KNews.id – Jakarta – Dominasi artificial intelligence (AI) dan ketatnya persaingan lapangan pekerjaan tidak hanya mendorong generasi muda untuk menggali lebih banyak keterampilan, tetapi juga mulai mencari peluang di jenis pekerjaan lain.
Beralih ke pekerjaan ini bukan sekadar “mencoba hal baru”, melainkan munculnya kondisi memprihatinkan yang mulai menghantui posisi Gen Z untuk mendapatkan pekerjaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, Indonesia memiliki total 7,28 juta pengangguran, dengan lebih dari 1 juta di antaranya merupakan lulusan sarjana. Selain itu, Gen Z juga jadi pennyumbang tertinggi angka pengangguran dari tahun ke tahun.
Padahal, angka mencatat bahwa 27 persen dari total Gen Z akan memasuki dunia kerja pada tahun 2025. Jadi, hampir satu per tiga angkatan kerja seluruh dunia merupakan Gen Z.
Kerjaan “prestige” tak lagi dikejar
Pekerjaan kantoran di gedung-gedung tinggi kini seolah bukan lagi pilihan utama. Justru, jenis pekerjaan yang dulu hanya cadangan kini menjadi pilihan utama demi bertahan hidup.
Dilansir dari Economic Times, Selasa (12/8/2025) Resume Builder mengungkap sebanyak 42 persen Gen Z sudah bekerja atau tengah menjalani karier di bidang keterampilan seperti perpipaan, kelistrikan, dan pengelasan. Menariknya, 37 persen di antaranya adalah lulusan sarjana.
Sebanyak 19 persen responden Gen Z yang bekerja di pekerjaan terampil mengaku tidak bisa mendapatkan pekerjaan sesuai jurusan yang mereka pelajari. Sebagian lainnya bahkan meninggalkan pekerjaan “kerah putih” karena potensi penghasilan lebih rendah.
Menurut mereka, pekerjaan dengan keterampilan nyata memberikan pendapatan langsung dan masa depan yang lebih aman dari ancaman AI.
“Pekerjaan di bidang terampil menawarkan pekerjaan langsung yang sulit diotomatisasi. Banyak lulusan merasa gelar mereka tidak mengarah pada karier yang nyata. Sehingga mereka mencari alternatif yang lebih praktis dan diminati,” jelas Stacie Haller, Kepala Penasihat Karier di Resume Builder, dikutip dari Economics Times, Selasa (12/8/2025).
Alasan pekerjaan “blue collar” diincar
Forbes mengungkap beberapa alasan mengapa terjadi transformasi tren pekerjaan. Berikut diantaranya:
1. Keamanan pekerjaan dan lowongan melimpah
Penelitian Deloitte mengungkap bahwa Amerika Serikat membutuhkan 3,8 juta pekerja tambahan di bidang manufaktur, sedangkan 1,9 juta posisi terancam kosong.
Selain itu, Biro Statistik Tenaga Kerja juga memproyeksikan akan ada pertumbuhan yang lebih cepat di pekerjaan tukang listrik, ledeng, dan teknisi hingga 2033.
Beberapa lulusan perguruan tinggi merasa bahwa pekerjaan terampil memberikan mereka pekerjaan dan upah langsung, dibanding kerja formal yang harus menunggu selama berbulan-bulan dan program magang tak berbayar.
2. Meledaknya otomatisasi pekerjaan
AI memang dapat membantu desain atau perencanaan, tapi tidak bisa membantu praktek langsung untuk pekerjaan teknis. Forbes mengungkap bahwa masalah sistem mekanis yang kompleks tidak bisa digantikan oleh AI.
3. Upah yang lebih baik
Menurut sebagian besar generasi muda, upah yang ditawarkan oleh pekerjaan terampil lebih bernilai dibandingkan saat mereka berada di pekerjaan kerah putih.
Pekerjaan seperti tukang listrik dan teknisi berpengalaman menghasilkan upah hingga $60.000–$80.000 atau kisaran maksimal Rp 1.302.800.000 per tahun.
4. Kesesuaian dengan nilai
Pekerja kantoran cenderung lebih individualis dan terisolasi, sedangkan pekerjaan terampil dinilai lebih melibatkan kerja sama karena dibutuhkan koordinasi maupun bimbingan yang intens. Hal ini membuat mereka berorientasi pada tim.
Selain itu, beberapa diantara mereka juga lebih suka melihat hasil kerja yang nyata berdasarkan tujuan dan dampak, sesuai dengan output yang diberikan pekerjaan terampil.
Dilansir dari Kompas.com, generasi muda Indonesia lebih memilih pekerjaan yang praktis dan informal dibandingkan kerja kantoran. Misalnya, salah satu pilihan yang cukup populer adalah freelancer.
Mereka lebih memilih untuk menerapkan work-life balance, tidak ada tekanan yang besar. Seperti kerja kantoran, serta lebih tingginya upah dalam waktu kerja yang lebih sedikit.
Berbagai kondisi ini menunjukkan referensi generasi muda yang cenderung berbalik badan dari pekerja administratif atau kantoran yang bersifat formal.






