku sedang mengembangkan peringatan serupa untuk memantau obrolan remaja dengan Kecerdasan Buatan (AI). “Ini akan memberi tahu orang tua jika remaja mencoba terlibat dalam jenis percakapan tertentu yang berkaitan dengan bunuh diri atau melukai diri sendiri dengan AI kami,” janji Meta, yang akan diluncurkan beberapa bulan ke depan.
Cuci Tangan Gaya Raksasa Teknologi?
Langkah responsif Instagram ini tidak bisa dilepaskan dari konteks persidangan yang sedang menjerat mereka. Saat ini, Meta sedang menghadapi dua persidangan besar terkait kerusakan mental pada anak.
Sidang pertama di Los Angeles mengadili dugaan bahwa platform Meta secara sengaja merancang sistem yang membuat anak di bawah umur kecanduan dan menderita.
Sidang kedua di New Mexico menyoroti kegagalan Meta melindungi anak-anak dari eksploitasi seksual di aplikasinya.
Tak heran jika pengumuman fitur baru ini disambut sinis oleh para aktivis. Josh Golin, Direktur Eksekutif organisasi nirlaba Fairplay, secara gamblang menyebut bahwa Instagram sengaja melakukan langkah ini murni karena mereka sedang diadili di dua negara bagian.
”Meta memindahkan beban tersebut kepada orang tua, alih-alih memperbaiki celah berbahaya dalam cara mereka merancang algoritma dan platformnya,” kritik Golin.
Bagaimana nasib anak-anak yang orang tuanya gagap teknologi atau terlalu sibuk untuk mendaftar fitur pengawasan? Menurut Golin, jika produk memang tidak aman digunakan oleh remaja tanpa campur tangan orang tua, maka produk tersebut tidak seharusnya dipasarkan kepada remaja sama sekali.
Sikap defensif Meta sangat terasa. CEO Meta, Mark Zuckerberg, secara terbuka membantah bahwa platformnya memicu kecanduan.
Saat dicecar oleh pengacara penggugat di Los Angeles, Zuckerberg bersikukuh pada pernyataan lamanya bahwa penelitian ilmiah yang ada saat ini belum terbukti secara mutlak bahwa media sosial menyebabkan kerusakan kesehatan mental.
Bantahan Zuckerberg seolah bertabrakan dengan kesaksian emosional di ruang sidang Los Angeles. Gadis muda berusia 20 tahun, yang disamarkan namanya sebagai Kaley G.M., menggugat Instagram dan YouTube (milik Google).
Ia bersaksi bahwa kecanduannya pada media sosial sejak kecil telah membuatnya menjadi sosok yang cemas, depresi, tidak percaya diri dengan fisiknya, namun di sisi lain, ia sama sekali tidak bisa melepaskan ponselnya tanpa merasa tersiksa.
Kaley bercerita bahwa ia sudah terobsesi dengan YouTube sejak usia 6 tahun dan Instagram di usia 9 tahun. Obsesi ini menghancurkan nilai sekolahnya, merampas waktu tidurnya, mematikan kehidupan sosialnya di dunia nyata, dan merusak hubungannya dengan keluarga.
Saat ibunya menyita ponselnya, Kaley mengaku akan mengamuk dan panik luar biasa. “Karena tanpanya saya merasa ada sebagian besar dari diri saya yang hilang,” ungkapnya.
Ironisnya, meski sering menjadi korban perundungan siber (cyberbullying), dijauhkan dari media sosial ternyata lebih menyiksanya daripada membaca komentar-komentar hinaan tersebut. Ia sangat bergantung pada “Suka” (Like) untuk mendapatkan validasi, sementara filter kecantikan di aplikasi justru merusak citra dirinya sendiri.
Mantan psikoterapis Kaley pun bersaksi bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan adalah “faktor penyumbang” terhadap masalah mentalnya, yang kemudian didiagnosis sebagai fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder).
Tren penolakan global terhadap media sosial memang sedang menguat di tahun 2026. Australia bahkan telah melarang anak di bawah 16 tahun untuk menggunakan platform tersebut, dan negara lain tengah mempertimbangkan aturan serupa.




