KNews.id – Jakarta – Allah SWT menurunkan para nabi dan rasul ke tengah manusia. Dengan cara itu, anak keturunan Adam AS dapat mengenal dan mengikuti risalah-Nya serta menyembah hanya kepada-Nya.
Para utusan Allah bukanlah manusia biasa. Sebab, Allah mengaruniakan kepada mereka beberapa kelebihan. Bagaimanapun, hal itu juga mengisyaratkan betapa besar amanah yang mereka pikul. Ujian kehidupan yang mereka rasakan juga lebih besar daripada yang diterima umumnya manusia.
Nabi Muhammad SAW menyampaikan, para utusan Allah mendapatkanujian yang dilipatgandakan daripada orang-orang biasa. Dikutip dari buku Bekal Haji karya Ustaz Firanda Andirja, pernah pada suatu ketika Rasulullah SAW mengalami sakit keras. Sekujur tubuh beliau merasakan hawa panas yang luar biasa.
Para sahabat pun datang untuk menjenguk ketika beliau. Abu Said al-Khudri menuturkan kisahnya yang saat itu ikut menjenguk Rasulullah SAW:
دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك، فوضعت يدي عليه فوجدت حره بين يدي فوق اللحاف، فقلت: يا رسول الله ما أشدها عليك قل: إنا كذلك يضعف لنا البلاء، ويضعف لنا الأجر
“Aku menjenguk Nabi SAW ketika beliau sakit. Aku pun meletakkan tanganku kepada beliau. Maka, aku mendapati rasa panas tubuh beliau tembus hingga ke selimut beliau di depanku.
Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, betapa berat sakitmu.’
Nabi berkata, ‘Sesungguhnya demikianlah kami (para nabi). Ujian dilipatgandakan bagi kami dan pahala kami juga dilipatgandakan.'”
Demikian juga ketika Ibnu Mas’ud menjenguk Rasulullah SAW. Ia menuturkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُوعَكُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِكَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا.
“Aku menjenguk Rasulullah SAW ketika beliau sakit. Maka, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sakit keras?’
Beliau menjawab, ‘Tentu, sesungguhnya aku sakit sebagaimana sakitnya dua orang dari kalian.’
Aku berkata, ‘Apakah demikian karena engkau mendapatkan pahala dua kali lipat?’
Nabi menjawab, ‘Tentu, demikianlah. Tidak seorang Muslim pun ditimpa gangguan, apakah duri atau lebih dari itu, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.'”
Tahajud, wajib bagi Nabi
Di antara ibadah sunah yang begitu mengundang keberkahan dan kemudahan dalam kehidupan seorang Mukmin ialah shalat tahajud. Waktu pelaksanaannya ialah pada malam hari, yakni sesudah shalat isya hingga tiba saatnya subuh.
Berbagai hadis sahih, termasuk yang diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW bangun untuk mengerjakan shalat tahajud, yakni setelah beliau tidur. Kebiasaan ini dapat dijadikan dasar hukum mengenai waktu pengerjaan ibadah ini. Bahwa shalat tahajud itu sunah dikerjakan oleh seorang Muslim setelah ia tidur beberapa saat pada malam hari; kemudian pada pertengahan malam, ia bangun untuk shalat tahajud.
Alquran surah al-Isra ayat ke-79 itu menerangkan tujuan shalat tahajud bagi diri Nabi Muhammad SAW: agar Allah menempatkannya pada ‘tempat yang terpuji’ (maqaman mahmudan).
Maqaman Mahmudan juga berarti kedudukan yang di dalamnya Allah mengizinkan Rasulullah SAW untuk memberikan syafaat kepada manusia pada hari kiamat. Dengan syafaat Nabi SAW itu, atas izin Allah, orang-orang yang beriman dapat keluar dari kesusahan dan kesulitan sehingga mereka masuk ke dalam surga-Nya.
Diriwayatkan oleh an-Nasai, al-Hakim, dan segolongan ahli hadis, bahwa Nabi SAW bersabda mengenai keadaan pada hari kiamat.
“Allah mengumpulkan manusia pada suatu daratan yang luas pada hari kiamat. Mereka semua berdiri dan tidak seorang pun yang berbicara pada hari itu kecuali dengan izin-Nya.
Orang-orang yang mula-mula diseru namanya adalah Muhammad. Maka Muhammad berdoa kepada-Nya.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Jabir bin ‘Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca doa setelah selesai mendengar azan, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang dikerjakan ini, berilah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan dan angkatlah ia kepada maqaman mahmudan yang telah Engkau janjikan kepadanya,’ maka dia memperoleh syafaatku.”




