KNews.id – Jakarta – Harga emas dunia kembali mencetak lonjakan tajam seiring memanasnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian geopolitik mendorong investor global beralih ke aset aman (safe haven), membuat logam mulia menjadi buruan utama dan mengangkat harga ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Senin (2/3/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas dunia tercatat melonjak 1,4% ke level US$5.360,49 per troy ons. Capaian ini menjadi momen penting karena menandai kembalinya harga emas menembus level psikologis US$5.300, untuk pertama kalinya sejak Desember 2025.
Ketegangan Geopolitik Angkat Daya Tarik Safe Haven
Lonjakan harga emas tak bisa dilepaskan dari meningkatnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi geopolitik yang memburuk membuat pasar global kembali berada dalam mode defensif, dengan emas menjadi pilihan utama untuk melindungi nilai aset.
Dalam kondisi seperti ini, emas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang paling stabil. Ketika risiko geopolitik meningkat dan ketidakpastian global membesar, arus dana cenderung meninggalkan aset berisiko dan mengalir ke logam mulia. Emas Cetak Rekor Bulanan, Kinerja Mingguan Menguat
Emas Cetak Rekor Bulanan, Kinerja Mingguan Menguat
Mengutip data Refinitiv, harga emas global sebelumnya ditutup di level US$5.277,29 per troy ons pada perdagangan Jumat (27/2/2026), atau naik 1,74% dalam sehari. Posisi tersebut menjadi level penutupan tertinggi dalam satu bulan terakhir, atau sejak 30 Januari 2026.
Secara mingguan, performa emas tercatat semakin solid dengan penguatan mencapai 3,41%. Tren ini mengonfirmasi bahwa reli emas bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan bagian dari penguatan yang lebih luas di tengah tekanan geopolitik global.
Dampak Langsung ke Pasar Saham Indonesia
Kenaikan harga emas dunia langsung berdampak ke pasar modal domestik. Di Bursa Efek Indonesia, saham-saham emiten emas dan pertambangan logam mulia kompak menguat signifikan pada perdagangan awal pekan.
Investor domestik terlihat agresif mengoleksi saham sektor emas, memanfaatkan momentum lonjakan harga global yang berpotensi meningkatkan pendapatan dan kinerja emiten.
HRTA Pimpin Reli Saham Emas
Penguatan saham sektor emas dipimpin oleh PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Saham HRTA melonjak 5,56% ke level 3.420, menjadi salah satu top gainer di sektor ini.
Tak kalah kuat, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 5,32% ke posisi 1.980, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 5,15% ke level 1.020. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek kinerja emiten emas, seiring membaiknya harga jual komoditas di pasar global.
Daftar Saham Emas yang Menguat
Seiring lonjakan harga emas dunia, berikut daftar saham emiten emas yang mencatatkan penguatan signifikan:
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 5,15% ke level 1.020
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 5,06% ke level 4.570
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 5,32% ke level 1.980
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 4,50% ke level 8.700
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 5,56% ke level 3.420
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 4,55% ke level 575
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 4,00% ke level 3.900
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 0,33% ke level 7.675
- PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 0,79% ke level 28.825
Mayoritas saham tersebut bergerak di zona hijau, menandakan sentimen positif yang cukup merata di sektor emas dan pertambangan.
Konflik AS–Iran Jadi Faktor Penentu
Lonjakan harga emas kali ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika geopolitik global. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran akan gangguan stabilitas kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat kepentingan ekonomi dan energi dunia.
Dalam situasi seperti ini, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai utama. Investor cenderung mengamankan portofolio dari potensi gejolak pasar dengan meningkatkan eksposur ke logam mulia.
Prospek Emas dan Saham Tambang ke Depan
Jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, harga emas berpotensi tetap berada di level tinggi atau bahkan melanjutkan penguatan. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis lanjutan bagi saham-saham emiten emas di BEI.
Namun, investor tetap perlu mencermati volatilitas pasar. Harga emas yang bergerak cepat kerap diikuti aksi ambil untung, baik di pasar komoditas maupun saham.




