KNews.id – Jakarta – Nama Melva Maria Rosa Pardede tengah menjadi perbincangan setelah videonya saat aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026), viral di media sosial. Melva menjadi sorotan setelah secara terbuka meluapkan kekecewaannya kepada massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang memilih meninggalkan lokasi aksi setelah bertemu dengan pimpinan DPR RI.
Dalam video yang beredar, Melva terlihat mengenakan jaket ojek online (ojol) dan menyampaikan protes kepada rombongan massa Pati. Sikap tersebut kemudian memunculkan beragam reaksi. Melva bahkan disebut sebagai provokator aksi. Tak berhenti di situ, muncul pula sejumlah unggahan di media sosial yang mengaitkan Melva dengan PDI Perjuangan. Namun, sejumlah tudingan mengenai latar belakang Melva tersebut kemudian dibantah.
Dituding Kader PDIP, Ternyata Bukan
Isu mengenai Melva sebagai kader PDI Perjuangan mencuat setelah beredar foto perempuan yang disebut sebagai Melva mengenakan pakaian beratribut partai. Klaim tersebut kemudian mendapat tanggapan dari politisi PDI Perjuangan Jhon Sitorus.
Melalui unggahan di media sosial, Jhon menyebut Melva bukan kader resmi PDI Perjuangan. Menurutnya, Melva tidak memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) dan tidak terdaftar sebagai kader resmi partai. Jhon juga menyoroti foto yang beredar dan dikaitkan dengan Melva.
Ia menyebut foto tersebut diduga merupakan hasil kreasi artificial intelligence (AI). Jhon bahkan membandingkan atribut pada foto tersebut dengan pakaian resmi PDI Perjuangan. Menurutnya, seragam resmi partai menggunakan tulisan “PDI Perjuangan”, bukan logo bertuliskan “PDIP” seperti yang terlihat dalam foto yang beredar.
Ia juga mengklaim penelusuran menggunakan Google Lens tidak menemukan foto Melva dengan pakaian merah tersebut. Klarifikasi serupa disampaikan Juru Bicara PDI Perjuangan Guntur Romli. Ia menegaskan Melva bukan kader partai. Dengan demikian, klaim yang menyebut Melva sebagai kader PDI Perjuangan tidak terbukti dan telah dibantah oleh pihak partai.
Bukan Relawan Resmi Pramono-Rano
Jhon Sitorus juga meluruskan informasi lain yang mengaitkan Melva dengan pasangan Pramono Anung-Rano Karno pada Pilkada Jakarta. Menurut Jhon, Melva bukan bagian dari relawan resmi pasangan tersebut.
“Jika simpatisan, bisa jadi iya,” tulis Jhon dalam unggahannya. Jhon juga menyebut Melva pernah menyampaikan kritik terhadap Pramono Anung pada 2025. Ia kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Masyarakat diminta memeriksa sumber informasi dan melakukan pengecekan fakta sebelum menyebarkan sebuah klaim.
Melva Disebut Bukan Pengemudi Ojol
Selain tudingan sebagai kader partai, profesi Melva sebagai pengemudi ojol juga ikut menjadi perbincangan. Dalam video yang viral, Melva memang terlihat mengenakan jaket ojol ketika menyampaikan protes kepada massa Pati. Namun, Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) menyatakan Melva bukan pengemudi ojol berdasarkan informasi yang mereka terima dari pengemudi di lapangan.
Terlepas dari polemik mengenai profesinya, Melva tampil dalam aksi tersebut sebagai salah satu relawan yang menyampaikan kekecewaan terhadap massa Pati.
Awal Mula Melva Protes Massa Pati
Viralnya Melva bermula setelah dirinya memprotes rombongan AMPB yang membubarkan diri dari depan Gedung DPR RI. Sebelumnya, perwakilan AMPB bersama Supriyono alias Botok bertemu dengan pimpinan DPR RI untuk menyampaikan sejumlah aspirasi.
Salah satu isu yang dibahas dalam audiensi tersebut adalah Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Dalam pertemuan itu, pimpinan DPR menyampaikan komitmen agar RUU Perampasan Aset dapat disahkan paling lambat 15 Desember 2026.
Usai mendapatkan komitmen tersebut, massa Pati kemudian meninggalkan lokasi aksi sekitar pukul 11.55 WIB. Keputusan tersebut rupanya membuat sebagian relawan ojol yang masih berada di lokasi merasa kecewa. Melva menjadi salah satu orang yang menyampaikan kekecewaan tersebut secara terbuka.
Ia mempertanyakan alasan massa Pati langsung meninggalkan Jakarta setelah memperoleh hasil audiensi. Menurut Melva, para relawan ojol telah membantu massa Pati selama berada di Jakarta, termasuk dalam pengawalan dan kebutuhan logistik.
Kritik Keras Melva di Depan Gedung DPR
Dalam video yang beredar, Melva terlihat menyampaikan protes ketika rombongan massa Pati meninggalkan lokasi. “Dari Pati pulang dulu. Terima kasih semuanya, ya,” ujar Melva. Namun, setelah itu ia menyampaikan kritik yang lebih keras.
“Saudaraku Pati, kami warga Jakarta merasa diberaki oleh kalian. Kalian main pulang saja sesudah dari dalam. Kalian sudah cair, kalian pulang,” kata Melva. Ia kemudian mempertanyakan nasib para pengemudi ojol yang menurutnya telah membantu perjuangan massa Pati.
“Bagaimana nasib rekan-rekan saya yang membackingin Anda pada saat Anda diciduk aparat,” ujarnya.
Melva juga meminta massa Pati tidak menjadikan Jakarta sebagai tempat membuang masalah.
“Kalian kalau mau buang sampah jangan di Jakarta, silakan di Pati,” tambahnya.
Bahkan, Melva menyatakan akan menolak apabila massa Pati kembali datang ke Jakarta pada momentum berikutnya.
“Kalau kalian datang lagi 15 Desember misalkan disahkan RUU itu, jangan injak lagi Jakarta,” tegasnya.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Melva juga meminta AMPB menyampaikan permintaan maaf kepada para relawan ojol.
Ia merasa bantuan yang diberikan para relawan selama aksi tidak mendapatkan penghargaan yang semestinya.
Melva Jadi Sorotan di Tengah Viral Video Demo
Pernyataan Melva tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Perdebatan mengenai sosoknya pun berkembang, mulai dari tudingan sebagai provokator, klaim sebagai kader PDI Perjuangan hingga profesinya sebagai pengemudi ojol.
Namun, berdasarkan klarifikasi yang muncul, klaim mengenai Melva sebagai kader resmi PDI Perjuangan telah dibantah oleh pihak partai.
Karena itu, informasi mengenai identitas dan latar belakang Melva perlu dilihat berdasarkan keterangan yang dapat diverifikasi, bukan semata-mata dari narasi yang beredar di media sosial. Di sisi lain, aksi Melva menyampaikan kritik terhadap massa Pati menjadi bagian dari dinamika demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026.






