KNews.id – Washington, DC 6 Februari 2026 – The Washington Post, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Amerika Serikat, tengah menghadapi ketidakpastian masa depan setelah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar. Kekhawatiran tersebut disampaikan langsung oleh Marty Baron, mantan pemimpin redaksi The Post, yang pernah membawa surat kabar itu meraih 11 Penghargaan Pulitzer dan memperluas ruang redaksi hingga menampung lebih dari 1.000 jurnalis.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Baron menyatakan bahwa arah dan ambisi The Post kini mengalami kemunduran.
“Aspirasi organisasi berita ini telah menurun,” ujar Baron. “Saya pikir hal itu akan berujung pada berkurangnya pelanggan. Dan saya berharap ini bukan awal dari spiral kematian, tetapi saya khawatir itu bisa terjadi.”
Kekhawatiran Baron muncul setelah The Post mengeksekusi salah satu gelombang PHK terbesar dalam sejarah industri surat kabar AS. Matt Murray, yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi, pada Rabu (4/2/2026) menyampaikan kepada para karyawan bahwa perusahaan memiliki rencana untuk bertahan dan berkembang ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan pelaksanaan PHK besar-besaran.
Hampir sepertiga karyawan The Post diberhentikan. Pada akhir 2023, sebelum program pengunduran diri sukarela diterapkan, perusahaan tercatat memiliki sekitar 2.500 karyawan. Dari jumlah tersebut, hampir 800 orang kini kehilangan pekerjaan.
PHK ini berdampak signifikan terhadap berbagai bagian utama surat kabar. Departemen olahraga ditutup sepenuhnya. Tim peliputan berita lokal, gaya hidup, dan internasional mengalami pemangkasan besar. Departemen audio dan video, yang sebelumnya sudah terdampak pemotongan, kembali diperkecil. Selain itu, tim-tim komersial juga mengalami pengurangan staf.
Akibatnya, The Post kini menjadi organisasi berita yang jauh lebih kecil. Banyak jurnalis—baik yang masih bekerja maupun yang telah keluar—khawatir bahwa penyusutan ini akan membuat The Post jauh kurang ambisius. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah tekanan finansial yang melanda industri media serta meningkatnya permusuhan dari Presiden Donald Trump dan para pejabat pemerintahannya.
Trump secara terbuka kerap mengancam jaringan berita dan mendorong lembaga regulasi untuk menindak media yang tidak disukainya. Di tengah periode yang sangat sarat peristiwa dalam sejarah AS, sejumlah organisasi media juga mengalami PHK. CBS News, yang kini dimiliki oleh keluarga Ellison yang dikenal dekat dengan Trump, serta surat kabar Atlanta Journal-Constitution, termasuk di antaranya.
Baron memimpin The Post selama delapan tahun hingga 2021. Dalam memoarnya yang terbit pada 2023, ia menulis secara positif tentang kepemimpinan Jeff Bezos sebagai pemilik surat kabar tersebut. Namun, pandangannya kini berubah.
“Dia bukan lagi pemilik yang seperti dulu,” kata Baron.
Baron menilai perubahan tersebut berkaitan erat dengan terpilihnya kembali Trump pada November 2024. Menurutnya, Bezos kini berupaya menjaga hubungan baik dengan Trump demi melindungi kepentingan bisnis lain yang ia miliki, seperti Amazon dan perusahaan penerbangan antariksa Blue Origin.
Bezos sendiri tetap bungkam dalam beberapa pekan terakhir, meskipun para karyawan The Post memohon agar ia turun tangan untuk mencegah PHK.
“Saya pikir hal terpenting yang berubah adalah Donald Trump kembali ke Gedung Putih dan dia jelas akan mencari balas dendam terhadap musuh politiknya,” tutur Baron. “Saya memahami mengapa Bezos mungkin takut akan konsekuensinya. Saya memahami bahwa ia khawatir Trump akan menolak kontrak untuk Amazon dan Blue Origin.”
“Tetapi The Post juga penting, bahkan jauh lebih penting daripada perusahaan-perusahaan lain itu bagi demokrasi AS. Saya benar-benar yakin bahwa Bezos kini memprioritaskan kepentingan bisnis lainnya dibandingkan The Post.”
Kritik Internal dan Arah Redaksi Baru
Kritik juga diarahkan kepada penerbit The Post, Will Lewis, yang direkrut Bezos pada akhir 2023 untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Lewis tidak hadir dalam pertemuan daring dengan karyawan pada Rabu pagi, sesuatu yang dianggap janggal oleh sebagian staf.
“Dia tak terlihat seperti penerbit. Ketika Anda mengumumkan sesuatu yang begitu traumatis, bukankah seharusnya penerbit hadir dalam panggilan itu?” tanya Baron.
Donald E. Graham, pemilik lama The Post yang menjual surat kabar tersebut kepada Bezos pada 2013, pada Rabu melanggar kebiasaannya untuk tidak mengomentari kepemilikan saat ini. Dalam unggahan Facebook yang dibagikan secara luas, ia menulis, “Ini adalah hari yang buruk. Saya sedih melihat begitu banyak reporter dan editor hebat—serta teman-teman lama—kehilangan pekerjaan. Perhatian utama saya adalah kepada mereka; saya akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu.”
Dalam pertemuan virtual dengan karyawan, Murray menjelaskan bahwa tim peliputan politik dan pemerintahan akan menjadi kelompok terbesar di The Post ke depan. Menurutnya, liputan tersebut akan tetap menjadi pusat keterlibatan pembaca dan pertumbuhan pelanggan. Selain itu, The Post akan terus meliput berita nasional, sains, teknologi, iklim, dan bisnis, meskipun dengan jumlah staf yang lebih kecil.
Persaingan Media, Kehilangan Pelanggan, dan Seruan Penjualan
Sebagai organisasi berita yang kini lebih kecil dan berfokus pada politik, kampanye, serta operasional pemerintahan federal dan pemerintahan Trump, The Post menghadapi persaingan ketat dari media seperti Politico dan Axios, serta pemain baru seperti Punchbowl News.
Jim VandeHei, mantan jurnalis The Post yang keluar pada 2006 untuk mendirikan Politico dan kemudian ikut mendirikan Axios—di mana ia kini menjabat sebagai CEO—mengaku tidak memahami strategi The Post saat ini.
Pada musim gugur 2024, The Post kehilangan ratusan ribu pelanggan setelah Bezos secara tiba-tiba membatalkan rencana dukungan editorial terhadap Kamala Harris dalam Pilpres AS. Ia juga mengubah arah halaman opini dengan membatasi fokusnya pada dukungan terhadap kebebasan individu dan pasar bebas.
Sejumlah pihak khawatir PHK terbaru ini akan memicu gelombang pembatalan langganan baru dan semakin membebani keuangan perusahaan, termasuk biaya pesangon bernilai jutaan dolar.
Robert Allbritton, mantan pemilik Politico, menyatakan kesedihannya atas PHK tersebut, sementara serikat pekerja The Post menyerukan agar Bezos menjual surat kabar itu jika tidak lagi bersedia berinvestasi pada misinya.
Menanggapi wacana tersebut, Baron menutup dengan satu pertanyaan besar: “Namun, kepada siapa?”




