spot_img

Inilah Alasan Mengapa Setiap Muslim Harus Mendekatkan Diri kepada Allah

KNews.id – Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia terus mencari kebahagiaan, ketenangan, dan rasa aman. Sebagian mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, atau berbagai kenikmatan dunia. Namun, tidak sedikit yang akhirnya menyadari bahwa semua itu tidak selalu mampu mengisi kekosongan hati.

Lalu, di manakah sumber ketenangan yang sesungguhnya? Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.

- Advertisement -

Semakin dekat seseorang kepada Rabb-nya, semakin kuat pula ketenangan, harapan, dan keberkahan yang ia rasakan dalam hidupnya. Karena itulah, menjadi dekat dengan Allah bukan sekadar pilihan spiritual, melainkan kebutuhan setiap manusia.

Dalam Islam, orang yang dekat dengan Allah disebut sebagai wali Allah. Mereka bukanlah manusia yang memiliki kekuatan luar biasa atau kedudukan khusus di mata manusia, melainkan hamba-hamba yang beriman, bertakwa, dan istiqamah dalam menaati perintah-Nya.

- Advertisement -

Rasulullah SAW meriwayatkan sebuah hadis qudsi yang sangat agung. Allah SWT berfirman:

من عادى لي وليًّا فقد آذنته بالحرب، وما تقَرَّب إليَّ عبدي بشيء أحب إليَّ مما افترضْتُه عليه، ولا يزال عبدي يتقَرَّب إليَّ بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورِجْله التي يمشي بها، ولئن سألني لأعطينه، ولئن استعاذ بي لأعيذنَّه

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku nyatakan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.

Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk bertindak, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA)

Hadis ini menunjukkan bahwa jalan menuju kedekatan dengan Allah sangat jelas. Pertama, menjaga seluruh kewajiban yang telah Allah tetapkan.

Kedua, memperbanyak amalan sunnah hingga mendapatkan cinta-Nya. Karena itu, seseorang tidak akan menjadi wali Allah hanya dengan angan-angan atau klaim semata.

- Advertisement -

Kedekatan dengan Allah dibangun melalui tauhid yang benar, shalat yang terjaga, puasa yang ikhlas, zakat yang ditunaikan, serta berbagai amal saleh yang dilakukan secara konsisten.

Mengapa kita harus dekat dengan Allah?

Jawaban pertama adalah karena kedekatan kepada Allah melahirkan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Orang yang dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan batin meskipun menghadapi berbagai ujian hidup.

Ia memahami bahwa semua yang terjadi berada dalam ketentuan Allah Yang Maha Bijaksana. Karena itu, ia mampu menghadapi musibah dengan sabar dan menerima nikmat dengan penuh syukur. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةًۭ طَيِّبَةًۭ ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٩٧

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik bukan semata-mata kehidupan yang penuh kemewahan, tetapi kehidupan yang dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup dalam hati. Allah juga memberikan kabar gembira kepada para wali-Nya:

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٦٢ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ ٦٣ لَهُمُ ٱلْبُشْرَىٰ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ٦٤

“Ingatlah! Wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS Yunus: 62–64)

Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah menghadirkan ketenteraman di dunia sekaligus keselamatan di akhirat. Banyak orang bekerja keras demi masa depan anak-anak mereka.

Mereka menyiapkan pendidikan terbaik, tabungan, rumah, dan berbagai bentuk investasi. Namun Islam mengajarkan bahwa ada investasi yang jauh lebih besar nilainya, yaitu ketakwaan kepada Allah. Orang tua yang menjaga hubungan dengan Allah akan memperoleh penjagaan-Nya, termasuk bagi keturunannya.

Sebab Allah tidak hanya menjaga seorang hamba yang saleh, tetapi juga dapat melimpahkan keberkahan kepada anak-anak dan cucunya. Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةًۭ ضِعَـٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًا ٩

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. ” (QS An-Nisa’: 9)

Karena itu, salah satu cara terbaik menjaga masa depan keluarga bukan hanya dengan mengumpulkan harta, tetapi juga dengan memperkuat ketakwaan dan kedekatan kepada Allah.

Kedekatan kepada Allah di dunia akan berbuah kedekatan dengan-Nya di akhirat. Allah SWT berfirman:

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلسَّـٰبِقُونَ ١٠ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلْمُقَرَّبُونَ ١١

.”..dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah)…”(QS Al-Waqi’ah: 10–11)

Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, bersegera dalam ibadah, memperbanyak zikir, dan memanfaatkan hidupnya untuk amal saleh.

Karena itulah, siapa yang ingin menjadi golongan al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) pada Hari Kiamat, harus memulai langkah itu sejak sekarang.

Puncak dari kedekatan kepada Allah adalah memperoleh surga dan keridaan-Nya. Allah SWT berfirman:

فَأَصْحَـٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ مَآ أَصْحَـٰبُ ٱلْمَيْمَنَةِ ٨ وَأَصْحَـٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ مَآ أَصْحَـٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ ٩

“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.”

“Adapun jika ia termasuk golongan yang didekatkan kepada Allah, maka ia memperoleh ketenteraman, rezeki yang harum, dan surga penuh kenikmatan.” (QS Al-Waqi’ah: 88–89)

Dalam ayat lain, Allah menggambarkan saat-saat yang membahagiakan bagi orang-orang yang istiqamah:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.(QS Fussilat: 30)

Bahkan Allah menggambarkan kenikmatan penghuni surga dengan sangat indah:

إِنَّ أَصْحَـٰبَ ٱلْجَنَّةِ ٱلْيَوْمَ فِى شُغُلٍۢ فَـٰكِهُونَ ٥٥ هُمْ وَأَزْوَٰجُهُمْ فِى ظِلَـٰلٍ عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ مُتَّكِـُٔونَ ٥٦ لَهُمْ فِيهَا فَـٰكِهَةٌۭ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ٥٧ سَلَـٰمٌۭ قَوْلًۭا مِّن رَّبٍّۢ رَّحِيمٍۢ ٥٨

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.

Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan. (Kepada mereka dikatakan), “Salām,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS Yasin: 55–58)

Betapa agung kemuliaan yang Allah siapkan bagi hamba-hamba yang selama hidupnya berusaha mendekat kepada-Nya.

Sebaliknya, orang yang menjauh dari Allah dan mengikuti hawa nafsunya akan menghadapi penyesalan yang sangat dalam. Allah SWT berfirman:

وَٱمْتَـٰزُوا۟ ٱلْيَوْمَ أَيُّهَا ٱلْمُجْرِمُونَ ٥٩ أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ ٦٠ وَأَنِ ٱعْبُدُونِى ۚ هَـٰذَا صِرَٰطٌۭ مُّسْتَقِيمٌۭ ٦١

“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa! Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yasin: 59–61)

Penyesalan itu tidak lagi berguna ketika kehidupan dunia telah berakhir. Karena itu, kesempatan untuk mendekat kepada Allah adalah sekarang, selama pintu taubat masih terbuka dan umur masih diberikan.

Pada akhirnya, kedekatan kepada Allah bukanlah sesuatu yang rumit. Jalannya telah dijelaskan dalam hadis qudsi yang agung: menjaga kewajiban-kewajiban agama, kemudian memperbanyak amalan sunnah.

Shalat yang khusyuk, zikir yang tulus, sedekah yang ikhlas, membaca Alquran membantu sesama, menjaga akhlak, dan berbagai amal saleh lainnya merupakan tangga-tangga yang mengantarkan seorang hamba menuju cinta Allah.

Ketika seorang hamba dicintai Allah, maka ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh kenikmatan dunia: ketenangan hati, keberkahan hidup, penjagaan bagi dirinya dan keluarganya, kemuliaan di akhirat, serta keridaan dari Rabb semesta alam. Karena itu, pertanyaan sebenarnya bukan lagi mengapa kita harus dekat dengan Allah, melainkan sudah sejauh mana kita berusaha mendekat kepada-Nya hari ini.

(RD/RPK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini