KNews.id – Gaza 31 Desember 2025 – Brigade Izzuddin al-Qassam secara resmi mengumumkan kematian juru bicara mereka, Abu Ubaida, pada Senin. Mereka juga mengungkapkan nama aslinya untuk pertama kalinya.
“Kami berduka atas komandan bertopeng Abu Ubaida, yang bernama asli Hudhaifa Samir Abdullah Al-Kahlout (Abu Ibrahim), juru bicara Brigade Al-Qassam,” bunyi pernyataan Brigade al-Qassam dilansir Aljazirah Arabia.
Abu Ubaida menjabat sebagai juru bicara Brigade Qassam selama bertahun-tahun tanpa mengungkapkan nama aslinya. Kehadirannya memperoleh momentum yang signifikan di tingkat Arab dan Islam, setelah operasi Banjir Al-Aqsa, yang diluncurkan oleh perlawanan Palestina terhadap basis dan pemukiman pendudukan Israel pada tanggal 7 Oktober 2023.
Abu Ubaida terus menceritakan rincian dan kemajuan operasi militer perlawanan dan menjelaskan posisi di garis depan. Dia hampir setiap hari dinantikan masyarakat Aran dan dunia selama dua tahun terakhir.
Meskipun sedikit yang diketahui tentang kehidupannya, Kahlout menyebutkan dalam sebuah wawancara pada 2005 bahwa keluarganya dipindahkan secara paksa oleh milisi Zionis selama Nakba tahun 1948 dan dimukimkan kembali di sebuah kamp yang tidak disebutkan namanya di Jalur Gaza. Pada saat itu, dia menyatakan bahwa dia berusia awal 20-an, menyiratkan bahwa dia lahir pada pertengahan tahun 1980-an.
Sumber di Hamas mengatakan hanya sedikit orang yang mengetahui identitas aslinya sebelum kematiannya.
“Abu Ubaidah” adalah nama samaran yang dia gunakan selama Intifada Kedua (2000-2005) ketika dia pertama kali muncul di depan umum. Nama tersebut mungkin merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, seorang sahabat Nabi Muhammad yang dihormati dan seorang komandan militer legendaris.
Penampilan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade Qassam adalah pada 2004. Dia mengadakan konferensi pers pada bulan Oktober itu selama serangan darat Israel di Gaza utara.
Sejak saat itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer kelompok tersebut, menyampaikan pidato dan informasi terkini di medan perang melalui platform media resmi Hamas. Perannya diresmikan di kantor media Hamas pada tahun 2004. Penampilan besar pertamanya terjadi pada tahun 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit.
Pada 2014, ia juga orang pertama yang mengumumkan penangkapan tentara Israel lainnya, Shaul Aron, selama perang Israel di Gaza, dengan mengungkapkan nomor kartu identitasnya dalam rekaman video.
Kadang-kadang, dia berkomentar di luar masa perang. Pada tahun 2022, setelah penangkapan kembali enam tahanan Palestina yang melarikan diri dari penjara Israel, ia berjanji bahwa Hamas akan menjamin pembebasan mereka melalui pertukaran tahanan di masa depan.
Brigade al-Qassam melakukan penyergapan rumit yang menargetkan kendaraan pendudukan Israel yang menembus Jalan George, sebelah timur kota Rafah, 6 Agustus 2024. Salah satu pidatonya yang paling menonjol adalah pada tanggal 28 Oktober 2024, ketika ia mengkritik para pemimpin Arab karena gagal membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
“Allah melarang” warga Palestina meminta penguasa Arab untuk campur tangan secara militer di Gaza. Ungkapan “Allah melarang” kemudian menjadi slogan yang banyak digunakan di negara-negara berbahasa Arab dan di media sosial untuk mengekspresikan keengganan para pemimpin Arab untuk bertindak melawan serangan Israel.
Israel melakukan beberapa upaya untuk membunuhnya selama 20 tahun terakhir, termasuk dua upaya sejak Oktober 2023. Pada April 2024, AS memberinya sanksi sebagai “kepala perang informasi” Hamas, dan Departemen Keuangan AS menuduhnya memimpin “departemen pengaruh dunia maya Brigade al-Qassam”.
Pernyataan Brigade al-Qassam menyampaikan pujian terhadap kehadiran Abu Ubaidah. “Kami hanya bisa berdiri dalam kekaguman dan rasa hormat di hadapan pemilik posisi ini, yang selalu muncul di hadapan kalian dengan suaranya yang kuat, kata-katanya yang tulus, dan kabar baik yang ditunggu-tunggu. Pria bertopeng yang dicintai jutaan orang dan sangat ditunggu-tunggu kemunculannya, dan di dalamnya mereka melihat inspirasi, dan dalam keffiyeh merahnya merupakan ikon bagi semua orang bebas di dunia.”
Pernyataan tersebut menggambarkan pria bertopeng sebagai suara gemilang bangsa, sosok yang memegang teguh perkataan dan pendirian, denyut nadi Palestina, kota sucinya, rakyatnya dan pejuang perlawanannya, pemimpin media Qassam, dan sosok yang memberikan pengaruh besar di hati putra bangsa.
“Ksatria ini, yang tidak pernah memisahkan diri dari rakyatnya dalam keadaan paling gelap, menyapa mereka dari inti pertempuran, memberi mereka kabar baik, menghibur mereka, dan menepuk punggung mereka meskipun ada bahaya ekstrem dan sasaran berulang kali.”
Al-Qassam menjelaskan bahwa syahid Hudhaifa Samir Abdullah Al-Kahlout meninggal dunia setelah dua dekade memprovokasi musuh dan menggembirakan hati orang-orang beriman. “Ia bertemu Allah dalam kondisi terbaik.”
Aksi Brigade Al-Qassam menjebak tank-tank Israel di persimpangan Al-Saftawi, sebelah barat kamp Jabalia, September 2025.
Brigade Al-Qassam menekankan bahwa “7 Oktober” adalah “ledakan besar dalam menghadapi ketidakadilan, penindasan, pengepungan dan segala bentuk agresi terhadap Al-Aqsa dan rakyat Palestina. Serangan itu dilakukan karena Israel telah melanggar semua garis merah, mengabaikan semua tuntutan dan peringatan serta mengabaikan semua piagam dan perjanjian. “Topan al-Aqsa datang untuk memperbaiki arah dan membawa masalah ini kembali ke permukaan setelah mulai memasuki masa terlupakan.
Menurut pernyataan al-Qassam, peristiwa tersebut membangkitkan hati nurani orang-orang bebas di negara dan dunia, dan menguak penjajahan Israel, kesadisannya, kriminalitas dan genosidanya. “Rakyat kami yang hebat, melalui ketabahan, pengorbanan dan ketahanan mereka, menggagalkan semua rencana musuh, mulai dari pengungsian, melewati kamp konsentrasi dan jebakan maut, dan tidak berakhir dengan pemukiman kembali, dan mereka juga menggagalkan semua tujuan perang.”
Kelompok Palestina Hamas akhirnya mengkonfirmasi bahwa juru bicara sayap bersenjata mereka, Abu Ubaidah, dan kemudian pemimpin Gaza Mohammed Sinwar syahid dalam perang genosida Israel awal tahun ini. Brigade Qassam membuat pengumuman tersebut pada hari Senin.
“Brigade Al-Qassam mengumumkan gugurnya juru bicara resminya, Abu Ubaidah, bersama sejumlah pimpinan Dewan Militer, serta menegaskan penunjukan juru bicara baru untuk melanjutkan perjuangan. Kami menekankan bahwa darah para syuhada akan tetap menjadi bahan bakar perlawanan hingga pembebasan,” bunyi pernyataan Hamas.
Militer Israel mengatakan pada bulan Mei bahwa mereka telah membunuh Sinwar, adik dari mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar. Tiga bulan kemudian, dikatakan bahwa mereka juga membunuh Abu Ubaidah.
Kelompok Hamas saat ini telah menunjuk juru bicara baru yang nama sandinya juga Abu Ubaidah.
Pernyataan terakhir Abu Ubaidah yang syahid dilansir pada awal September ketika Israel memulai tahap awal serangan militer baru di Kota Gaza, menyatakan daerah tersebut sebagai zona pertempuran karena menghancurkan ratusan bangunan tempat tinggal dan warga Palestina melarikan diri secara massal.
Israel pada Ahad (31/8/2025) mengumumkan pembunuhan Abu Ubaidah dalam sebuah serangan di Kota Gaza pada Sabtu (30/8/2025). Pihak Hamas kala itu tak mengiyakan atau menyangkal kabar tersebut.
Dilansir Aljazirah, Senin (9/1/2025), Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengatakan Israel telah berhasil membunuh Abu Ubaidah di Gaza, setelah itu tentara Israel dan Badan Keamanan Dalam Negeri (Shin Bet) mengeluarkan sebuah pernyataan bersama tentang pembunuhan tersebut.
Pernyataan tersebut mengatakan tentara dan Shin Bet berhasil melenyapkan Huzaifa al-Kahlout (Abu Ubaida) kemarin. Ditambahkan bahwa operasi tersebut didasarkan pada informasi intelijen sebelumnya tentang keberadaannya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas tuduhan kejahatan perang, mengatakan bahwa tentara sejak lama telah menargetkan Abu Ubaidah. “Kami sedang menunggu hasilnya,” kata dia. Radio Angkatan Darat Israel mencatat tentara telah gagal membunuh Abu Ubaidah dalam dua upaya sebelumnya sejak awal perang di Gaza.
Abu Ubaidah telah menjadi simbol perlawanan Palestina sejak dia muncul pertama kali di depan umum pada 25 Juni 2006. Ketika itu, dia mengumumkan bahwa perlawanan telah melakukan Operasi Ilusi Penghilangan, yang berujung pada terbunuhnya dua tentara Israel dan tertangkapnya prajurit Gilad Shalit.




