spot_img
Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
spot_img

Ekonomi Tumbuh, Orang Kaya Bertambah, Mengapa Cari Kerja Justru Makin Sulit?

KNews.id – Jakarta – Di tengah berita pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya jumlah orang kaya, banyak masyarakat justru merasakan kenyataan yang berlawanan: mencari pekerjaan semakin sulit.

Kontradiksi ini menimbulkan pertanyaan mendasar “jika ekonomi tumbuh dan kekayaan meningkat, mengapa lapangan kerja tidak ikut meluas?” Jawabannya terletak bukan pada seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi di sektor mana pertumbuhan itu terjadi.

- Advertisement -

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh sektor ekstraktif seperti pertambangan, energi, dan komoditas primer. Sektor ini memang mampu menghasilkan nilai ekonomi besar dalam waktu relatif singkat, terutama ketika harga global sedang tinggi. Keuntungan yang dihasilkan pun signifikan, bahkan mampu melahirkan kelompok orang sangat kaya baru.

Namun, sektor ekstraktif memiliki satu karakter utama: penyerapan tenaga kerjanya terbatas. Investasi besar lebih banyak terserap pada mesin, teknologi, dan modal, bukan pada tenaga kerja.

- Advertisement -

Nilai tambah yang dihasilkan juga terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha dan wilayah tertentu, sehingga manfaatnya tidak menyebar luas ke masyarakat. Inilah sebabnya mengapa jumlah orang kaya bisa bertambah, sementara peluang kerja bagi masyarakat luas tidak mengalami peningkatan berarti.

Di sisi lain, sektor yang secara historis paling efektif menciptakan lapangan kerja massal—yakni industri manufaktur—justru mengalami tekanan serius. Indonesia menghadapi gejala deindustrialisasi dini, ketika kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian melemah sebelum negara ini benar-benar matang sebagai negara industri.

Industri manufaktur bersifat inklusif. Ia menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dari lulusan pendidikan dasar hingga tenaga terampil, menciptakan rantai nilai yang panjang, dan menumbuhkan usaha kecil–menengah di sekitarnya. Ketika sektor ini melemah, dampaknya langsung terasa pada pasar kerja.

Banyak pabrik tidak tumbuh, relokasi industri terjadi, dan investasi baru lebih memilih sektor yang padat modal namun minim tenaga kerja. Akibatnya, kesempatan kerja menyempit meskipun angka pertumbuhan ekonomi terlihat stabil.

Kekayaan Tumbuh, Kesempatan Menyusut

Kombinasi antara menguatnya sektor ekstraktif dan melemahnya sektor industri menciptakan struktur ekonomi yang timpang. Kekayaan tumbuh, tetapi terkonsentrasi. Lapangan kerja tidak hilang sepenuhnya, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.

- Advertisement -

Dalam struktur ekonomi seperti ini, wajar jika muncul paradoks: statistik menunjukkan peningkatan jumlah orang kaya, sementara masyarakat luas merasakan tekanan ekonomi dan persaingan kerja yang semakin ketat.

Masalahnya bukan semata kurangnya lapangan kerja, melainkan hilangnya sektor yang mampu menyerap tenaga kerja secara masif dan berkelanjutan.

Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial. Pengangguran dan setengah menganggur meningkat, mobilitas sosial terhambat, dan ketimpangan semakin melebar. Bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan justru berpotensi berubah menjadi beban.

Pertumbuhan yang tidak inklusif akan selalu menciptakan ketegangan sosial, karena sebagian kecil menikmati hasil ekonomi, sementara mayoritas berjuang untuk sekadar mendapatkan pekerjaan layak.

Mengubah Arah Pertumbuhan

Solusi dari paradoks ini bukan menolak sektor ekstraktif, melainkan menyeimbangkan kembali arah pembangunan. Sektor ekstraktif perlu dikelola agar memberikan nilai tambah lebih besar di dalam negeri, sementara sektor industri manufaktur harus kembali ditempatkan sebagai tulang punggung penciptaan kerja.

Tanpa kebijakan yang secara sadar mendorong industrialisasi yang inklusif, pertumbuhan ekonomi akan terus mencetak orang kaya baru, tetapi gagal menjawab kebutuhan dasar masyarakat akan pekerjaan.

Bertambahnya orang kaya di tengah sulitnya mencari kerja bukanlah anomali, melainkan cerminan dari struktur ekonomi yang timpang.

Ketika pertumbuhan lebih banyak ditopang sektor ekstraktif yang minim penyerapan tenaga kerja, dan sektor industri yang inklusif justru melemah, maka pertumbuhan tidak lagi identik dengan kesejahteraan bersama.

Pertanyaan ke depan bukan lagi apakah ekonomi tumbuh, tetapi untuk siapa ekonomi itu tumbuh. Jika jawabannya hanya untuk segelintir, maka sulitnya mencari kerja akan tetap menjadi kenyataan bagi banyak orang, meskipun angka pertumbuhan terus bergerak naik.

(NS/KMP)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini