Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Jakarta 19 Februari 2026 – Indonesian masih tersenyum menunda tangis. Presiden Prabowo Subianto masih bercanda berpotensi sebagai penghianat nega
Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak” adalah pepatah yang selalu ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pepatah salah tempat karena yang dipertaruhan adalah kedaulatan negara.
Demi Konsolidasi Internal semua maling, perampok, kecu, brandal, koruptor disatukan dalam Kabinet Merah Putih. Oligarki di pelihara bahkan dimanjakan, hukum dipensiunkan, eksistensi NKRI dipertaruhkan.
Presiden mestinya sadar atau menyadari Indonesia tinggal tunggu waktu dikuasai sepenuhnya oleh China, akibat salah baca peta kekuatan etnis Cina di Indonesia.
Nasib kaum pribumi di ujung tanduk, fakta keadaan sangat terang benderang.
Berikut data dan fakta yang melekat pada warga negara etnis Cina:
- Sejak dulu warga negara etnis China menolak mengakui sebagai Bangsa Indonesia. Hanya mengakui sebagai Warga Negara Indonesia.
- Warga negara etnis Cina memiliki Dwi Kewarganegaraan. Oleh sebab itu mereka memiliki 2 (dua ) nama.
- Berdasarkan keputusan Parlemen RRC Komunis Sosialis Tiongkok, dengan One Country Two Systemnya. Tentara Cina mempunyai hak untuk memasuki negara manapun yang ada etnis Cina disitu. Guna melindungi investasi, harta benda, keselamatan, dan nyawa warga nya.
- Etnis Cina lahir dimanapun diluar Tiongkok, menganggap diri mereka hanya perantau, dan tanah leluhurnya tetap Tiongkok.
- Di Indonesia, sejak zaman Penjajahan Belanda, Inggris, hingga Jepang, sebagian besar etnis China menjadi kaki tangan penjajah, kecuali segelintir saja yang mau berjuang untuk kemerdekaan. Selebihnya memilih hidup nyaman berpelukan dengan penindasan.
- Sejak Kemerdekaan, 17/08/1945, hingga hari ini, etnis Cina menguasai ekonomi, perbankan, lahan, dan sekarang politik Indonesia dengan cara licik, curang, dan diluar etika. Merekalah menggunakan cara Triad, : menyogok, menyuap, membully, mengancam, menyiksa, menjebak, bahkan membunuh, untuk mencapai tujuan mereka.
- Modusnya tetap sama sejak jaman Belanda, menyuap petugas / penguasa negara. Membeli pejabat dan parpol serta ormas, bahkan lembaga keagamaan tidak luput dari cengkraman tangan kotor mereka.
Prof Amir Santoso mengatakan Presiden siapa pun dia, akan terus berdiri di antara dua arus yaitu antara harapan rakyat dan tekanan mereka yang membiayai jalan menuju kekuasaan.
Problem Indonesia tidak akan pernah selesai, Jika etnis Cina ( oligarki hitam ) dibiarkan menghisap sumber daya alam dan kekayaan Bangsa Indonesia sampai ketulang sumsum, karena kebodohan, ketololan penguasa/ penyelenggara negara sendiri.
(FHD/NRS)




