spot_img
Selasa, Februari 24, 2026
spot_img
spot_img

Evolusi Taktik Intelijen Israel dalam Menghadapi Hizbullah

KNews.id – Israel berinvestasi besar-besaran untuk menyadap komunikasi kelompok Hizbullah dan melacak para komandannya dalam perang secara diam-diam (shadowy war), setelah perang terbuka selama lima minggu melawan Hizbullah tahun 2006. Shadowy war itu berujung pada terbunuhnya pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, Sabtu (28/9/2024).

The New York Times melaporkan pada Sabtu itu bahwa beberapa hari setelah serangan mematikan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, sejumlah pejabat intelijen Israel khawatir akan terjadi serangan serupa yang dilakukan Hizbullah, musuh lama mereka.

- Advertisement -

Mereka bersiap untuk menghentikannya dengan berencana menyerang dan membunuh Hassan Nasrallah, yang diketahui berada di sebuah bunker di Beirut. Israel memberi tahu rencana itu kepada Gedung Putih. Namun, para pejabat AS tidak yakin bahwa serangan Hizbullah akan segera terjadi. Presiden AS, Joe Biden, lalu menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan memberitahunya bahwa membunuh Nasrallah akan memicu perang regional. Karena itu, Biden meminta Netanyahu menahan diri.

Israel mengumumkan bahwa mereka telah membunuh Nasrallah setelah pesawat tempur menjatuhkan lebih dari 80 bom di empat gedung apartemen di Lebanon. Di lokasi itu, Nasrallah selama lebih dari tiga dekade menemui para letnan utamanya. Menurut New York Times, kali ini Biden tidak diberitahu tentang rencana serangan tersebut.

- Advertisement -

Hal yang lebih penting bagi Israel dan AS adalah keberhasilan intelijen Israel dalam melacak lokasi Nasrallah dan menyusup ke lingkaran terdalam Hizbullah. Dalam hitungan minggu, Israel sudah menghancurkan jajaran pimpinan senior dan menengah Hizbullah, serta membuat kelompok itu terguncang.

Operasi Intelijen Israel Setelah Perang Tahun 2006 

New York Times menyebutkan, keberhasilan operasi Israel merupakan dampak langsung dari keputusan negara itu mengerahkan lebih banyak sumber daya intelijen dalam menyasar Hizbullah setelah perang tahun 2006 dengan kelompok yang didukung Iran itu.

Tentara Israel dan badan-badan intelijen negara itu gagal meraih kemenangan telak dalam konflik selama 34 hari tahun 2006, yang berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi PBB. Gencatan senjata itu memungkinkan Hizbullah, meski menderita kerugian besar, membangun diri kembali dan bersiap menghadapi perang berikutnya dengan Israel.

Israel menghabiskan waktu bertahun-tahun setelahnya untuk memperkuat apa yang dianggap sebagai salah satu operasi pengumpulan data intelijen terbaik di dunia. Sebagian besar upaya itu diinvestasikan pada Mossad dan intelijen militer Israel, yang merasa frustrasi setelah perang tahun 2006 karena kekurangan mereka dalam mengumpulkan informasi penting terkait kepemimpinan dan strategi Hizbullah.

Hasilnya, Unit 8200, badan intelijen sinyal (signals intelligence agency, yang bertanggung jawab mengumpulkan dan menganalisis data komunikasi dan sinyal elektronik seperti pesan radio, komunikasi telepon, data internet, atau sinyal radar) Israel, membangun alat siber mutakhir untuk mengintersep ponsel-ponsel Hizbullah dan berbagai jenis komunikasi lainnya dengan lebih baik.

Israel kemudian membentuk tim baru dalam barisan tempur untuk memastikan bahwa informasi berharga yang diperoleh pihak intelijen bisa dengan cepat disampaikan kepada para tentara dan angkatan udara.

- Advertisement -

Israel juga mulai menerbangkan lebih banyak drone dan satelit tercanggihnya di atas Lebanon untuk memotret benteng-benteng Hizbullah dan mendokumentasikan setiap perubahan terkecil pada bangunan-bagunan yang mungkin merupakan gudang-gudang senjata. Menurut New York Times, Unit 8200 dan mitranya dari AS, National Security Agency, telah menjalin hubungan yang lebih kuat, yang memperkaya informasi Pemerintah Israel tentang musuh bersama mereka, seperti Iran dan Hizbullah.

Israel telah memanfaatkan kedekatan jaraknya dengan Lebanon untuk memasukkan pasukan komando rahasia jauh ke dalam wilayah Lebanon guna melakukan misi intelijen yang sensitif. Sumber-sumber New York Times menyebutkan, keberanian Israel dalam melaksanakan operasi-operasi semacam itu telah membedakan mereka dari badan intelijen tradisional yang lebih berhati-hati dalam mengambil risiko dan harus berhadapan dengan berbagai rintangan hukum.

“Mereka memahami bahwa ini telah dan akan menjadi konflik yang berkepanjangan,” kata Chip Usher, mantan analis CIA di Timur Tengah yang telah bekerja sama dengan intelijen Israel kepada New Tork Times. “Mereka mengerahkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang mereka,” tambah dia.

Hizbullah Menderita “Pukulan Keras” 

Agresivitas Israel telah mengakibatkan serangkaian kekalahan memalukan bagi Hizbullah baru-baru ini, meskipun Hizbullah telah bekerja sama dengan Iran untuk meningkatkan kemampuannya dalam melacak mata-mata Israel dan mendeteksi penyusupan elektronik.

Nasrallah mengakui hal itu dalam pidatonya di televisi baru-baru ini sebelum kematiannya. Dia mengatakan, kelompoknya menderita “pukulan keras” setelah Israel meledakkan ribuan pager dan ratusan walkie-talkie yang berisi bahan peledak.

Sejumlah pejabat AS dan Israel mengatakan, investasi Israel dalam pengumpulan data intelijen setelah kegagalan di Lebanon tahun 2006 mulai membuahkan hasil tahun 2008. Mossad, badan intelijen luar negeri Israel, bekerja sama dengan CIA untuk membunuh agen penting Hizbullah, Imad Mugniyah, di Suriah.

Peningkatan fokus Unit 8200 terhadap Hizbullah terus membuahkan hasil pada Januari 2020. Intelijen Israel melihat Jenderal Qassim Suleimani, komandan penting Pasukan Quds Iran, terbang ke Damaskus dan berkonvoi ke Beirut untuk menemui Nasrallah. Israel tidak berupaya membunuh Nasrallah saat itu karena takut akan memulai perang.

Namun, mereka meneruskan informasi itu ke pihak AS, yang kemudian membunuh Suleimani dalam sebuah serangan pesawat tak berawak di Bandara Internasional Baghdad. Juli lalu, Israel menggunakan serangan rudal untuk membunuh Fuad Shukr, komandan senior Hizbullah, saat dia mengunjungi perempuan simpanannya di Beirut. Shukr, orang kepercayaan Nasrallah, juga dicari AS karena perannya dalam serangan bom tahun 1983 yang menewaskan sekitar 300 tentara AS dan Perancis di Beirut.

Pada awal September, pertempuran meluas ke Suriah, di mana Unit 8200 menyediakan informasi untuk serangan Israel terhadap Hizbullah dan pabrik rudal rahasia Iran. Israel sudah begitu dalam berpenetrasi ke telepon seluler Hizbullah sehingga kelompok itu mengambil keputusan beralih ke pager dan radio genggam untuk berkomunikasi.

Israel tahu rencana itu. Mossad pun mulai menyusun rencana untuk mengubah pager dan radio menjadi bom mini. Baca juga: Pemimpin Hamas di Lebanon Tewas Diserang Israel Mossad mendirikan perusahaan cangkang di Budapest, Hongaria, dan membuat pager di bawah lisensi sebuah perusahaan Taiwan.

Sebelum pager-pager tersebut tiba di Lebanon, para agen Israel memasang bahan peledak di dalamnya. Israel meledakkan pager-pager itu pertengahan bulan lalu. Ketika Hizbullah mengetahui radio genggam juga telah disusupi, para pejabat Israel segera meledakkannya juga.

Ledakan tersebut juga menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, dan menyebabkan kepanikan luas di Lebanon. Beberapa hari kemudian Israel membunuh Ibrahim Aqeel, komandan penting Hizbullah, dengan mengebom sebuah apartemen di Beirut tempat dia bertemu dengan para komandan senior lainnya.

Serang Lebanon Israel telah melacak Aqeel saat dia bergerak bolak-balik antara Beirut dan Lebanon selatan. Di Lebanon selatan, Aqeel mengawasi para kombatan Hizbullah dan memeriksa terowongan yang ingin dia gunakan untuk menyerang Israel.

(FHD/Kmp)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini