spot_img
Selasa, Juli 16, 2024
spot_img

Geger Pembobolan PDN Sementara

KNews.id – Sejumlah warganet menyindir penggunaan antivirus gratis Windows Defender untuk melindungi keamanan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 yang jadi korban serangan siber ransomware.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebelumnya mengungkap bahwa peretasan PDNS 2 di Surabaya bermula dari upaya melumpuhkan antivirus Windows Defender. Tiga hari kemudian, yakni 20 Juni, penjahat siber berhasil membobol sistem dan melumpuhkan layanan 282 instansi penggunanya.

- Advertisement -

Juru Bicara BSSN Ariandi Putra menuturkan Hasil Analisis Forensik Sementara menemukan adanya upaya penonaktifkan fitur keamanan Windows Defender mulai 17 Juni 2024 pukul 23.15 WIB. Hal ini memungkinkan aktivitas malicious dapat berjalan.

“Aktivitas malicious mulai terjadi pada 20 Juni 2024 pukul 00.54 WIB, di antaranya melakukan instalasi file malicious, menghapus filesystem penting, dan menonaktifkan service yang sedang berjalan,” ungkap Ariandi, dikutip dari siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Penggunaan Windows Defender sebagai ‘pengaman’ dari serangan siber ini pun mendapat sorotan dari warganet, khususnya di X (sebelumnya Twitter). Mereka menilai seharusnya infrastruktur penting seperti PDNS 2 tidak menggunakan aplikasi semacam Windows Defender.

“Server sekelas PDNS mestinya sudah pakai level security endpoint protection platform (EPP) dan endpoint detection response (EDR), Windows Defender mah buat apaan,” kata akun @en***, Rabu (26/6).

- Advertisement -

“proyek bernilai 2,7T kok masih pakai antivirus gratisan di lingkungan data center PDN? aneh sekali @kemkominfo ini. coba dicek dan diaudit @KPK_RI @bpkri,” imbuh netizen @agisubagio.

Akun lainnya juga menyampaikan rasa takjub sekaligus heran karena data publik warga Indonesia hanya dijaga oleh aplikasi gratisan seperti Windows Defender.
“Ya ampuun, data publik se-Indonesia cuma dijaga Windows Defender?” tulis akun @Al****.

Warganet lain juga menyindir bahwa sistem Windows yang digunakan PDNS2 dibeli di e-commerce yang harganya hanya Rp25 ribu.

“Itu Windows-nya palingan juga beli key di toko oren/ijo Rp25.000 dan anggarannya di tulis Rp2,7 triliun,” tulis akun @Th****.

Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan pemerintah menggunakan aplikasi Windows Defender. Sementara, mereka menduga anggaran untuk keamanan siber seharusnya tidak murah.

“Mosok Window Defender, anggaran triliunan cuman pakai bawaan Windows? Ini serius ada indikasi pelanggaran korupsi,” cuit akun @jol*** “Windows defender,” kicau @amarabyan sambil menyertakan emoticon tertawa terbahak-bahak.

Memangnya kenapa dengan Windows Defender?

Windows Defender merupakan antivirus atau software perlindungan keamanan dari Microsoft yang gratis disertakan jika membeli license Microsoft lain, seperti Microsoft 365. Versi berbayarnya berbentuk Microsoft Defender for Business.

“Windows Defender adalah cara sederhana untuk melindungi kehidupan digital dan semua perangkat Anda. Langganan disertakan sebagai bagian dari langganan Microsoft 365 Family, atau Personal, tanpa biaya tambahan,” tulis Microsot dalam laman resminya.

Lalu, bagaimana cara kerja Windows Defender?

Jika Defender menemukan malware di perangkat, program akan memblokirnya dan menginformasikan kepada pengguna. Kemudian, pengguna harus menghapus malware tersebut.

Dalam beberapa kasus, Windows Defender mungkin mengharuskan pengguna untuk melakukan beberapa tindakan seperti mengkarantina atau menghapus file atau proses berbahaya.

(Zs/cnn)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini