KNews.id – Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada 18-22 Mei 2026. IHSG sepekan tertekan didorong sentimen internal dan eksternal, salah satu kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) dan Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (23/5/2026), IHSG turun 8,35% ke posisi 6.162,04 dari pekan lalu di 6.723,32. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI terpangkas 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan ini pergerakan IHSG tertekan cukup dalam.Tekanan IHSG itu didorong sejumlah faktor. Pertama, aliran dana investor yang keluar dari akibat didepaknya beberapa emiten dari konstituen MSCI. Kedua, FOMC Minutes di mana hasilnya the Federal Reserve (the Fed) masih cenderung hawkish karena gejolak Timur Tengah sehingga membuat inflasi Amerika Serikat masih berada di atas 2%.
Ketiga, suku bunga acuan atau BI Rate naik 50 basis poin (bps) dengan menstabilkan nilai tukar rupiah. “Keempat, regulasi pemerintah akan komoditas yang menekan harga emiten-emiten komoditas,” tutur dia.
Sektor Saham
Selanjutnya sektor saham consumer siklikal turun 10,20 persen, sektor saham perawatan kesehatan terperosok 2,41 persen, sektor saham keuangan tergelincir 4,11 persen. Lalu sektor saham properti dan real estate merosot 8,42 persen, sektor saham teknologi susut 5,07 persen, sektor saham infrastruktur melemah 10,80 persen dan sektor saham transportasi dan logistik turun 19,18 persen.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian menguat 15,68 persen dari Rp 18,82 triliun menjadi Rp 21,77 triliun. Kenaikan juga diikuti rata-rata volume transaksi harian BEI yang bertambah 2,53 persen menjadi 36,67 miliar saham dari 35,76 miliar saham pada pekan lalu.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian harian turun 6,5 persen menjadi 2,37 juta kali transaksi dari 2,53 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham 11-13 Mei 2026. Pergerakan IHSG sepekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, (14/5/2026), IHSG turun 3,53% selama tiga hari perdagangan dan ditutup ke 6.723,32. Pada pekan lalu, IHSG naik 0,18 % menjadi 6.969,39. Kapitalisasi pasar juga terpangkas 4,68% menjadi Rp 11.825 triliun dari Rp 12.406 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 3,53% dan masih didominasi oleh tekanan jual. Dari sisi sentimen, pihaknya melihat sejumlah faktor. Pertama, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di 3,8% YoY, di mana akan membuat suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan cenderung higher for longer atau tinggi dalam jangka waktu lama. Kedua, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Iran mengenai gencatan senjata dan juga perundingan yang terjadi.
“Ketiga, rilis rebalancing MSCI Indonesia yang berisiko menimbulkan downweighting dan outflow dari pasar Indonesia,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Faktor keempat, rilis data inflasi China yang cenderung meningkat serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia yang cenderung stabil. Kelima, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berada di kisaran 17.500. “Faktor keenam, waktu perdagangan yang pendek,” tutur Herditya.
Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga merosot 0,56% menjadi 2,53 juta kali transaksi dari 2,55 juta kali transaksi pada pekan lalu. Lalu rata-rata nilai transaksi harian terpangkas 18,78% menjadi Rp 18,82 triliun dari Rp 23,05 triliun pada pekan lalu.
Rata-rata volume transaksi harian BEI juga terperosok 22,01% menjadi 35,76 miliar saham dari pekan lalu 45,86 miliar saham. Investor asing melakukan aksi jual saham sekitar Rp 3,21 triliun pada pekan ini. Hal ini berbeda dari pekan lalu yang mencapai Rp 12,6 triliun.





